Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kok Bisa Bela Diri dari Klitih Malah Kita yang Jadi Tersangka?

Dimas Purna Adi Siswa oleh Dimas Purna Adi Siswa
18 Agustus 2020
A A
fakultas hukum klitih MOJOK

fakultas hukum klitih MOJOK

Share on FacebookShare on Twitter

Kata orang-orang, Jogja itu kota romantis. Sampai-sampai apa saja yang ada selalu diromantisasi. Dari keramahan warganya, angkringan pinggir jalan, pengamen sudut perempatan lampu merah, makan gudeg malam-malam, bahkan UMR-nya saja bener-bener bikin romantis. Tapi, apa iya, kalo kamu ketemu klitih di Jogja masih berasa romantis?

Bisa jadi pengalaman bertemu klitih apalagi bareng pasangan masuk kategori kenangan paling tersedap. Siapa yang bisa membayangkan? Atau langsung mengalaminya? Mungkin kamu bisa lihat aksi Mas Irawan, ketemu sama klitih di jalanan pas bareng sama istri. Romantis sih tapi ngeri-ngeri sedap bukan?

Akibat aksi klitih terhadap dirinya, Mas Irawan seperti mendapatkan nyali superhero. Mengejar pelaku klitih dengan kaca mobil depan yang sudah pecah ia lakukan untuk membela diri dan sang istri. Naasnya, saat aksi kejar-kejaran terjadi kecelakaan yang tak terhindarkan hingga menyebabkan pelaku klitih meninggal dunia. Kejadian yang terjadi di bulan Desember 2018 ini baru divonis Selasa, 4 Agustus 2020 yang lalu.

Vonis atas kasus Mas Irawan bukan hal yang pertama kali terjadi di Indonesia. Kalau ingat, awal tahun 2020 sudah ada vonis atas kasus Pelajar ZA yang bela diri pas mau dibegal. Untungnya, Adik ZA ini masih dibawah umur jadinya cuman dihukum untuk dibina selama 1 (satu) tahun di LKSA. Lega.

Masyarakat yang melihat vonis kasus macam gini pasti bakalan miris, gimana kalo kejadian serupa terjadi sama kita sendiri? Masa iya kalo pas lagi dibegal atau diklitih biar win-win solution kita musyawarah dulu sama pelaku. “Pie ki mas enake? Aku lek ngebela awaku dhewe dipenjara ngko i”, kira-kira. Belum kita sempet ngobrol udah keluar aja ini darah gegara dibacok.

Banyak komentar dan tanggapan netijen atas kasus-kasus kaya gini. Dari yang selalu menyalahkan hukum indon itu lucu-lucu, paling aneh, nyalahin Pak Hakim yang nggak bisa berpikir jernih. Dan jangan lupa slogan kemirisan hukum yang selalu digaungkan  “Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah”. Tapi memang bener juga sih kadang.

Jika dilihat dari kacamata orang awam secara sekilas memang harusnya kasus macam gini bisa cepat selesainya. Toh ini korban yang bela diri dari kejahatan. Kenapa harus lama-lama sih? Udah lama malah si korban yang dihukum. Terus harus gimana kalo ketemu begal atau klitih di jalanan?

Memang bukan perkara yang mudah untuk menyelesaikan kasus pidana terlebih kasusnya mendapat perhatian publik. Hukum pidana di Indonesia sendiri sebenarnya sudah ada aturan untuk korban yang bela diri dari suatu kejahatan. Tepatnya di pembelaan terpaksa, dan pembelaan terpaksa melampaui batas. Coba cek aja di KUHP, liatnya di Pasal 49 yha~

Baca Juga:

Pengalaman Pahit Menjadi Mahasiswa Rantau di Jogja ketika Motor Scoopy Saya Disangka Motornya Pelaku Klitih

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Aksi Mas Irawan yang menyebabkan kecelakaan sehingga terbukti melanggar hukum pidana itu merupakan langkah awal biar bisa dikatakan pembelaan terpaksa. LAH KOK BISA?! Iya, apapun perbuatanmu untuk membela diri itu pasti sudah melanggar hukum.

Sekarang bayangin, kamu mau dibunuh tapi karena kamu bela diri jadinya kamu bunuh pelakunya duluan. Mau kaya gimanapun pembunuhan melanggar hukum bukan? Hal itu juga yang diterapkan oleh semua hakim dalam membuat putusannya. Pastinya, Pak Hakim mutusin dulu kalo perbuatan kamu itu salah dan melanggar hukum. ohh gitu

Perbuatanmu bisa dikatain bela diri menurut hukum +62 kalau memenuhi syarat lain. Selain syarat tadi perbuatanmu itu melanggar hukum, menurut Prof. Moeljatno ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi seperti harus ada serangan atau ancaman seketika/sangat dekat dengan kamu pas kejadian. Terus serangan dari pelaku itu serangan yang bisa nyerang diri kamu, harta benda kamu, kehormatan diri atau kesusilaan. Nah barulah, abis itu kamu ngelakuin pembelaan.

TAPI, perbuatan pembelaan yang kamu lakuin emang satu-satunya jalan yang harus dilalui. Kaya kamu kepentok di gang buntu nggak bisa lewat mau gamau harus putar balik bukan? Nah putar balik itu bisa di ibaratin buat kamu ngelakuin pembelaan diri. Hanya ada satu perbuatan yang bisa dilakukan.

Bahkan, waktu serangan terhadap kamu dan perbuatan membela diri juga bisa jadi parameter Pak Hakim loh dalam nentuin kamu ini masuk Pasal 49 apa engga. Astaga dragon rebek.

