Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Logat Tegal Bukan Produk Hiburan, Jadi Tolong Jangan Olok-Olok Kami ketika Lagi Ngobrolin Hal-Hal Serius!

Abdullah Azzam Al Mujahid oleh Abdullah Azzam Al Mujahid
3 November 2025
A A
Logat Tegal Bukan Produk Hiburan, Jadi Tolong Jangan Olok-Olok Kami ketika Lagi Ngobrolin Hal-Hal Serius!

Logat Tegal Bukan Produk Hiburan, Jadi Tolong Jangan Olok-Olok Kami ketika Lagi Ngobrolin Hal-Hal Serius! (Apan Upen via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Logat ngapak Tegal bukan bahan becandaan, tolong hormati kami para penuturnya dan jangan jadikan kami pusat guyonan

Saya berasal dari Tegal, dan sebagaimana pemuda Tegal pada umumnya, saya merantau ke luar kota untuk menimba ilmu. Selama satu tahun lebih merantau, saya seolah sedang menjalani kehidupan sebagai komika stand up komedi.

Padahal, saya nggak punya latar belakang sebagai orang yang jago membuat lelucon, tampang saya pun selalu serius, beda jauh dengan para komika ulung dalam acara lucu-lucuan di televisi. Namun masalah mulai datang ketika saya mulai berbicara. Orang-orang yang berada di dekat saya langsung meniru logat saya sambil tertawa. Bahkan tak jarang mereka meminta saya mengulangi kata-katanya.

Ini bukan soal saya orangnya baperan atau bagaimana. Tapi ini soal reduksi identitas. Ketika saya lagi pengin berbicara hal-hal serius, yang seharusnya ditanggapi dengan serius juga, kenyataan yang ada malah membuat saya merasa dirinya menjadi seorang komika dadakan yang melawak tanpa digaji.

Kalau boleh jujur, saya sudah lelah. Logat ngapak Tegal yang sudah menjadi DNA budaya dan warisan tanah yang sudah membesarkan saya, seolah-olah menjadi tombol play untuk memulai sesi komedi di tengah obrolan yang sedang serius-seriusnya.

Apa yang salah dengan intonasi A dalam logat ngapak Tegal?

Momen menyebalkan sering kali dialami saya ketika Ia sedang berdiskusi di warung kopi atau bahkan di lingkungan kampus. Ketika topik obrolan mulai menyentuh situasi paling serius, dan saya mulai berbicara dengan bahasa yang njelimet-njelimet, respons orang-orang di sekitarnya langsung cair, seolah-olah apa yang sedang saya bicarakan adalah sebuah topik komedi.

Pernah satu momen terjadi dalam kehidupan saya, semula situasi berada di dalam atmosfer serius, tapi ketika mulut saya mulai melontarkan kata-katanya, salah satu teman saya tiba-tiba menyela begini: “Iya kayak kue? Sing bener bae? Temenan apa ora?” (Iya seperti itu? Yang bener aja? Beneran apa nggak?).

Coba bayangkan, saya datang membawa obrolan serius. Tapi ketika saya berbicara, gagasan serius yang dibawa saya langsung tergantikan oleh fokus teman-temannya pada intonasi ‘A’ yang konon terlampau tebal dan menggelegar. Gelak tawa pecah, obrolan serius berubah menjadi panggung komedi yang kerap membuat saya terpaksa harus nyengir meski terluka.

Baca Juga:

7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget

8 Alasan Kebumen Pantas Jadi Kiblat Slow Living di Jawa Tengah

Momen-momen menyebalkan yang sudah dilewati saya terkadang membawa satu pertanyaan yang menyangkut di kepala: mengapa logat ngapak Tegal sering disamakan dengan logat ngapak Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap? Padahal, masing-masing daerah secara kultur linguistiknya kan berbeda?

Sama-sama Ngapak, tapi nggak semua Ngapak itu sama

Saya lambat laun menyadari, setiap kali teman-temannya meminta saya mengulangi kata-katanya dengan penekanan pada intonasi ‘A’, ada yang aneh dengan cara mereka meniru. Mereka meniru logat bicara atau istilahnya ‘ke-medhok-an’ yang biasa digunakan oleh daerah Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap, bukan Tegal.

Ya, keanehan itu ujung-ujungnya memunculkan generalisasi teman-teman saya yang non-ngapak pada logat ngapak. Seolah-olah logat ngapak itu cuma punya satu aliran mazhab. Padahal, kenyataannya logat ngapak punya bermacam aliran.

Misalnya, ngapak Banyumasan, Cilacap, dan Purwokerto yang masing-masing punya kesamaan dalam penekanan intonasi ‘A’, namun tetap punya ciri khas uniknya sendiri-sendiri. Entah itu Tegal, Cilacap, Purwokerto, atau Banyumas, logat ngapak punya satu kemiripan, yakni kata ‘aku’ menjadi kata ‘nyong’.

Di kota asalnya, saya menyadari persamaan dan perbedaan itu. Meski ada kesamaan tunggal yang dalam pengucapan kata ‘aku’ yang menjadi ‘nyong’, toh  kenyataannya masing-masing daerah punya aliran mazhabnya sendiri-sendiri.

Aliran mazhab Ngapak yang harus diketahui

Setahu saya, yang membedakan antara Tegal dengan tiga daerah lainnya adalah cara orang Tegal ngomong nggak selalu menebalkan intonasi ‘A’ dan orang Tegal biasanya ngomong lebih cepat ketimbang tiga daerah lainnya.

