Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Keraton Agung Sejagat Adalah Bentuk Manifestasi Ketidakperayaan terhadap Otoritas di Indonesia

Tri Edi oleh Tri Edi
18 Januari 2020
A A
Keraton Agung Sejagat Adalah Bentuk Manifestasi Ketidakperayaan terhadap Otoritas di Indonesia
Share on FacebookShare on Twitter

Akhir-akhir ini publik Indonesia diguncangkan oleh kehadiran Keraton Agung Sejagat. Keberadaan kerajaan fiktif ini memunculkan berbagai respons dari masyarakat Indonesia. Bahkan kata Keraton Agung Sejagat sempat menghiasi trending di Twitter Indonesia. Kebanyakan isi dari trending tersebut menjadikannya sebagai bahan gurauan bahkan sampai dibuat meme. Hal ini menunjukan betapa asyiknya masyarakat Indonesia di tengah panasnya peristiwa tahunan yang nggak enak di Jakarta.

Eksistensi dari Keraton Agung Sejagat bagaikan oase di tengah panasnya isu politik maupun kepentingan sebagian kelompok untuk berkuasa. Bahkan kebanyakan masyarakat Indonesia banyak yang terhibur serta menjadikanya bahan gurauan dalam obrolan ringan di warung–warung kopi. Respons masyarakat sangatlah antusias atas kemunculan kerajaan yang secara tiba-tiba katanya akan menguasai dunia itu.

ADVERTISEMENT

Namun berbeda dengan respons dari pemerintah, belum lama kerajaan itu mengalami kejayaan dan dikenal masyarakat Indonesia, mereka harus menyerah dan runtuh di tangan kepolisian. Pemimpin kerajaan dan istrinya dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan, serta Pasal 14 Undang–Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang berita bohong yang berimbas terhadap keonaran dan keresahan warga. Tetapi berdasarkan analisa saya, kok saya tidak menemukan keresahan ataupun keonaran yang timbul akibat hadirnya Keraton Agung Sejagat ini, ya?

Bahkan mayoritas warga Indonesia terhibur dengan keberadaannya dan menganggap sebagai hiburan atas carut marutnya keadaan bangsa ini. Bisa saja hadirnya kerajaan ini atas respons dari ketidakpercayaan seseorang atas eksistensi dari negara ini. Sehingga mereka memunculkan ide untuk membentuk suatu pemerintahan baru sebagai solusi terkait permasalahan hidup mereka. Pasalnya, negara tidak pernah hadir dalam setiap permasalahan yang dihadapi rakyatnya. Kita lihat saja saat ini pemerintah malah sedang menaikkan iuran BPJS, cukai rokok, bahkan gas elpiji 3 kilogram juga mau dihapus subsidinya.

Hal ini bukan membuat keadaan dan permasalahan rakyat Indonesia teratasi justru semakin membuat keadaan semakin sulit. Lantas, apa gunanya negara jika semakin membuat hidup semakin sengsara? Bisa saja berdasarkan pemikiran inilah maka muncul ide-ide untuk membuat sebuah otoritas pemerintahan baru atau bisa saja memunculkan alternatif dari penyelesaian masalah kehidupan.

Seharusnya respons pemerintah dalam munculnya Keraton Agung Sejagat ini dijadikan sebagai bahan evaluasi kenapa bisa muncul ide untuk mendirikan sistem pemerintahan baru? Seharusnya pemerintah juga tidak asal menjerat tetapi juga melakukan kajian teoritis atas isu ini agar suatu saat tidak muncul lagi kerajaan-kerajaan atau negara baru jika tidak menginginkan wilayahnya terpecah-belah.

Korban dari narasi yang dibangun oleh media mainstream bukan hanya pemimpin Keraton itu, tapi juga para pengikutnya. Banyak media yang beranggapan bahwa pengikut tersebut merupakan korban penipuan. Ini menempatkan para rakyat kerajaan seolah-olah sebagai orang yang bodoh sehingga mudah dihasut dan ditipu. Padahal, bisa saja para pengikut itu sengaja mengekspresikan ketidakpercayaan mereka terhadap negara ini dengan bergabung pada sebuah kerajaan yang akan menguasai dunia. Bisa saja para pengikut itu adalah orang-orang hebat yang memiliki gagasan luar biasa tapi tidak terfasilitasi oleh Indonesia sehingga bergabung dengan otoritas baru dengan harapan gagasan tersebut menjadi kenyataan dan tidak mati karena keadaan.

