Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Media Sosial

Lomba Gratisan di Instagram Sukses Bikin Saya Jadi Manusia yang Emosian

Adhitiya Prasta Pratama oleh Adhitiya Prasta Pratama
20 Agustus 2021
A A
Lomba Gratisan di Instagram Sukses Membuat Saya Jadi Manusia yang Emosian
Share on FacebookShare on Twitter

Untuk menambah pengalaman, minggu lalu saya mencoba mengikuti lomba cipta puisi gratis di Instagram. Hadiahnya memang cukup menarik, dan saya antusias dengan itu. Namun, semua itu sirna ketika saya mengikuti persyaratannya langkah demi langkah. Saya pun memutuskan untuk menyesali keikutsertaan saya.

Menjadi mahasiswa yang dituntut banyak pengalaman, mengikuti berbagai ajang perlombaan tentu diharuskan. Kalau bisa dibilang, perlombaan dalam perkuliahan itu hukumnya fardhu ‘ain. Setiap orang harus ikut, jika nggak, eksistensi dan esensi kemahasiswaanya harus dipertanyakan.

Hal itu pun menyulut rasa semangat saya untuk mengikuti lomba yang ada di media sosial, Instagram contohnya. Beberapa kali scrolling di beranda, saya menemukan banyak event lomba yang menarik. Mulai dari karya tulis ilmiah, membuat poster, fotografi, video pendek, bahkan sampai lomba yang paling sederhana seperti cipta puisi pun ada.

Bagi saya, mengikuti lomba tentu harus memasukkan sedikit prinsip ekonomi. Ya, setidaknya saya bisa mengeluarkan modal seirit-iritnya guna mendapatkan hadiah yang sebanyak-banyaknya. Maklum mahasiswa, kan, kebanyakan adalah pengacara (((pengangguran banyak acara))), seperti saya ini.

Dari sekian banyak lomba tersebut, akhirnya saya memilih lomba cipta puisi gratis. Sebab, dari beberapa lomba yang saya temui sebelumnya, tampaknya lomba cipta puisi adalah lomba yang paling santuy dan gampang dibuat. Berbeda dengan lomba-lomba lainnya yang memerlukan banyak effort.

Nah, guna menjadi peserta dalam perlombaan gratis tersebut, saya akhirnya mengikuti persyaratan-persyaratannya. Alangkah syoknya saya ketika persyaratan yang saya ikuti nyatanya sangat njelimet dan ruwet. Serta, sukses membuat saya naik pitam. Berikut ini ulasannya.

#1 Peserta harus follow akun penyelenggara lomba

Poin pertama yang saya temui adalah perintah untuk mengikuti (follow) akun-akun media sosial penyelenggara. Mulai dari ketua pelaksana, sponsor, bahkan akun-akun panitianya sendiri. Saya, kan, bingung. Kenapa saya harus mengikuti akun-akun sebanyak ini? Seharusnya, kan, suruh mengisi formulir atau apa gitu. Bahkan, saya kadang sampai mikir, “Bener, sih, gratis, tapi kenapa malah nyusahin saya gini? Tolong!”

Dengan keadaan terpaksa, saya pun akhirnya mengeklik satu per satu rekomendasi akun medsosnya. Ada yang akunnya dobel (akun bisnis dan pribadi), ada yang akunnya nyabang dari akun part A sampai akun part Z, bahkan yang paling nggatheli adalah akun sponsor yang banyaknya minta ampun.

Baca Juga:

3 Barang dan Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Instagram, Salah Satunya Jasa Detektif Kasus Perselingkuhan

4 Hal yang Sebaiknya Instagram Lakukan daripada Hapus Fitur Archive

Misalnya, dari akun sponsor yang terkait, seperti akun penerbit, maupun akun sponsor yang nggak ada hubungannya sama sekali, seperti akun PT semen. Coba bayangin, lomba cipta puisi pakai sponsor semen tuh ngapain? Supaya bait-bait puisi saya kokoh gitu?

#2 Peserta harus membagikan pamflet ke berbagai macam ruang medsosnya

Selain itu, yang paling menyebalkan lagi adalah persyaratan membagikan pamflet ke berbagai macam grup media sosial, khususnya WhatsApp. Biasanya, setiap peserta diwajibkan untuk membagikan ke lima grup chat atau paling nggak ke sepuluh temannya secara personal.

Bagi saya, hal itu nggak apa-apa. Tapi, yang jadi masalah, teman-teman saya merasa terganggu. Pasalnya, di grup chat WA saya isinya ya teman yang itu-itu saja. Bagaimana tidak, ada grup mata kuliah, grup angkatan, grup kelas, grup kelompok, sampai grup gibah pun isinya sama. Malahan, kata teman-teman saya, pamflet yang saya share itu menuh-menuhin isi chat saja. Saya, kan, jadi bingung.

#3 Peserta wajib posting ini dan itu

Belum cukup sampai di situ, persyaratan selanjutnya juga nggak kalah menyebalkan. Bagi peserta yang ingin mendaftar, biasanya harus mengunggah twibbon dengan takarir yang telah ditentukan panitia.

Hal ini tentu sangat mengganggu keestetikan feed Instagram saya. Sebab, feed yang sudah saya tata rapi bak feed instagram Fiersa Besari, kini malah dihiasi oleh gambar twibbon yang sama sekali nggak estetik blasss. Tapi, mau gimana lagi, guna memenuhi persyaratan, dengan berat hati saya harus merelakan tampilan estetik feed instagram saya. Hasilnya, feed saya saat ini malah terlihat amburadul dan blas ra mashok.

