Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kuliner

Makanan Pedas kan Bahaya untuk Kesehatan, kok Pada Suka sih?

Taufik oleh Taufik
10 Februari 2022
A A
Makanan Pedas kan Bahaya untuk Kesehatan, kok Pada Suka sih?

Makanan Pedas kan Bahaya untuk Kesehatan, kok Pada Suka sih? (pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pada suatu waktu, teman saya yang kebetulan pegiat makanan dan dunia kuliner, berujar sesuatu kepada saya. “Orang-orang kenapa dah suka banget makanan pedas?” Belum selesai kaget saya, si teman ini melanjutkan lagi, “Makanan pedas itu menghilangkan esensi rasa dari makanan itu sendiri”.

Sebelum dia melanjutkan, saya segera memotong untuk mengiyakan apa yang si teman tadi katakan. “Ya emang kan? Bukannya makan terlalu pedas justru membuat lidah kita kehilangan sensitivitas untuk rasa yang lain?” Saya nyerocos saja seenak jidat.

Sebagai manusia yang butuh makan, saya juga makan. Dan bisa dibilang saya menyukai pedas sejak saya kecil. Salah satunya karena abang saya yang pernah merantau ke daerah Maluku Utara membawa budaya makanan pedas dari sana. Akibat dari asimilasi budaya makanan pedas itu, akhirnya orang-orang di keluarga saya ikutan menjadi penyuka makanan pedas.

Saya bahkan sempat sangat tergila-gila dengan makanan pedas. Pernah pada suatu waktu, kami membuat ikan bakar. Lalu sebagai pelengkapnya, kami bikinkan dabu-dabu, sambal khas orang-orang Timur. Yang unik dari sambal pelengkap itu justru ada pada cabe yang kami gunakan. Percaya tidak percaya, sambal dabu-dabu itu kami beri cabe 1/4 kg.

Tebak apa yang terjadi dengan rasa dabu-dabu tersebut? Pedas level maksimal. Bahkan menyantap minyak sambal di bagian pinggir saja sudah bisa bikin lidah mati rasa.

Ketika saya merantau ke Tanah Jawa, saya seakan masuk ke surganya dunia kuliner. Di sana-sini segala bentuk makanan harus ada sambalnya, dan harus pedas. Saya terbiasa dengan makanan pedas ini hampir selama dua tahun. Tapi, semua berubah setelah itu.

Pengetahuan tentang dunia yang senang-senang ternyata selalu berbanding terbalik dengan kesehatan. Semakin senang kita dengan satu jenis makanan, semakin kesehatan kita terancam. Ketika minum alkohol sedikit, bisalah buat mata melek atau sekedar panas-panas badan. Tapi, jika minum alkohol dalam jumlah yang banyak, mabuk yang kita dapat. Belum lagi jika itu dilakukan secara terus menerus, kesehatan kita akan ikut-ikutan terganggu.

Hal yang sama tentu saja berlaku juga kepada dunia makanan. Makan sedikit mungkin hanya sekedar mengisi perut kosong. Ketika makan banyak, perut jadi membengkak. Jika dilakukan secara terus menerus, perut akan menjadi segede galon.

Baca Juga:

Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

Jadi sudah mulai bisa dilihat kan arahnya? Makan dengan level pedas sedikit, boleh lah ya. Tapi, jika pedasnya sudah bikin bergetar, itu makan atau lagi debus lambung?

Benar apa kata teman saya di awal tadi, rasa sedap makanan hilang tertimpa pedas. Bahkan enaknya makanan tidak lagi kita rasakan. Yang ada justru kita seperti makan cabe, bukan menikmati makanannya. Nikmatnya makanan kita terganti dengan bunyi “sh-sh-sh” sebagai respon mulut atas pedasnya makanan.

Tapi nih tapi, masih ada juga yang bilang, enak ya makanannya? Oh, hellloww. Menurut ngana, makanan itu yang dicari apanya? Enaknya atau pedasnya? Gini lho gini, misal kita mau makan mi nih ya, itu yang dicari rasa minya atau rasa cabenya?

