Mahasiswa Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang

Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang Mojok.co

Orang Madura Serasa “Tamu” di Universitas Trunojoyo Madura, Mahasiswa hingga Dosen Isinya Pendatang (unsplash.com)

Saya baru saja selesai membaca artikel berjudul Derita Mahasiswa Asal Madura yang Serius Kuliah di Surabaya, Terjebak Stereotipe dan Kerap Jadi Sasaran Dark Jokes di Terminal Mojok. Tulisan itu berisi curhatan pengalaman penulis yang asli Madura berkuliah di Surabaya. Menurut ceritanya, tidak mudah memang, terlebih bagi banyak mahasiswa Madura yang rela merantau ke Surabaya untuk serius kuliah. 

Sejujurnya, sebagai orang Madura yang kuliah di Pulau Madura, saya juga hampir merasakan hal yang sama, kok. Nggak ada bedanya. Padahal, saya tumbuh dan berasal dari pulau ini, kuliah juga di pulau ini, kok bisa merasakan hal seperti itu?

Baca juga Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater.

Sebagian besar mahasiswa berasal dari luar Pulau Madura

Saat pertama kali masuk ke kampus Universitas Trunojoyo Madura, saya merasa kaget. Ternyata, yang kuliah di kampus ini bukan hanya orang Madura saja. Ada banyak mahasiswa yang berasal dari luar pulau. Bahkan, ada yang jauh-jauh dari Bali dan Papua sana. Semuanya berkumpul di kampus negeri pertama di Pulau Madura ini.

Saat masuk ke kelas dan pertama kali berkenalan dengan teman-teman yang lain, saya menyadari bahwa sebagian besar teman-teman saya nggak berbicara bahasa Madura. Mereka berbicara menggunakan bahasa Jawa yang hanya sebagian kecil saya mengerti. Bahkan, saya menyadari bahwa 3/4 mahasiswa di kelas saya justru bukanlah orang Madura. Alhasil, bahasa Madura semakin jarang saya dengar di sekitar kampus.

Fenomena ini saya sadari terjadi karena Universitas Trunojoyo Madura memang termasuk kampus yang menawarkan UKT murah dan biaya hidup relatif lebih manusiawi daripada kampus-kampus di Jawa Timur lainnya. Makanya, banyak mahasiswa yang memutuskan kuliah di sini meskipun dari pengakuannya nggak pernah sama sekali menginjakkan kaki di Madura.

Faktor lain yang membuat jumlah orang Madura tidak banyak kuliah di Universitas Trunojoyo karena kebanyakan warlok memilih merantau, kuliah di luar. Mereka mencari peruntungan dan pendidikan yang lebih baik dari pada yang ditawarkan oleh kampus-kampus di Madura ini.

Alhasil, kampus tempat saya kuliah justru lebih banyak diisi orang-orang luar Madura. Hal ini bikin saya jarang mengobrol pakai bahasa Madura karena kekurangan teman sesama Madura.

Dosen dan tenaga pendidik bukan asli orang Madura

Selain mahasiswanya yang kebanyakan bukan warlok, dosen dan tenaga pendidik lainnya juga lebih banyak orang luar Madura. Di prodi saya saja, saat itu hanya terdapat satu orang dosen yang berasal dari Madura. Selebihnya adalah para perantau.

Saya nggak tahu apakah itu bentuk diskriminasi atau memang orang-orang Madura kurang kompeten di bidang ini. Namun, saya tetap saja merasa sedih karena kampus yang ada di Madura justru malah kekurangan orang Madura.

Baca juga Tak Ada yang Lebih Menyedihkan ketimbang Hidup Gen Z Madura, Generasi yang Tumbuh Tanpa Peran Orang Tua tapi Harus Tetap Tahan Banting Saat Dewasa.

Terbentuk kelompok yang mengkotak-kotakkan interaksi sosial mahasiswa

Akibat paling fatal yang saya rasakan dengan minimnya orang Madura di kampus Madura ini adalah terbentuknya kelompok yang mengkotak-kotakkan interaksi sosial mahasiswa. Masih teringat dengan jelas dalam ingatan, bagaimana awal-awal perkuliahan berlangsung dan dosen menyuruh mahasiswa baru membentuk kelompok sendiri. Saya merasa kebingungan karena kekurangan anggota kelompok.

Sebagian besar teman saya yang berasal dari luar Madura membentuk kelompoknya sendiri, seolah menolak orang dari luar komunitasnya untuk bergabung. Hal ini cukup berlangsung lama hingga semester satu berakhir.

Selain itu, beberapa kali dark jokes dan sindiran seputar Madura kerap dilontarkan secara eksplisit. Guyonan tersebut bikin saya dan teman-teman dari Madura lainnya merasa tersindir dan nggak nyaman. Teman saya bahkan sampai pernah nyeletuk begini saking kesalnya, “kalau kalian nggak suka sama Madura, mending nggak usah kuliah di sini.” Aduh, sakit hati banget deh, kalau ingat masa awal-awal kuliah dulu.

Semua pengalaman tadi membuat saya merasa asing kuliah di kampung yang berlokasi di Pulau Madura. Malang betul nasib mahasiswa Madura, mau di tanah sendiri, mau merantau, sama-sama merasa seperti “tamu”.

Penulis: Siti Halwah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Urus KTP di Bangkalan Madura Ternyata Tidak Menjengkelkan seperti yang Dikira.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version