Media juga membangun sebuah sirkus kebodohan dan menganggap bahwa semua pengikut itu sebagai orang yang tertipu. Sementara mereka sendiri tidak sadar bahwa saat ini banyak masyarakat yang dibodohi oleh kebijakan pemerintah yang mengedepankan investasi serta menguntungkan investor. Sementara banyak rakyatnya yang kelaparan, kesakitan, bahkan kurang pendidikan. Lantas, mengapa ide untuk membangun otoritas pemerintahan baru diangap gila dan bodoh? Gagasan untuk membentuk suatu sistem baru adalah alternatif terakhir dari permasalahan kehidupan jika dengan cara apa pun tidak mengubah keadaan.

Baca Juga:

Pemerintah Bangkalan Madura Nggak Paham Prioritas, Memilih Sibuk Bikin Ikon Pendidikan daripada Perbaiki Kualitas Pendidikan

5 Cara Legal Boikot Pemerintah yang Ugal-ugalan

Pasalnya, harus dengan cara apa lagi keadaan ini harus diubah, kalau suara rakyat hanya dianggap sebagai angin yang lewat dan investor dianggap sebagai raja yang harus dilayani dengan sepenuh hati? Wajar saja jika mucul keinginan untuk menciptakan sebuah sistem di mana diri kita adalah sebagai raja di tanah kita sendiri. Bukan orang yang tiba-tiba datang kemudian menanam modal. Peristiwa ini juga bisa sebagai sarana ekspresi bentuk mosi tidak percaya kepada negara yang menjadikan hidup semakin sengsara.

Kehadiran Keraton Agung sejagat adalah babak baru dari ketidakperayaan publik terhadap kebijakan-kebijakan otoritas Pemerintah Indonesia. Lihat saja bagaimana euforia masyarakat mendengar munculnya isu ini, lebih antusias dibanding dengan diumumkannya nama-nama menteri dan staf kepresidenan. Saya berharap gagasan unik ini tetap terpelihara dan akan mucul lagi gagasan-gagasan lain sebagai bentuk ekspresi mosi tidak percaya kepada Pemerintah Indonesia.

BACA JUGA Tidak Ada yang Salah dengan Keraton Agung Sejagat atau tulisan Tri Edi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Januari 2020 oleh

Tags: kerajaankeraton agung sejagatmosi tidak percayapemerintah
Tri Edi

Tri Edi

Saya adalah seorang mahasiswa miskin dari desa yang memberanikan diri berkuliah di kota. Meski saya miskin saya tidak pernah mendaftar atau mengambil beasiswa, karena saya bangga kuliah hasil keringat sendiri daripada disponsori negara atau swasta.

ArtikelTerkait

Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

Lomba Desa: Kegiatan Nggak Penting yang Bikin Repot Warga

18 Oktober 2022
solidaritas rakyat

Solidaritas Rakyat Bantu Rakyat Bikin Pengin Nanya Emang Pemerintahnya ke Mana?

23 April 2020
Cepat Tanggap Pemerintah Desa Labang Talon Perlu Diacungi Jempol, Beginilah Seharusnya Pemerintah Menanggapi Kritik!

Cepat Tanggap Pemerintah Desa Labang Talon Perlu Diacungi Jempol, Beginilah Seharusnya Pemerintah Menanggapi Kritik!

17 April 2023
komunitas punk

Punk yang Dianggap Lebih Berbahaya daripada Komunis dan Fasisme

14 Agustus 2020
Curhat Seorang Fakboi yang Diputusin karena Ikut Demo terminal mojok.co RUU Ciptaker

Apa Bedanya Demo 1998 dengan Demo 2020?

15 Oktober 2020
Kok Bisa ya Pemerintah Kepikiran Bikin Fatwa Haram Beli BBM Subsidi? Nggak Malu?

Kok Bisa ya Pemerintah Kepikiran Bikin Fatwa Haram Beli BBM Subsidi? Nggak Malu?

26 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di Mata Kurir, Metode Pembayaran COD Lebih Baik Dihapuskan Mojok.co kurir paket

Lika-liku kurir saat mengantar paket COD ke desa, kadang jadi pahlawan, seringnya jadi pesakitan

16 Juli 2026
Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai? (Unsplash)

Kenapa orang Bali jarang liburan ke pantai, padahal tinggal deket pantai?

18 Juli 2026
3 Kebohongan tentang Lembang yang Perlu Diluruskan

Bukan cuma soal dingin, ini 4 kejanggalan di Lembang yang bikin wisatawan Semarang heran

15 Juli 2026
Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah Mojok

Perpustakaan Kota Pekalongan berbenah, akhirnya ada ruang publik yang bikin betah 

21 Juli 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jangan cintai Surabaya secara berlebihan, ia juga punya kekurangan yang patut dibicarakan

21 Juli 2026
Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua (Mojok.co/Aly Reza)

Soto di Jogja adalah solusi terbaik di tanggal tua

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.