Lagian, maaf maaf aja nih ya. Makanan pedas punya dampak buruk untuk kesehatan. Sama halnya kek makanan yang berlebihan tadi. Mulai dari nyeri perut, maag akut, sampai insomnia bisa jadi penyebabnya adalah makanan pedas yang kita konsumsi setiap hari. Belum lagi penyakit-penyakit lainnya.

Sedikit cerita tambahan, saya mengakhiri karier saya di dunia makanan pedas karena banyak faktor. Salah satunya, dua atau tiga teman saya mengalami penyakit pencernaan bahkan sampai operasi karena makanan pedas. Paling tidak itu keterangan dari dokter saat mendiagnosis mereka. Dan sebagai orang yang tidak terlalu suka ambil risiko, terutama soal kesehatan, ya saya menghentikan kegiatan makan pedas saya dong.

Saya mikir, makan pedas sudah menyerang sampai sejauh itu ternyata. Bukan lagi sekedar “sh-sh-sh”. Konyol aja kalau keinginan makan makanan yang harga atau bikinnya tidak seberapa, malah akibatnya masuk rumah sakit bahkan sampai harus dioperasi. Sudahlah makannya tidak nyaman karena kepedasan, malah harus keluar biaya banyak karena penyakit yang menggerogoti setelahnya. Ya saya semacam nggak rela aja gitu.

Apa saya melarang kalian makan makanan pedas? Nggak juga sih, tapi, pikir lagi risikonya. Atau, takar kemampuan kalian. Makan itu bukan kontes, tapi kebutuhan. Kan nggak lucu juga kalian operasi karena ayam geprek kalian kebanyakan cabe.

Penulis: Taufik
Editor: Rizky Prasetya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Februari 2022 oleh

Tags: Cabemakanan pedas
Taufik

Taufik

Ide adalah ledakan!

ArtikelTerkait

Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis terminal mojok

Mengenal Ragam Makanan Khas Pulau Lombok yang Lombok Abis

24 Juni 2021
Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

Review Wizzmie Surabaya, Saingan Mie Gacoan di Jagat Kuliner Mie Pedas

31 Oktober 2023
Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

Derita Orang yang Tidak Bisa Makan Pedas di Indonesia: Jadi Golongan Minoritas dan Kadang Kena Ranjau Tak Terduga

25 Agustus 2025
Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

Level Pedas Orang Indonesia Memang Tingkat Dewa, Bahkan Naga pun Belajar Mengeluarkan Api dari Orang Indonesia

9 Agustus 2024
Alasan Makan Makanan Pedas Saat Kencan Pertama Nggak Dianjurkan

Alasan Makan Makanan Pedas Saat Kencan Pertama Nggak Dianjurkan

15 Maret 2023
Harga Cabai Selangit, Lombok Kresek Adalah Jalan Ninja agar Tetap Bisa Merasakan Sensasi Pedas terminal mojok

Harga Cabai Selangit, Lombok Kresek Adalah Jalan Ninja agar Tetap Bisa Merasakan Sensasi Pedas

3 April 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada Mojok.co

Pengalaman Bertahun-tahun Naik Honda Revo, Motor Paling Nggak Ribet dan Tahan Banting yang Pernah Ada

21 Februari 2026
Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

Perjalanan ke Pati Lewat Pantura Bikin Heran: Kudus Sudah Mulus, Demak Masih Penuh Lubang

26 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026
6 Dosa Penjual Jus Buah- Ancam Kesehatan Pembeli demi Cuan (Unsplash)

6 Dosa Penjual Jus Buah yang Sebetulnya Menipu dan Merugikan Kesehatan para Pembeli Semata demi Cuan

26 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Pulang ke Lembata NTT Setelah Lama Merantau di Jawa, Kaget karena Kampung Halaman Banyak Berubah Mojok.co

Momen Pulang ke Lembata NTT Setelah Sekian Lama Merantau di Jawa Diliputi Rasa Kaget, Kampung Halaman Banyak Berubah

25 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria
  • Derita Jadi Orang Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental
  • Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros
  • Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri
  • Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO
  • Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.