Simpelnya kamu itu tidak ada waktu untuk ngehindar kayak lari ngibrit. Bener-bener harus kepentok tok tok nggada jalan lain, memang harus ngelakuin bela diri kaya mukul, ngebacok, bahkan hingga membunuh. Dipikir-pikir emang ribet sih, orang diserangnya saat itu juga antara hidup dan mati. Eh harus sempet mikir teori bela diri ala hukum dulu biar ngga di penjara nantinya.

Nah sekarang coba ilustrasikan sama kasusnya Mas Irawan. Kronologis kejadian Mas Irawan , berawal dari pelaku klitih yang berpapasan dengan mobil Mas Irawan. Kemudian, pelaku diduga akan melakukan klitih dengan memukul stik besi ke kaca mobil. Nah setelah kejadian tersebut, Mas Irawan balik putar arah dan mengejar kedua bocah pelaku klitih ini.

Di tengah pengejaran Mas Irawan diperingatkan istrinya agar tidak melakukan pengejaran. Namun, Mas Irawan terus mengejar sampai akhirnya terjadi kecelakaan mobil Mas Irawan menabrak sepeda motor pelaku klitih.

Ingat lagi, syarat-syarat pembelaan diri tadi. Emang bener ada serangan ke arah Mas Irawan dan seketika lagi, Terus pengejaran Mas Irawan berbuntut kecelakan juga sudah dikategorikan melanggar hukum UU Lalu Lintas. Ada serangan pelaku klitih mengarah ke diri dan harta Mas Irawan. Lalu, syarat apa yang tidak terpenuhi?

Iya benar, jika kamu menjawab perbuatan pengejaran Mas Irawan itu bukan perbuatan satu-satunya yang bisa dilakukan. Coba kita cermati lagi, ketika terjadi aksi pemukulan kaca mobil. Apakah Mas Irawan tidak bisa menjauh saja tidak usah mengejar? Terlebih istrinya sudah memperingatkan agar tidak usah mengejar. Apakah Mas Irawan tidak bisa langsung melapor saja ke kantor polisi? Jika dicermati lebih lanjut, sebenarnya Mas Irawan mempunyai kehendak bebas untuk melakukan apapun toh pelaku sudah pergi menjauh.

Tapi tidak bisa disalahkan juga pengejaran Mas Irawan, kita semua pasti akan merasa sangat kesal apabila terjadi aksi klitih terhadap diri kita. Sampai-sampai kita pengen ngasih pelajaran bener-bener ke pelaku klitih.

Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau sudah seperti itu tertulisnya hukum pidana kita. Makanya dalam hukum ada adagium lex dura sed tamen scripta artinya hukum itu kejam tapi memang begitulah bunyinya. Yaaa mau gimana lagi, Gan~

BACA JUGA Kuliah Capek-Capek Kok Cuma Jadi Ibu Rumah Tangga, Lha Emang Kenapa? 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2020 oleh

Tags: hukumklitihtersangka
Dimas Purna Adi Siswa

Dimas Purna Adi Siswa

Calon pengacara handal. Saat ini masih pengacara (re:penggangguran banyak acara) dulu.

ArtikelTerkait

Mari Berandai-andai Tokyo Revengers Ikut Tawuran dan Klitih di Jogja terminal mojok

Seandainya Tokyo Revengers Ikut Tawuran dan Klitih di Jogja

12 Mei 2021
Jogja Gelap dan Nggak Kuat Beli Lampu Penerangan Jalan (Unsplash)

Apakah Jogja Itu Begitu Miskin sampai Nggak Mampu Meremajakan Lampu Penerangan Jalan yang Makin Payah Itu?

18 November 2023
5 Alasan Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Citayam yang Nongkrong di SCBD

5 Alasan Kita Nggak Perlu Nyinyirin Anak Citayam yang Nongkrong di SCBD

9 Juli 2022
Sumber gambar Pixabay

Pelaku Pelecehan Seksual dan para Petinju Andal

9 September 2021
Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?  

Kok Bisa Ada Orang Bahagia di Jogja, padahal Hidup Mereka Susah?

1 Agustus 2022
Sudah Saatnya Magelang Mengganti Istilah Klitih dengan Kejahatan Jalanan untidar

Sudah Saatnya Magelang Mengganti Istilah Klitih dengan Kejahatan Jalanan

28 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro Mojok.co

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

28 Maret 2026
Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

Kalau Penulis Buku Bermasalah, Pembacanya Ikut Berdosa Juga atau Tidak?

29 Maret 2026
Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel Mojok.co

Pesimis pada Honda Beat Karbu Berubah Respek karena Bisa Awet 12 Tahun Tanpa Rewel

27 Maret 2026
8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh Mojok.co

8 Camilan Khas Kulon Progo yang Sebaiknya Jangan Dijadikan Oleh-Oleh

31 Maret 2026
3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan (Wikimedia Commons)

3 Tempat yang Bikin Saya Merindukan Tangerang Selatan

30 Maret 2026
5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial Mojok.co

5 Oleh-Oleh Khas Kebumen yang Belum Tentu Cocok di Lidah Semua Orang, Jadi Terasa Kurang Spesial

30 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa
  • Dilema Anak Kos yang Kerja di Jogja: Mau Irit dan Mandiri tapi Takut Mati Konyol Gara-gara Cerita Seram Ibu Kos soal “Tragedi Gas Melon”
  • Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”
  • Gagal Lolos SNBP UGM Bukan Berarti Bodoh, Seleksi Nilai Rapor Hanya “Hoki-hokian” dan Kuliah di PTN Tidak Menjamin Masa Depan
  • Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO
  • “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.