Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial?

Fatimatuz Zahra oleh Fatimatuz Zahra
12 Mei 2020
A A
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu
Share on FacebookShare on Twitter

Di era media sosial seperti saat ini, kita terfasilitasi dengan penyebaran informasi yang serba cepat dan tidak hierarkis. Dulu, kita hanya dapat berperan sebagai penerima informasi, tapi saat ini dengan gawai yang kita miliki kita dapat ikut andil dalam memproduksi informasi maupun menjadi sumber informasi. Kita hampir dapat melakukan apa pun yang dulu terlihat musykil.

Akan tetapi, segala kemudahan akses ini bukan tanpa masalah. Buktinya, kita jadi lebih sering ribut di medsos memperkarakan hal-hal yang kadang juga tidak perlu. Membela kelompok atau gagasan yang kita suka atau kita yakini benar dengan menjelek-jelekkan pihak yang lain, melakukan bullying dan sebagainya.

ADVERTISEMENT

Media sosial yang serba cepat itu memang menuntut kita untuk memperdalam informasi yang kita dapatkan secara mandiri. Maksudnya ya usaha sendiri untuk bisa benar-benar paham, karena sering kali bingkai yang ada di media sosial bahkan hanya muat untuk menulis judul atau kutipan. Padahal kita tidak mungkin akan langsung mengerti segala sesuatu hanya dengan judul, kan?

Sayangnya, kita terburu-buru merasa cukup dengan apa yang kita lihat dan tidak berusaha mendalaminya. Sehingga yang terjadi, kita mudah sekali menjadi hakim atas suatu perkara di media sosial, tanpa tahu seluk beluk perkaranya. Kita juga jadi mudah memutuskan mana yang benar dan kemudian mempersalahkan yang lain. Alih-alih menjadi hakim yang dapat mengurai permasalahan, sering kali kita justru menjadi sumber masalah akibat mempertentangkan kebenaran versi kita dengan versi orang lain.

Kalau kata Ferdinand de Saussure cara berfikir yang serba memperlawankan itu namanya oposisi biner. Mirip konsep bilangan biner yang berbasis angka dua, kita juga sering membuat dua kotak untuk memahami masalah di medsos. Kayak gini misalnya, mulanya kita hanya berfikir bahwa “ide dan gagasan si A ini kayanya bagus, deh” lalu untuk semakin meyakinkan diri kita bahwa ide si A itu bagus kita mulai mencari pembanding. Sayangnya perbandingan itu biasanya tidak dimaksudkan untuk komparasi, tapi mencari kelemahan pihak lain sehingga kita punya alasan kuat bahwa apa yang tadi kita pikirkan itu benar.

Contohnya begini. Tahu itu bagusnya bentuknya trapesium, jadi kalau ada tahu yang bentuknya nggak trapesium itu pasti tahu yang jelek. Kira-kira seperti itu pikiran kita bekerja dalam mencerna informasi serba cepat di media sosial.

Kenapa bisa begitu? Pasalnya, algoritma media sosial memang membuat kita cenderung akan lebih banyak menemui hal-hal yang kita setujui dan memperkuat dengan narasi kontra terhadap hal-hal yang tidak kita setujui. Misalnya kita dukung klub bola X dan sering nge-like postingan yang mengunggulkan klub itu, maka di halaman pencarian kita yang muncul juga mayoritas tentang keunggulan klub X dan sesekali kelemahan klub-klub bola yang lain. Biar apa? biar kita makin percaya diri kalau pendapat kita benar, dan sekali lagi ini merupakan konspirasi kapitalis strategi marketing supaya kita betah berlama-lama main medsos.

Akibatnya, kita jadi sangat sulit menerima perbedaan karena kita sudah memupuk kepercayaan diri bahwa apa yang kita yakini dan kita pahami adalah hal yang benar sehingga jika ada pendapat atau pemahaman yang berbeda dari kita berarti pendapat itu salah.

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Padahal jauh sebelum era media sosial, Rasulullah sudah wanti-wanti kepada kita untuk bersikap moderat karena sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah atau yang sedang-sedang. Lha gimana mau berdiri di tengah-tengah kalau kita tidak pernah mau belajar memahami apa yang tidak kita setujui? Bawaannya pengin semua orang sependapat sama kita terus.

Jadi ingat kata Gus Dur bahwa semakin tinggi ilmu seseorang, maka ia akan makin sulit menemukan kesalahan orang lain. Karena jika pun salah dari satu sudut pandang, tetapi bisa jadi benar melalui perspektif ilmu yang lain.

Jadi, mulai sekarang kita perlu banyak tanya dan banyak tahu sebelum berkomentar atau menilai apa pun yang kita temukan di era yang serba cepat ini. Begitu pula jika kita berperan sebagai sumber informasi, kita perlu melakukan yang namanya disiplin verifikasi. Ya meskipun kita belum jadi seseorang yang tinggi ilmunya seperti yang dikatakan Gus Dur. Setidaknya kita berusaha untuk tidak terjebak dalam pemikiran yang saling memperlawankan lah, ya.

BACA JUGA Esai-esai Terminal Ramadan Mojok lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 10 Mei 2020 oleh

Tags: Media SosialpendapatTerminal Ramadan
Fatimatuz Zahra

Fatimatuz Zahra

Sedang belajar tentang manusia dan cara menjadi manusia.

ArtikelTerkait

Bukit JLS Pantai Sine Tulungagung, Tempat Berkumpulnya Manusia Taruhan Nyawa demi Konten Media Sosial

Bukit JLS Pantai Sine Tulungagung, Tempat Berkumpulnya Manusia Taruhan Nyawa demi Konten Media Sosial

10 Januari 2024
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah

4 Mei 2020
Ingat, ya! Ramadan Itu Satu Bulan, Bukan Satu Pekan

Ingat, ya! Ramadan Itu Satu Bulan, Bukan Satu Pekan

24 April 2020
Penyakit Ain Membuat Teman Saya Tobat Posting Foto Anak terminal mojok.co

Penyakit Ain Membuat Teman Saya Tobat Posting Foto Anak

20 Mei 2021
Buzzer Skincare: Udah Bikin Rugi Konsumen, Jatuhin Brand Lagi! Terminal Mojok.co

Buzzer Skincare: Udah Bikin Rugi Konsumen, Jatuhin Brand Lagi!

2 Maret 2022
Membayangkan Yeo Jeong Woo di Drama Korea Doctor Slump Tinggal di Indonesia: Tersandung Kasus Malapraktik dan Masuk Lambe Turah

Membayangkan Yeo Jeong Woo di Drama Korea Doctor Slump Tinggal di Indonesia: Tersandung Kasus Malapraktik dan Masuk Lambe Turah

17 Februari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua Mojok.co

GTM pada anak, drama paling menguji kesabaran dan kreativitas orang tua

9 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Jangan Lakukan 4 Hal Ini Saat Kuliah S2, Sudah Bukan Waktunya Lagi S1

Bukan karena jenius, tapi kuliah S2 memang jauh lebih gampang ketimbang S1

8 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Dari gaya hingga performa, inilah 6 alasan Suzuki Swift ST 2008 cocok jadi mobil pertama

6 Agustus 2026
Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh boso jonegoroan

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

11 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.