Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kok Bisa sih Ada Orang yang Percaya Abu Janda dan Denny Siregar?

Ahmad Abu Rifai oleh Ahmad Abu Rifai
30 April 2020
A A
abu janda

Kok Bisa sih Ada Orang yang Percaya Abu Janda atau Denny Siregar?

Share on FacebookShare on Twitter

Pembicaraan mengenai buzzer mungkin sudah sering mondar-mandir di timeline kita dan karenanya agak menjenuhkan. Namun, apabila orang-orang kayak Abu Janda atau Denny Siregar masih eksis, rasanya ghibahin mereka memang enggak bakal ada habisnya.

Kamu tahu kan rasanya stalking akun mantan, ngepoin apakah dia bahagia sekarang, sudah punya penggantimu atau belum? Iya. Persis sekali rasanya. Dibuka ya nyakitin. Enggak dibuka ya bikin penasaran. Lihat buzzer ya bikin gemes. Enggak dilihat kok ada yang kurang gitu asupan baku hantam sehari-harinya. Eh…

Lagian, kenapa sih si Permadi Arya itu kudu pakai nama panggung “Abu Janda”? Sumpah. Sebagai seseorang dengan nama asli yang ada “Abu”-nya, saya jadi korban ledek-ledekan teman.

Meski tak semua “Abu’ buruk, ambillah Abu Bakar atau Imam Abu Hanifah, yang disematkan pada saya pasti yang jelek. Kehadiran Abu Janda menambah daftar ledekan “Abu”. Dari yang awalnya konsisten “Abu Jahal” atau “abu gosok”, sekarang jadi ada nama panggung pria sialan yang ngaku aktivitas itu.

Meskipun kejahatan Abu Jahal lebih melegenda, kadang kala saya malah memilih dipanggil itu daripada Abu Janda. Geli.

Barangkali inilah yang dirasakan orang-orang bermarga “Sinaga” beberapa waktu lalu. Tosss…

Tapi okelah, itu urusan paling sentimentil yang berhubungan dengan nama saya. Yang paling meresahkan adalah: kok bisa sih masih ada yang percaya sama cecunguk-cecunguk kayak Abu Janda atau Denny Siregar?

Saya enggak (hanya) bicara soal buzzeRp saja lho, ya. Mau buzzeRp kek, buzzeR$ kek, pokoknya yang setipe kayak mereka berdua. Fix. Titik.

Baca Juga:

Derita Lulusan Cumlaude S1 Informatika, Berharap Lulus Bisa Jadi Top Hacker Malah Nyasar Bekerja Menjadi Buzzer

Google Maps: Aplikasi Rusak yang Makin Rusak Gara-gara Ulah Penggunanya yang Tolol

Ada beberapa masalah dasar yang ada pada mereka. Pertama, mereka tak pernah berargumentasi secara saintifik. Kedua, mereka cuma ngandelin emosi kolektif massa. Ketiga, mereka menjebak orang-orang dalam fanatisme buta tanpa ampun.

Tarik napas panjang dan, oke, mari kita bahas yang pertama.

Ada siapa pun di sini yang pernah lihat Abu Janda, Denny Siregar, atau Neno Warisman dan Hanum Rais bikin argumentasi saintifik? Saya acungi jempol kalau ada. Sebab selama ini, saya tak pernah mereka—meskipun telah jadi figur publik—memberikan analisis-analisis berdasar.

Yang satu cuma bisa bilang segala hal akan baik pada waktunya karena langkah catur Pak Dhe dan kita hanya perlu taat dan siapa pun yang tak setuju berarti musuh negara. Yang satunya lagi apa pun topik yang sedang diperdebatkan, khilafah adalah solusinya!

Perilaku semacam ini tentu amat memuakkan. Menyambung langsung ke poin kedua, kapasitas otak para buzzer mungkin hanya mampu membangun narasi dengan kalimat-kalimat konyol, potongan berita, atau pesan siaran enggak jelas di Grup Whatsapp.

Kalau nggak percaya, langsung saja cek di akun-akun atau laman-laman buzzer.

Soal ini, sesungguhnya saya agak miris melihat bagaimana orang-orang bisa percaya dengan narasi-narasi tampol-able yang dikeluarkan buzzer-buzzer itu. Lha gimana, ya, masa iya katanya Jokowi merupakan presiden terbaik soal pengatasan pandemi, juga punya tenaga dalam untuk mengatasi semua masalah. Ini kan lucu sekali.

Saya sampai tak bisa berkata-kata melihat ini. Salah satu kawan Facebook, namanya Keenan Nasution, bahkan sampai membuat album foto khusus berisi screenshot-an tingkah aneh para buzzer. Judulnya: WHAT A WONDERFUL WORLD.