Lalu kata lapar yang dalam pelafalan logat ngapak daerah Banyumas, Purwokerto, dan Cilacap, berbunyi ‘kencot’. Sedangkan di daerah Tegal kata lapar justru berbunyi ‘ngelih’.

Jadi, masing-masing daerah memang punya dialek yang sama, yakni ngapak. Meskipun begitu, bukan berarti dialek atau logat ngapak itu semuanya sama. Mereka punya aliran mazhabnya masing-masing.

Kami di Tegal bangga dengan aliran mazhab ngapak kami. Tapi tolong jangan buat kami muak saat harus terus menerus memberi tahu perbedaan ini hanya karena cara kalian mengolok-olok yang nggak pernah tepat.

Sudahi olok-olok pada logat ngapak Tegal, mari pahami ada waktunya untuk serius dan bercanda

Walaupun saya mengaku lelah, tetapi saya tahu kalau semua olokan itu hanya sekadar bahan candaan pencair suasana. Saya nggak baper. Serius. Tapi semua itu menjadi masalah ketika kalian nggak bisa membedakan antara waktu serius dan waktunya bercanda.

Semua orang, termasuk saya, pasti muak saat lagi berbicara serius tapi malah dianggap bercanda bukan? Apa lagi sampai ditiru dan disuruh mengulangi kata-kata yang sering banget membuat topik serius seketika menjadi topik lucu-lucuan yang nggak pernah digunakan pada momen yang tepat.

Akhir kata, saya menyatakan sepenuhnya ikhlas kalau teman-teman dan pembaca (yang non-ngapak) yang budiman menjadikan logat ngapak Tegal sebagai bahan candaan. Saya hanya meminta satu hal saja: tolong dengarkan kami ketika lagi ngobrolin hal-hal yang serius!

Penulis: Abdullah Azzam Al Mujahid
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Panduan Penggunaan Bahasa Tegal biar Ngapak Makin Kepenak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 3 November 2025 oleh

Tags: dialek togallogat ngapaklogat ngapak tegallogat tegalngapaktegal
Abdullah Azzam Al Mujahid

Abdullah Azzam Al Mujahid

Mahasiswa biasa di Universitas Negeri Semarang. Sedang menjalin komitmen dengan dunia antropologi sejarah, walaupun terkadang suka curi-suri untuk bermesraan dengan isu-isu sosial terkini. Alumni bocah gondrong tahun 2025.

ArtikelTerkait

3 Oleh-oleh Khas Tegal yang Tidak Boleh Kalian Lewatkan Mojok.co

3 Oleh-oleh Khas Tegal yang Tidak Boleh Kalian Lewatkan

17 November 2024
10 Kosakata Pemalang yang “Ajaib” hingga Bikin Bingung Banyak Orang Mojok.co

10 Kosakata Pemalang yang “Ajaib” hingga Bikin Bingung Banyak Orang

1 Oktober 2025
3 Rekomendasi Soto Tauco Tegal Paling Lezat

3 Rekomendasi Soto Tauco Tegal Paling Lezat

3 September 2023
Jalan Kapten Sudibyo Adalah Jalan Paling Pedas di Kota Tegal. Jangan Lewat Sini Kalau Nggak Punya Lambung Besi!

Jalan Kapten Sudibyo Adalah Jalan Paling Pedas di Kota Tegal. Jangan Lewat Sini Kalau Nggak Punya Lambung Besi!

4 Mei 2025
Nggak Cuma di Jogja: Ternyata, Malioboro Punya Cabang di Beberapa Kota terminal mojok.co

Nggak Cuma di Jogja: Malioboro Juga Punya Cabang di Beberapa Kota

8 November 2021
3 Kerajaan Gaib yang Mendiami Tegal, Salah Satunya Jadi Pesugihan yang Terkenal!

3 Kerajaan Gaib yang Mendiami Tegal, Salah Satunya Jadi Pesugihan yang Terkenal!

2 Juli 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ramainya Jogja Sudah Nggak Masuk Akal, bahkan bagi Orang Luar Kota Sekalipun kota jogja

Hal Unik yang Lumrah Terjadi di Perkampungan Padat Penduduk Kota Jogja, dari yang Biasa Saja sampai yang Menyebalkan

8 Januari 2026
Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar Mojok.co

Jangan Bergaul dengan 5 Tipe Orang Ini agar Skripsi Cepat Kelar

5 Januari 2026
Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

Pasar Gedang Lumajang, Pusat Ekonomi Warga Lokal yang Menguji Kesabaran Pengguna Jalan

6 Januari 2026
Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

Bukan Jakarta, Tempat Paling Cocok untuk Memulai Karier Adalah Cilegon. Ini Alasannya!

5 Januari 2026
3 Pertanyaan yang Dibenci Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Mojok.co jurusan PAI

Saya Tidak Ingin Menjadi Guru walaupun Memilih Jurusan PAI, Bebannya Tidak Sepadan dengan yang Didapat!

11 Januari 2026
5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part Mojok.co

5 Cara Mudah Mengetahui Oli Palsu Menurut Penjual Spare Part

8 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja
  • Mengajari Siswa Down Syndrome Cara Marah, karena Dunia Tidak Selalu Ramah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.