Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi Mojok.co

Mahasiswa yang Kuliah Sambil Kerja Adalah Petarung Sesungguhnya, Layak Diapresiasi (unsplash.com)

Belum lama ini Terminal Mojok mengangkat tulisan berjudul Mahasiswa Kelas Karyawan Adalah Ras Terkuat di Bumi: Pagi Dimaki Bos, Malam Dihajar Dosen, Hari Minggu Tetap Masuk. Karyawan yang melanjutkan studi memang patut diapresiasi. Namun, saya pikir, ada kelompok lain yang lebih pantas menyandang “terkuat di bumi” yakni mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. 

Beda lho antara mahasiswa nyambi bekerja dengan karyawan yang melanjutkan studi. Keduanya memang punya kewajiban lain di samping kuliah. Namun, untuk mahasiswa nyambi bekerja, saya rasa posisinya lebih susah. Di perkuliahan pada umumnya mereka tidak punya privilese seperti bisa masuk kelas malam, ada kuliah online, dan banyak hal lain. Sementara kondisi ekonominya biasanya lebih rentan karena belum punya pekerjaan mapan maupun karier yang matang. 

Berbeda dengan mahasiswa kelas karyawan. Kebanyakan dari mereka adalah karyawan yang sudah punya karier, pekerjaan mapan, atau kondisi ekonomi yang baik. Kuliah mereka juga memungkinkan disesuaikan dengan pekerjaan karena mengambil program kelas karyawan. 

Baca juga Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang.

Kuliah sambil kerja karena tidak punya pilihan

Bisa kuliah adalah privilese. Tidak semua orang bisa sampai di tahap ini. Namun, yang sering luput disadari, banyak mereka yang sudah kuliah pun berada di posisi yang sulit. Di balik cerita mahasiswa yang sibuk organisasi, healing tipis-tipis, dan ngopi cantik selepas kelas, ada mahasiswa lain yang harus menghitung ulang setiap pengeluaran. Mereka menunda kesenangan dan memilih bekerja untuk dapat tambahan uang demi bisa melanjutkan hidup. 

Mereka sedang bertahan. Keterbatasan biaya memaksa mereka mencari celah agar pendidikan tetap jalan tanpa harus terus-menerus membebani orang tua. Kerjanya pun sering kali jauh dari kata ideal, dari jaga konter, melayani pelanggan, ngojek, sampai kerja serabutan yang penting halal dan tidak bikin malu. Bukan demi foya-foya, tapi minimal agar uang jajan aman dan kebutuhan dasar terpenuhi.

Kerja apa saja demi bisa hidup

Jenis pekerjaan yang dipilih biasanya tidak jauh-jauh dari dunia part time. Mulai dari jaga kafe, bantu di toko, jadi barista dadakan, kasir minimarket, hingga jaga rental PlayStation. Itu baru contoh kecil. Di balik kesannya yang santai, pekerjaan-pekerjaan ini punya tanggung jawab yang tidak main-main. Datang telat bisa dipotong, salah hitung bisa ganti rugi, dan salah sikap sedikit saja bisa berurusan dengan pelanggan yang mood-nya sensitif.

Soal bayaran, jangan dibayangkan muluk-muluk. Umumnya mahasiswa part time dibayar sekitar 50 ribu rupiah per shift, dengan durasi kerja empat sampai enam jam. Angka yang kalau dibagi per jam rasanya lebih cocok disebut uang lelah daripada upah layak. Tapi, ya itu tadi, tetap harus dijalani. Tugas kuliah  menumpuk, deadline tidak kenal belas kasihan, dan kelas pengganti yang mendadak pun sudah jadi makanan sehari-hari. 

Beruntungnya, tidak semua pekerjaan mengharuskan fisik turun langsung ke lapangan. Ada juga mahasiswa yang kerja sambil duduk menatap layar laptop, jadi admin media sosial, customer service, atau operator chat yang hidupnya di antara notifikasi dan balasan cepat. Capek iya, pusing iya, senang iya, repot iya. Tapi dari situ juga muncul rasa bangga kecil karena bisa bertahan. Mereka ini mungkin jarang pamer kesibukan, tapi kalau bicara soal daya tahan, mahasiswa pekerja jelas bukan kaleng-kaleng.

Baca juga Derita Mahasiswa yang (Sok-sokan) Kerja Part Time, Baru Kerja Sehari Langsung Mundur Teratur.

Jadi bahan refleksi bersama

Pada titik ini, kita juga perlu jujur mengakui bahwa realitas mahasiswa yang harus bekerja sambil kuliah lepas dari mahalnya biaya pendidikan tinggi. UKT, uang praktikum, buku, hingga biaya hidup harian bukan. Itu semua bukan kebetulan. Itu semua muncul dari keputusan-keputusan politik yang dirumuskan negara. 

Pendidikan tinggi hari ini masih kerap diperlakukan sebagai investasi personal, bukan tanggung jawab kolektif. Akibatnya, kelas menengah dan kelas bawah dipaksa kreatif bertahan. Salah satunya dengan bekerja sambil kuliah, meski konsekuensinya waktu istirahat terkikis dan fokus akademik sering terbelah.

Padahal, kalau negara benar-benar menempatkan pendidikan sebagai hak, bukan sekadar fasilitas, dukungan terhadap mahasiswa semestinya lebih diperhatikan. Bantuan biaya hidup, subsidi pendidikan yang tepat sasaran, dan kebijakan kampus yang ramah mahasiswa pekerja bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. 

Tujuannya bukan memanjakan, tapi memastikan mahasiswa bisa belajar dengan utuh. Mereka tidak perlu terus-menerus bernegosiasi antara nilai akademik dan isi dompet. Dan, seharusnya, di negeri yang mengaku menjunjung pendidikan, bertahan tidak perlu selalu sesulit ini.

Penulis: Azzhafir Nayottama Abdillah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Jangan Kuliah S2 Tanpa Rencana Matang, Bisa-bisa Ijazah Kalian Overqualified dan Akhirnya Menyesal.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version