Kalau sudah begini, yang muncul emosinya secara kolektif bukan hanya para pendukung kelompok tertentu. Orang-orang macam saya atau Keenan pun ikutan darah tinggi. Virus Corona pun mungkin akan marah-marah kalau lihat kelakuan mereka.

Biasanya kalau udah berhasil bikin narasi-aneh-tapi-dipercaya dan mengaduk-aduk emosi warganet, buzzer bakal dengan mudah bikin pembacanya jatuh ke poin ketiga, yakni fanatisme buta. Sejak kapan pun, sikap ini memang bermasalah.

Bagaimana tidak, orang yang nalarnya udah partisan biasanya bakal tak mau menerima kritik, suka memvonis siapa pun di luar lingkarannya salah—bahkan menganggap mereka sebagai musuh mutlak yang harus dibasmi.

Kalau si A sudah dipakem benar, pokoknya kentutnya pun mengandung segala macam hikmah kehidupan. Sebaliknya, kalau si B sudah dijatuhi stempel salah, maka apa pun yang dilakukan akan tampak sebagai ancaman.

Oke, oke, barangkali ada yang bilang: bukannya sah-sah saja ya mendukung seseorang?

Iya, Dik, benar sekali. Namun apa yang hendak ditampilkan dari dukungan yang membabi buta, kecuali bahwa yang pertama kamu bodoh dan kedua kamu bodoh sekali?

Mendukung seseorang bukan berarti mengkultuskan dan menganggap suci—bahkan nabi saja berbuat salah, lho! Dalam jangka waktu pendek mungkin terasa biasa saja. Namun dalam jangka waktu panjang, sikap tersebut akan membuat orang yang kita dukung semena-mena karena tak biasa mendengar kritik.

Lagipula, tiap orang punya subjektivitas masing-masing kok. Mendukung seseorang itu hal wajar. Mengkritiknya saat melakukan hal salah adalah sikap ksatria.

Masalahnya, dari golongan pendukung kelas atas, tradisi semacam ini tak dibiasakan. Padahal akibatnya terpampang jelas sekali, termasuk dalam penanganan Covid-19 yang hingga kini belum mencapai performa terbaik.

IDI bilang data pemerintah miss dibilang kadrun. Kritis terhadap pemerintah malah disuruh nyalain lilin. Menteri-menteri yang omongannya ngawur dan sekarang hilang pun dibela-bela matian. Mon maap nih, itu menteri apa temen yang lagi ditagih utang?

Dengan berbagai hal di atas, konyol saya rasa kalau masih ada yang percaya Abu Janda atau Denny Siregar cs.

Benar kata salah satu pepatah Thailand: Mị̀ chạdcen lūkchāy k̄hxng s̄unạk̄h tạwmeīy!

Artinya: enggak jelas, bangsat!

BACA JUGA Para Buzzer Pemerintah yang Terlahir di Luar Istana atau tulisan Ahmad Abu Rifai lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 30 April 2020 oleh

Tags: abu jandabuzzerbuzzerpDenny siregar
Ahmad Abu Rifai

Ahmad Abu Rifai

Takmir BP2M Unnes dan aktif di Kelas Menulis Cerpen Kang Putu

ArtikelTerkait

UU Cipta Kerja lawan buzzer pemerintah mojok

Menertawakan Buzzer Pendukung UU Cipta Kerja Adalah Kemewahan Terakhir Kita Bersama

6 Oktober 2020
Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno terminal mojok.co

Nasib Punya Pacar Buzzer Pemerintah Sedangkan Saya Adalah Fans Sandiaga Uno

1 Februari 2021
Google Maps: Aplikasi Rusak yang Makin Rusak Gara-gara Ulah Penggunanya yang Tolol tiktok

Google Maps: Aplikasi Rusak yang Makin Rusak Gara-gara Ulah Penggunanya yang Tolol

9 Februari 2024
denny

Saya Bersama Denny

28 September 2019
Para Buzzer Pemerintah yang Terlahir di Luar Istana

Para Buzzer Pemerintah yang Terlahir di Luar Istana

7 Januari 2020
Pengalaman Jadi Buzzer Produk di Twitter dan Memahami Polanya terminal mojok.co

Pengalaman Jadi Buzzer Produk Sukses di Twitter

4 November 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

Tas ASUS Adalah Tas Terbaik dan Paling Awet yang Pernah Saya Pakai

9 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain Mojok.co

Suzuki Access 125 Motor Paling Kasihan: Tampilan Retro Elegan dan Fitur Lengkap, tapi Masih Aja Kalah Saing dari Skuter Matic Lain

6 April 2026
Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg Mojok.co

Warung Makan Padang di Jawa Banyak yang Ngawur. Namanya Saja yang “Padang”, tapi Jualannya Lebih Mirip Warteg

5 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.