Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kisah tentang Minuman Sampah di Makam Raja Mataram

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
14 Juli 2020
A A
minuman sampah wedhang uwuh sejarah asal-usul resep ahli rempah mojok.co

minuman sampah wedhang uwuh sejarah asal-usul resep ahli rempah mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Jogja menyimpan sejuta keunikan. Dari kontrasnya budaya klasik dan modern, sampai alokasi Dana Keistimewaan yang entah jadi apa. Dan dari banyak keunikan, salah satunya kita temukan di perbukitan Imogiri. Keunikan ini bernama wedhang uwuh. Secara harfiah wedhang uwuh berarti minuman sampah. Dan memang, wedhang uwuh dinamai demikian karena jejalan sampah di dalamnya.

Untuk memahami keunikan ini, saya harus menemui seorang “acaraki”. Acaraki adalah julukan kepada ahli rempah sejak zaman Majapahit. Beruntung, saya berkenalan dengan Reza. Ia adalah seorang acaraki di sebuah kedai bernama Djoendjoeng Wedhang. Ia mengaku telah khatam mengenali 3.000 jenis tanaman herbal di Indonesia. Baik herbal yang menyehatkan, berbahaya, hingga memabukkan. Ilmu beliau ini pasti disukai nom-noman Jogja yang butuh substansi halusinogen. Namun, kali ini kita cukup bicara tentang wedhang uwuh si minuman sampah.

Sebelum mengenal wedhang uwuh, Acaraki Reza bicara tentang sejarah singkat wedhang. Wedhang diartikan sebagai minuman hangat. Secara khusus, wedhang bisa diartikan sebagai minuman hangat berbahan jahe. Sejarah meminum wedhang ini bisa ditarik pada era VOC.

Saat datang ke Nusantara, VOC juga membawa berbagai produk Eropa. Produk ini dijadikan sebagai hadiah persahabatan kepada para bangsawan Nusantara. Salah satu produk ini adalah minuman keras terutama bir. Karena dibawa dari Eropa, maka yang bisa mengkonsumsi bir hanyalah para bangsawan. Bir juga dipromosikan sebagai minuman yang membantu tubuh tetap hangat.

Para abdi yang penasaran harus mencari substitusi murah agar bisa berlagak seperti tuannya. Mereka juga ingin mengonsumsi minuman yang menghangatkan. Maka mereka mencoba beberapa rempah yang bisa memberi kehangatan. Akhirnya mereka jatuh hati pada seduhan jahe yang disebut bir pletok. Budaya minum jahe ini dibawa para abdi sampai ke wilayah Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, sebelah selatan Jogja.

Para abdi menjadi overproud dengan budaya menyeduh jahe ini. Mereka selalu menyajikan minuman ini kepada para peziarah. Karena peziarah yang datang makin banyak, para abdi harus menyiapkan minuman ini dalam kuantitas besar. Mereka menyeduh jahe dalam kuali besar di sekitar makam. Di sinilah semesta memberi inspirasi melalui daun-daun gugur.

Pada suatu waktu, para abdi sedang menyeduh jahe untuk sajian. Saat menyeduh, angin besar berhembus mengoyak dedaunan di sekitar makam. Beberapa daun kayu manis kering ikut terbawa angin dan jatuh ke dalam kuali seduhan jahe. Entah karena tidak sadar atau terlanjur mager, mereka membiarkan daun tadi ikut terseduh. Seduhan jahe bercampur “sampah” daun kering ini disajikan kepada peziarah.

Apa komentar para peziarah? “Wenaaak!” Daun kayu manis kering ini menambah cita rasa seduhan jahe ini. Tidak hanya menghangatkan, minuman ini memiliki cita rasa unik dan sedap. Para abdi makin overproud dan membanggakan minuman racikan mereka. Karena mereka menganggap daun kering tadi sebagai sampah atau uwuh, mereka menyebut racikan mereka sebagai wedhang uwuh.

Baca Juga:

Taman Mayura Mataram Sepi padahal Tempat Paling Nyaman untuk Melepas Penat

Kisah Tragis Ki Ageng Mangir, Korban Kelicikan Panembahan Senopati demi Memuluskan Ambisi

Namun, wedhang uwuh kala itu berbeda dengan yang kita temui hari ini. Wedhang uwuh batch 1.0 ini berwarna kuning keruh dan tidak menarik. Maka untuk menciptakan kesan menarik dan mewah, para peziarah yang berasal dari Dieng membawa satu bahan ajaib: kulit kayu secang! Ketika diseduh, kulit kayu secang akan memberi warna merah dalam air seduhannya. Dari sini terciptalah wedhang uwuh batch 2.0 yang mirip dengan wedhang uwuh hari ini. Wedhang uwuh batch ini jadi terkesan mewah dan digadang-gadang sebagai minuman bangsawan.