#4 Peserta harus mention akun medsos teman-temannya di kolom komentar

Kelihatannya lomba gratis, nyatanya harus saya bayar cukup mahal. Memang, sih, nggak bayar lewat uang, tapi dengan memenuhi persyaratan tersebut, sejatinya kita bayar lewat usaha dan tenaga.

Menengok pengalaman saya di persyaratan sebelumnya, saya nggak mau lagi disemprot teman-teman saya karena share atau mention sembarangan. Hasilnya, demi menghindari itu, saya membuat banyak akun di Instagram. Yah, ada enam lah kira-kira. Bukannya bermaksud menjadi pengepul akun bodong atau apa, tapi njagani event seperti ini. Supaya nanti kalau ada persyaratan suruh nge-tag atau mention teman-teman saya, mereka nggak mangkel. Pasalnya, saya sudah kapok! Suwer, deh.

#5 Setelah semuanya selesai, peserta harus konfirmasi melalui admin/CP yang absurdnya naudzubillah

Terakhir, ini mungkin menjadi bagian yang sangat-sangat menyebalkan bagi saya. Lebih jauh lagi, setelah ruwet dengan persyaratan-persyaratan sebelumnya, saya disuruh mengumpulkan bukti-bukti itu ke seorang CP atau admin pendaftaran. Mulai dari barang bukti tangkap layar follow, share pamflet, mention, dan posting sekaligus.

Di samping itu, yang jadi masalahnya adalah CP atau adminnya kadang-kadang nggatheli. Mulai dari slow respons, syaratnya kurang, alasan penuh, ada syarat tambahan, dan segala macam. Sampai-sampai terbesit niatan untuk nggak jadi ikutan lomba Instagram itu. Tapi, kalau dipikir-pikir eman, sebab saya sudah melakukan berbagai lika-liku persyaratan yang super duper ruwet itu.

Nah, pesan saya untuk pihak penyelenggara lomba “gratis” di Instagram ini, niat Anda sangat mulia dan patut saya acungi jempol. Pasalnya, Anda secara nggak langsung membantu kaum-kaum ODP (Ora Duwe Penghasilan) seperti saya ini untuk terus kreatif dan berkarya. Tapi, mbok ya dimudahkan gitu, lho, syarat-syaratnya.

Kadang, mahasiswa seperti saya nggak jadi ikut lomba bukan karena lombanya susah, tapi kaget lihat persyaratan yang bikin puyeng kepala kita. Masa iya galeri foto saya isinya full tangkap layar persyaratan semua.

Meski begitu, permasalahan ini saya rasa dapat disimpulkan dengan hikmat. Bahwa di dunia ini semuanya nggak ada yang gratis, tis, tis, tis. Kalaupun ada, ya seperti ini, kita digiring ke jalan yang penuh lika dan liku, serta ruwetnya bikin emosi. Sampai-sampai, kita punya niatan untuk kembali dan nggak jadi mengikutinya.

BACA JUGA Cara Menang Giveaway di Instagram yang Paling Ampuh dan tulisan Adhitiya Prasta Pratama lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: instagramlomba
Adhitiya Prasta Pratama

Adhitiya Prasta Pratama

Seorang mahasiswa yang hobi baca apa aja di depannya.

ArtikelTerkait

Nggak Ada Larangan Punya Lebih Banyak Following di Akun Instagram terminal mojok.co

Nggak Ada Larangan Punya Lebih Banyak Following di Akun Instagram

3 Januari 2021
Metode Danusan dengan Paid Promote Itu Problematik, Udah Gitu Promosi Akun Penipuan Lagi, Agent of Change kok Goblok! instagram

Metode Danusan dengan Paid Promote Itu Problematik, Udah Gitu Promosi Akun Penipuan Lagi, Agent of Change kok Goblok!

21 Maret 2024
Kasta Media Sosial Itu Semu, Berhenti Berdebat Soal Siapa yang Paling Asyik terminal mojok.co TikTok alay Twitter darkjokes

Facebook dan 3 Stigma yang Dilekatkan kepada Anak Muda yang Masih Menggunakannya

30 Juni 2020
instagram stories

Instagram Stories itu Nyebelin

10 Juli 2019
ritual cekrek upload

Makan Terasa Hambar Tanpa Ritual Cekrek-Upload

20 September 2019
fleet Mereka yang Pura-pura Cari Penjual Netflix di Twitter Itu Menganggu Banget terminal mojok.co

3 Fitur ini Lebih Dibutuhkan Twitter daripada Fleet

29 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

Tanda-tanda Rumah Jamet Madura, Pasti Bising dan Jadi Titik Kumpul Satria FU

27 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot Mojok.co

4 Ulah Menyebalkan Dosen Penguji Skripsi. Tidak Killer, tapi Bikin Mahasiswanya Repot

1 Mei 2026
3 Kebiasaan yang Harus Kamu Lakukan kalau Mau Selamat Kuliah di Jurusan Ilmu Politik

Penghapusan Jurusan Kuliah yang Tak Relevan dengan Industri Itu Konyol, kayak Nggak Ada Solusi Lain Aja

26 April 2026
Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja Mojok.co

Sudah Selayaknya Tegal Masuk dalam 10 Besar Kota Paling Toleran, Bukan Jogja

26 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing
  • Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 
  • Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik
  • Nikah di Desa Meresahkan, Perkara Undangan Cetak atau Digital Saja Jadi Masalah tapi Kemudian Sadar Nggak Semua Orang Melek Teknologi
  • Latihan Lawan Pria dan Mentalitas Tak Kenal Puas Jadi Resep Rahasia Tim Putri Ubaya Dominasi Campus League 2026 Regional Surabaya
  • Kos Dekat Kampus: Akal-akalan Mahasiswa “Malas” agar Tak Perlu Bangun Pagi dan Bisa Berangkat Mepet

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.