Persipura Jayapura kalah. Mutiara Hitam bersedih. Papua menangis. Mereka gagal kembali ke kasta tertinggi Liga Indonesia.
Yang mengalahkan bukan klub sembarangan. Tapi klub yang secara sejarah memang belum ada sejarah: Adhyaksa FC. Di laga play-off Liga Championship, Jumat (8/5/2026), Persipura takluk. 0-1.
Menyusul Adhyaksa, ada nama lain yang juga sukses promosi ke kasta tertinggi Liga Indonesia: Garudayaksa. Keduanya melenggang gagah. Membawa tiket mahal bernama promosi.
Anda sudah tahu apa persamaan kedua klub itu? Dua-duanya tidak punya basis suporter yang berisik. Dua-duanya tidak punya sejarah panjang. Dan yang paling mencolok, dua-duanya tidak memiliki akar pembinaan usia dini yang mengakar di masyarakat.
Lalu apa yang mereka punya? Uang. Modal. Stabilitas. Dukungan institusi.
BACA JUGA: Semisal Tim Sepak Bola Indonesia Menggunakan Konsep Nama Seperti di J. League
Liga Indonesia saat ini sebatas mesin industri pragmatis
Ini fenomena luar biasa. Sekaligus tamparan keras bagi romantisme Liga Indonesia. Lapangan hijau kita sedang bergeser. Berubah wujud. Dari panggung teatrikal kultural, menjadi mesin industri pragmatis.
Kita pinjam kaca mata sosiolog kondang asal Prancis, Pierre Bourdieu, yang punya teori terkenal tentang “Arena” dan “Modal”. Arena itu ya lapangan sepak bola kita ini. Di dalam arena, orang bertarung menggunakan berbagai jenis modal.
Selama puluhan tahun, mereka yang mempunyai “Modal Sosial” dan “Modal Kultural” menguasai Liga Indonesia. Persipura Jayapura, Persebaya Surabaya, Persiba Balikpapan, Persib Bandung, PSM Makassar, PSIS Semarang, atau Persija Jakarta adalah contoh nyatanya. Modal kultural mereka adalah sejarah panjang dan identitas kedaerahan. Modal sosial mereka adalah jutaan suporter fanatik.
Dulu, dengan dua modal itu, klub bisa hidup. Suporter adalah nyawa. Legitimasi.
Tapi hari ini, aturan di arena itu sudah diganti. Adhyaksa dan Garudayaksa (sebelumnya Dewa United), datang membawa “Modal Ekonomi” dan “Modal Simbolik” (kuasa institusi). Ternyata, modal uang dan tata kelola birokratis yang stabil bisa menggilas habis modal kultural sebesar apa pun.
Persipura punya bakat alam paling hebat di republik ini. Tapi Adhyaksa dan Garudayaksa punya uang untuk membeli pelatih taktik terbaik, gizi terbaik, dan pemain matang yang siap pakai. Uang, pada akhirnya, bicara lebih keras dari sejarah di Liga Indonesia.
Evolusi yang terjadi
Secara teori ekonomi-politik olahraga, ini sebenarnya evolusi yang masuk akal. Dulu klub-klub tradisional Liga Indonesia kita manja. Menetek pada APBD. Uang rakyat.
Begitu pemerintah mengharamkan penggunaan APBD untuk sepak bola profesional, klub kelimpungan. Mereka harus cari sponsor dan jualan merchandise demi berkiprah di Liga Indonesia. Banyak yang gagal karena manajemennya masih amatiran.
Di tengah kebingungan itu, masuklah klub-klub institusi. Mereka mengambil alih ruang kosong. Klub-klub ini tidak pusing soal APBD. Kantong penyokongnya tebal. Manajemen keuangannya rapi. Gaji pemain tidak pernah telat. Pemain main tenang. Bebas stres. Tentu saja, mereka menang.
Bagus dong?
Untuk jangka pendek: ya. Sangat bagus. Liga Indonesia butuh klub yang sehat secara finansial.
Tapi untuk masa depan sepak bola Indonesia? Nanti dulu. Ada bahaya besar yang mengintip di depan mata.
Bahaya besar mengintip Liga Indonesia
Dalam teori manajemen olahraga (sports management), ekosistem sepak bola yang sehat harus berbentuk piramida. Bawahnya lebar. Akar rumputnya kuat. Pembinaan usia dini (akademi) adalah fondasi mutlak.
Adhyaksa dan Garudayaksa ini tidak punya pabrik. Mereka ini seperti toko ritel elite. Hanya jeli kulakan barang jadi. Keduanya membeli pemain yang sudah matang di bursa transfer. Kalau semua klub kasta tertinggi Liga Indonesia modelnya begini, memutus urat nadi pembinaan, lalu siapa yang memproduksi pemain?
Jika tidak ada yang mau bersusah payah membina anak usia 10 atau 12 tahun, ekosistem kita akan jadi parasit. Timnas Indonesia akan kekeringan darah segar. Ujung-ujungnya, Anda sudah bisa menebak: PSSI akan terus-terusan membuka keran naturalisasi.
Bahaya kedua lebih menakutkan lagi. Bahaya sosiologis. Namanya: Alienasi. Keterasingan.
Sepak bola itu bukan sekadar menendang bola kulit bundar masuk ke gawang. Sepak bola adalah eskapisme. Pelarian. Teater emosi bagi kelas pekerja dan masyarakat luas. Sepak bola butuh suporter. Butuh tangis, parade makian di tribun, dan nyanyian yang menjadi sejarah.
Bayangkan Liga 1 musim depan. Pertandingan Super Sunday. Adhyaksa melawan Garudayaksa. Disiarkan langsung di jam prime time.
Tapi stadionnya kosong. Hening. Hanya ada suara pelatih yang berteriak dari pinggir lapangan dan suara bola ditendang.
Tidak ada ruhnya. Hampa.
Uang bisa membeli prestasi
Kalau ini terjadi terus-menerus, nilai jual Liga Indonesia di mata televisi akan anjlok. Sponsor akan lari. Kenapa? Karena industri televisi tidak membeli pertandingan sepak bola. Televisi itu membeli emosi dan drama. Dan drama itu diciptakan oleh interaksi panas antarsuporter. Sepak bola tanpa suporter tak ubahnya seperti pertandingan antarkantor di hari Jumat pagi. Sehat, tapi tidak menjual.
Maka, fenomena ini adalah pelajaran mahal untuk semua pihak.
Bagi Persipura dan klub tradisional lainnya di Liga Indonesia, berhentilah meratap. Sejarah besar dan suporter fanatik tidak bisa lagi kalian pakai untuk membayar gaji pemain. Kalian harus berbenah menjadi korporasi yang profesional.
Bagi Adhyaksa dan Garudayaksa: selamat datang di kasta tertinggi Liga Indonesia. Kalian sudah membuktikan uang dan stabilitas bisa membeli prestasi. Tapi tugas kalian baru dimulai. Kalian punya utang pada sepak bola Indonesia.
Segeralah bangun akademi. Turunlah ke masyarakat. Bangunlah basis suporter secara organik. Jangan biarkan uang membuat kalian terasing dari hakikat sepak bola itu sendiri. Sebab, sehebat apapun sebuah tata kelola, sepak bola yang dimainkan tanpa penonton pada akhirnya akan mati kesepian.
Penulis: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Merindukan Sepak Bola Indonesia lewat Cerita Lucu Para Pencintanya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
