Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Willyam B. Permana Purba oleh Willyam B. Permana Purba
19 Februari 2026
A A
Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana

Liburan ke Jakarta Bikin Saya Makin Cinta Semarang dan Bersyukur Kuliah di Sana (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai mahasiswa Universitas Negeri Semarang, hidup saya selama ini tidak jauh dari kampus, kos, warung makan, dan jalanan yang kalau hujan sedikit langsung berubah jadi kolam dadakan. Ritmenya tidak terlalu cepat. Masih ada waktu untuk berhenti, ngobrol, dan mengeluh bersama soal tugas yang tidak selesai-selesai. Semua terasa cukup manusiawi. Lalu saya liburan ke Jakarta.

Selama ini, Jakarta hanya saya lihat di berita, di film, atau di feed orang-orang yang kariernya sudah pakai blazer. Saya datang dengan ekspektasi besar. Gedung tinggi, transportasi canggih, orang-orang keren dengan langkah percaya diri. Semua itu memang ada. Tapi ada satu hal yang tidak saya temukan sebanyak yang saya kira yaitu rasa hangat.

Dan semakin lama saya di sana, semakin saya sadar bahwa mungkin masalahnya bukan pada orangnya, tapi pada ritmenya. Jakarta terlalu cepat untuk berhenti sebentar dan menyapa. Sementara Semarang masih punya ruang untuk sekadar menoleh dan bilang, “Eh, kamu kelihatan capek.”

Di Jakarta, menyapa itu butuh keberanian ekstra

Pengalaman paling terasa adalah soal sapa-menyapa. Di Jakarta, orang jalan cepat sekali. Seolah-olah trotoar adalah lintasan lari dan siapa pun yang melambat akan disalip tanpa ampun. Wajah-wajahnya serius. Tatapan matanya lurus ke depan atau tertunduk ke layar ponsel.

Saya beberapa kali mencoba tersenyum ketika mata kami tidak sengaja bertemu. Bukan karena iseng, tapi karena sudah kebiasaan di Semarang begitu. Responsnya? Hampir tidak ada. Bukan jutek, tapi seperti tidak punya ruang untuk membalas. Di situ saya sadar, di kota sebesar itu, interaksi kecil bisa terasa seperti gangguan kecil.

Bandingkan dengan Semarang. Keluar kos saja sudah disapa ibu kos, tukang laundry, atau tetangga yang kebetulan lewat. Di kampus UNNES, bahkan orang yang tidak terlalu kenal pun masih sering lempar senyum atau anggukan. Hal sederhana itu bikin hari terasa tidak terlalu berat. Kita merasa ada di lingkungan, bukan cuma lewat di antara kerumunan.

Gestur kecil yang diam-diam penting

Hal kedua yang terasa banget adalah soal menunduk sopan ketika lewat depan orang yang sedang duduk. Di Semarang, itu seperti refleks otomatis. Tidak perlu diajari secara formal. Badan sedikit condong, langkah sedikit melambat, kadang disertai “monggo pak/bu” yang lirih tapi tulus.

Gestur kecil itu sebenarnya sederhana, tapi maknanya dalam. Ada kesadaran bahwa kita berbagi ruang. Ada penghormatan kecil yang mungkin tidak tercatat dalam undang-undang, tapi hidup dalam kebiasaan sehari-hari. Dan anehnya, justru hal kecil seperti itu yang bikin suasana terasa hangat.

Baca Juga:

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

Tarif parkir SCBD Jakarta bikin syok, bisa buat dua kali makan di Jogja

Selama di Jakarta, saya jarang melihat kebiasaan itu. Orang lewat ya lewat saja. Tegap, cepat, efisien. Mungkin bukan karena tidak sopan, tapi karena ritmenya memang tidak memberi jeda. Tapi dari situ saya sadar, ketika kota bergerak terlalu cepat, hal-hal kecil seperti itu bisa perlahan hilang tanpa kita sadari.

BACA JUGA: Belasan Tahun Tinggal di Semarang, Saya Kira Jakarta Lebih Panas Udaranya, Ternyata Semarang Masih Lebih Panas!

Di Semarang, kamu punya identitas, bukan nomor antrean

Di Jakarta, semuanya terasa sistematis dan profesional. Semuanya cepat dan rapi. Tidak banyak basa-basi, tidak banyak obrolan. Efisien memang. Tapi lama-lama terasa dingin. Interaksi berjalan sesuai fungsi. Tidak ada yang salah, justru itu mungkin standar kota modern. Tapi buat saya yang terbiasa dengan obrolan receh, rasanya ada yang kurang.

Berbeda dengan Semarang, tukang parkir bisa hafal motor kita. Ibu warung tahu kita biasanya pesan apa. Bahkan kadang mereka ikut komentar soal hidup kita. Memang kadang terasa kepo, tapi di situ kita merasa dikenal. Kita bukan sekadar pelanggan, tapi bagian dari rutinitas mereka.

Baca halaman selanjutnya

Sibuk yang terlihat dan terasa

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh

Tags: JakartaSemarangUNNES Semarang
Willyam B. Permana Purba

Willyam B. Permana Purba

Mahasiswa Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Semarang.

ArtikelTerkait

Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

Feeder BRT Semarang, Murahnya Bikin Ikhlas, Kurangnya Bikin Tertawa

17 September 2025
Bunyi Klakson Ibukota yang Bikin Sakit Telinga

Bunyi Klakson Ibukota yang Bikin Sakit Telinga

26 Januari 2020
Jakarta yang Keras di Dalam Ingatan Arek Surabaya (Unsplash)

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

27 Maret 2026
Gaji Rp5 Juta di Jakarta Itu Layak Banget, Percaya Aja Dulu Terminal Mojok

Gaji Rp5 Juta di Jakarta Itu Layak Banget, Percaya Aja Dulu

11 Oktober 2022
Pengalaman Naik Bus Kramat Djati Jakarta-Palembang: Berasa Jadi Anak Tiri karena Pesan Tiket Lewat Aplikasi

Pengalaman Naik Bus Kramat Djati Jakarta-Palembang: Berasa Jadi Anak Tiri karena Pesan Tiket Lewat Aplikasi

26 Maret 2024
Perempatan Sunan Giri, Perempatan Paling Problematik di Jakarta Timur

Perempatan Sunan Giri, Perempatan Paling Problematik di Jakarta Timur

8 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik Mojok.co

Nostalgia masa kecil, majalah Bobo dan Bee Magazine adalah bacaan terbaik

28 Juli 2026
Kebumen yang Dahulu Bukanlah yang Sekarang, Kini Diam-Diam "Naik Kelas" Jadi Makin Diperhitungkan Mojok.co

Waktunya Kebumen berhenti jual diri sebagai “kota yang murah”, harus mulai berani punya harga diri!

27 Juli 2026
Jaga ikhtiar Bupati Klaten beresin borok PD BKK Klaten (Pexels)

Yang paling penting adalah jagain ikhtiar Bupati Hamenang menyelesaikan luka lama yang dibikin PD BKK Klaten

29 Juli 2026
Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

Meski terancam DO karena modal nekat, kuliah akan selalu menjadi keputusan paling bijak yang pernah saya ambil

28 Juli 2026
Naik Kereta Dhoho Penataran dari Surabaya ke Kediri: Mata Dimanjakan, tapi Punggung Tersiksa

Kalah war tiket kereta Dhoho Penataran artinya harus menderita, karena berdiri di kereta ini betul-betul menyiksa

29 Juli 2026
Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

Semua orang tahu Jalan Juanda Ciputat dan Jalan Raya Sawangan adalah jalan neraka kemacetan

27 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.