KKN di Desa Kayangan: Tidak Ada Angkringan di Sini

Artikel

Gusti Aditya

Ketika ibadah di angkringan tiba, tidak ada hal yang menarik selain obrolan tentang Mia Khalifa yang akan menikah atau Siska E-nya tiga yang hendak plesiran ke mana. Itu hukumnya wajib, tanpa ditulis di dalam undang-undang atau malah tidak termuat dalam sila-sila sakral Pancasila. Jika bukan tentang wanita, ya pasti obrolan liar itu larinya ke bola.

Namun, terkadang obrolan bergulir bak bola liar yang panas. Misalnya, tentang pencapaian jamaah angkringan dalam setiap sendi kehidupan mereka. KKN salah satunya, terwajib dan seperti sebuah keharusan yakni menjabarkan kejadian unik yang meliputinya.

Ada yang KKN di Kutowinangun. Bercerita dengan bergebu dan memburu. Ia rela pulang pergi Jogja dengan lokasi KKN-nya. Seperti saat ia bercerita salah satunya. Katanya, demi ibadah angkringan. Rela ngelaju karena mau melewatkan ibadah angkringan meskipun yang sunnah seperti mengunyah mendoan panas sekalipun.

Ada pula yang KKN di Raja Ampat. Melalui media sosialnya, ia membuka galeri demi galeri, pulau demi pulau dan keindahan rekan-rekan KKN-nya. Katanya, Raja Ampat adalah potongan surga yang terjatuh. Dan bumi Papua lah tempat yang beruntung mendapatkannya. Ia juga menyandingkan Raja Ampat seperti sepotong senja yang dicuri oleh Sukab-nya Seno Gumira.

Yang KKN di dekat Terminal Giwangan tidak mau kalah. Ia bercerita tentang betapa menyeramkannya makam kuno di dalam terminal tersebut. Katanya, kisah KKN di Desa Penari tidak ada apa-apanya ketimbang legenda di tempat itu. Bedanya, tidak ada adegan “nalar pincang” seperti apa yang dilakukan oleh Bima dan Ayu.

Sedangkan yang KKN di Gunungkidul daerah Bintaos menceritakan betapa serunya mencari tempat laundry yang eksistensinya setara dengan mitos. Ada namun seperti disembunyikan. Harus memecahkan berbagai misteri terlebih dahulu sebelum masuk ke babak bonus. Nah, laundry di Bintaos setara dengan babak bonus tersebut.

Saya, selaku imam besar angkringan, hanya manggut-manggut mendengarkan. Sampai semua mata jamaah angkringan menatap saya yang sedang mengelus jenggot. Mereka menunggu giliran saya bercerita. “KKN saya tidak seseru kalian,” kata saya, mereka malah semakin khusyuk mendengarkan. “Tidak ada angkringan di sana,” wajah mereka begitu terkejut. Ketakutan. Salah satu jamaah angkringan bahkan berlari sembari berteriak dan tak sanggup mendengarkan.

Saya pun mulai berdakwah. Sembari memegang teh anget dengan ritmis. “Di Kayangan, tidak ada yang namanya potongan senja atau celengan rindunya Mas Fiersa Besari. Juga tidak ada yang namanya misteri penuh teka-teki yang membingungkan seperti menjawab chat kekasih yang hanya menjawab terserah!

Baca Juga:  KKN, Walau Banyak Nggak Enaknya, Sisi Positifnya Juga Banyak

“Terserahnya harus pakai tanda seru?” tanya salah satu jemaah angkringan.

“Pakai tanda seru!”

“Biar apa?”

“Biar ramai!” jawab saya dengan gundah. Menyeruput teh yang tidak lagi panas. Saya melanjutkan, “KKN saya prokernya hanya bergaul dengan warga sekitar. Dalam artian, ketika mereka minta ditemani tidur, saya musti hadir. Ketika mereka berkumpul dan berbincang sore hingga malam seperti ini, saya musti hadir. Walau pada dasarnya saya tidak paham apa yang mereka obrolkan. Bukan bermaksud tidak menghargai, tapi menurut saya pribadi dan kapasitas otak saya yang terbatas, Bahasa Sasak itu tidak mudah.”

“Sungguh menyiksa!”