Namun, inovasi belum berhenti. Para acaraki wedhang ini tetap mencari bahan lain yang dirasa menambah nikmat. Mulailah wedhang uwuh dikreasikan dengan berbagai rempah lain. Mulai dari cengkeh, daun salam, hingga kapulaga. Kreasi ini menjadi wedhang uwuh yang kita kenal saat ini. Kreasi wedhang uwuh yang makin rumit membuat penampilan minuman ini makin seperti sampah. Tumpukan rempah yang ada di dalam wedhang uwuh benar-benar seperti sampah yang dibenamkan air. Sampah yang nikmat dan lebih hangat dari janji manis dia yang pernah ada di hatimu.

Acaraki Reza menambahkan, minuman herbal ini tidak ditemukan sebagai obat. Pada awalnya seluruh minuman rempah diramu sebagai minuman santai. Jamu yang kita kenal saat ini tak berbeda dengan kopi saat ini. Meminum jamu pada masa itu memiliki motivasi seperti minum kopi hari ini: teman nongkrong dan bersosialisasi. Wedhang uwuh juga punya sejarah serupa. Awalnya adalah minuman rekreasi yang menghangatkan, lalu berakhir sebagai minuman kesehatan yang meningkatkan daya tahan tubuh.

Pada akhirnya, sejarah membawa kita pada wedhang uwuh yang dikenal sebagai minuman kesehatan. Minuman yang jadi pelarian para abdi menjadi salah satu oleh-oleh unik dari Jogja. Dan siapa sangka, budaya nongkrong sambil minum rempah saat itu dianggap sebagai pencegah pandemi hari ini?

Sumber gambar: Wikimedia Commons, seduhan dan kemasan.

BACA JUGA Di Nusantara Abad ke-4 Pernah Ada Kerajaan Indigo, Namanya Tarumanagara dan tulisan Dimas Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 Juli 2020 oleh

Tags: mataramminuman hangatrempahwedhang uwuh
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

Puputan Bayu Saat Mataram dan VOC Membantai 72 Masyarakat Blambangan MOJOK.CO

Puputan Bayu: Saat Mataram dan VOC Membantai 72.000 Masyarakat Blambangan

30 Juli 2020
senjata biologis VOC jakarta mojok mumpung belum

Gara-gara Senjata Biologis VOC, Jakarta Pernah Dijuluki sebagai Kota Tahi

25 Agustus 2020
Arab Saudi, Kiblat Baru Industri Kopi Dunia

Arab Saudi, Kiblat Baru Industri Kopi Dunia

2 November 2023
Kisah Tragis Ki Ageng Mangir, Korban Kelicikan Panembahan Senopati demi Memuluskan Ambisi mataram

Kisah Tragis Ki Ageng Mangir, Korban Kelicikan Panembahan Senopati demi Memuluskan Ambisi

8 Maret 2024
Taman Mayura Mataram Sepi padahal Tempat Paling Nyaman untuk Melepas Penat

Taman Mayura Mataram Sepi padahal Tempat Paling Nyaman untuk Melepas Penat

19 April 2024
Raden Trunojoyo, Penakluk Mataram dari Sampang Madura yang Mati Dibantai Amangkurat II

Raden Trunojoyo, Penakluk Mataram dari Sampang Madura yang Mati Dibantai Amangkurat II

3 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Butuh Kreativitas (Wikimedia Commons)

Alfamart Itu Terlalu Membosankan dan Sumpek, Kalau Punya Uang Tak Terbatas dan Boleh Saya Akan Ubah Alfamart Jadi “Ruang Singgah Urban”

20 Maret 2026
Jalan Nasional Purworejo Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA Mojok.co

Jalan Nasional Purworejo-Kulon Progo Payah, Kondisi yang Normal Cuma Sekitar Bandara YIA

16 Maret 2026
Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi Mojok.co

Kebohongan Suzuki Ertiga yang Nggak Masuk dalam Brosur Promosi

21 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.