“Tidak. Sama sekali tidak. Saya justru bahagia karena memahami satu hal, bahwa negeri kita ini luas. Mereka yang menyebut bumi seluas daun kelor mungkin belum pernah berjalan dari Kayangan sampai Pansor Daya dengan rute menanjak. Atau belum pernah membelai Rinjani melalui rute pendakian Sembalun. Namun, menjadi dilema ketika mereka meminta ditemani mendengarkan lagu dangdut…”

“Astaga! Musik dangdut itu dosa! Tidak ada musik dangdut dalam perkumpulan kita. Anda ingat?”

“Tentu…tentu saya ingat,” saya kembali menyeruput teh dengan perlahan. Kini teh tersebut menjadi panas seperti semula. Ternyata, yang saya seruput bukan teh milik saya. “Maaf,” kata saya kepada si pemilik teh.

“Suatu berkah teh saya diminum oleh Anda.”

“Hey, musik dangdut itu dosa!” desak yang lainnya. Seakan tak mengizinkan saya untuk meminta maaf.

“Iya, dalam pandangan kita musik itu dosa. Namun, di Kayangan, dangdut adalah andalan. Rhoma Irama dan gitar buntungnya adalah fighter terbaik dalam menemani badai gunung di Rinjani. Didi Kempot sedang masuk perlahan, mencoba menerobos gendang telinga yang biasanya dihujani oleh dendangan maut Tabir Kepalsuan atau Sebujur Bangkai. Kalian tahu, saya malah tidak suka dengan kedua lagu itu.”

“Nah! Itu baru imam besar angkringan kami yang konsisten!”

“Iya. Menurut saya lagu itu sangat kurang. Malah lebih enak Setetes Air Hina karena mengingatkan saya kepada jutaan kasus pelecehan yang belum diselesaikan,” semua mata menatap saya dengan dinginnya. “Ah, lupakanlah. Yang jelas, pola makan selama di sana hancur tidak karuan. Bahkan saya mendapat hadiah berupa penyakit maag. Titik didih saya terjadi ketika tidak bisa membedakan antara perihnya maag atau ingin berak karena keduanya ternyata rasanya sama.”

Baca Juga:  Mewawancarai Livi Zheng Before It Was Cool

“Itu penyakit kaum miskin! Anda sudah terjangkit!”

“Iya,” saya menjawab dengan sopan. Tak ingin wibawa ini melayang karena penyakit maag. “Tapi apa bedanya dengan dirimu yang sibuk mencari laundry yang seperti mitos itu?” aku melihat salah satu jamaah angkringan yang tadi bercerita, ia hanya diam. “Ya, penyakit maag saya seperti itu. Kenang-kenangan abadi yang selalu mengingatkan saya ketika telat makan. Bahkan, maag itu lebih indah ketimbang oleh-oleh foto indah yang kalian kirimkan ke media sosial.”

“Hak saya!” teriak jamaah angkringan yang tadi bercerita tentang Raja Ampat.

“KKN Anda saya rasa hanya menambah dosa! Terlebih, tidak ada angkringan!” ujar salah satu di antara mereka.

“Angkringan adalah tempat terindah di bumi. Di mana ceker dan tepung yang bersetubuh secara utuh membentuk gugusan rasa yang tiada tara. Ada pula ibadah sunnah kita, memisahkan seledri dengan bakwan. Bukankah kita benci jika seledri ditumis secara halus?”

“Seledri dosa!”

“Iya,” saya mengambil napas panjang. Menyeruput teh yang dingin dan hambar. Nah, teh ini benar-benar milik saya! “Apa lagi di angkringan terdapat obrolan yang kadang kala menimbulkan gejolak kebatinan yang teramat dalam. Obrolan-obrolan kehidupan; kisah kita mendaki tapak demi tapak pencapaian tanpa memikirkan perasaan lawan bicara. Atau berkeluh kesah tentang satu hal, kemudian kita menjawab; aku juga berkeluh kesah tentang hal itu!

“Pakai tanda seru lagi?”

“Pakai.”

“Biar apa? Biar ramai?”

“Biar kita paham, terkadang suatu hal yang menimbulkan dosa, terkadang malah memunculkan nilai. Dosa-dosa yang kita pakemkan pribadi. Disahkan secara mandiri. Dengan tanda-tangan kita yang dibubuhi. Hingga akhirnya kita malah panik sendiri. KKN di Kayangan mengingatkan akan satu hal yang selama ini hilang dalam diri saya, selaku imam besar angkringan, yakni yang sangat mendasar; kemanusian.”

BACA JUGA Cerita KKN, Benar Nggak sih Mahasiswa Itu Agen Perubahan? atau tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
15


Komentar

Comments are closed.