Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Ekonomi

Beruntung Dapat Tiket Pesawat Kelas Bisnis Bikin Saya Bisa Merasakan Pengalaman Menjadi Orang Kaya Selama 60 Menit

Mozara Kartika Putri oleh Mozara Kartika Putri
1 Januari 2026
A A
Tiket Pesawat Kelas Bisnis, Wujud Nyata Nikmatnya Orang Kaya

Tiket Pesawat Kelas Bisnis, Wujud Nyata Nikmatnya Orang Kaya

Share on FacebookShare on Twitter

Apakah kamu sering menemukan kalimat “Bersedia ditempatkan di mana saja” di dalam sebuah loker? Nah, pekerjaan yang saya lakoni ini punya kalimat yang mirip. Bunyinya, “Bersedia diberangkatkan kapan saja.” Dan, kondisi ini yang sering membuat saya pusing ketika mencari tiket pesawat.

Ya, saya harus pontang-panting mencari tiket pesawat karena serba mendadak. Kali ini, 6 jam sebelum tahun berganti, saya harus berangkat dari Balikpapan menuju Makassar.

Betul sekali, amanat ini baru saya terima kurang dari 6 jam sebelum pergantian tahun. Tidak perlu berlama-lama sambat, saya segera membuka aplikasi untuk melihat ketersediaan tiket pesawat sambil menggerutu.

Naluri hemat ketika war tiket pesawat

Lembaga tempat saya bekerja memang akan menanggung semua biaya perjalanan. Namun, tetap saja, naluri ngirit sudah kadung tertanam di dalam kalbu. 

Wajar, dong, kalau harga tiket pesawat melambung tinggi. Namanya saja bulan vakansi. Apalagi kalau mau membeli H-1. Harga tiket pesawat dari Balikpapan ke Makassar yang biasanya hanya Rp900 ribuan (direct flight) kini mencapai angka Rp2,3 jutaan. Itu saja saya harus transit di Tanjung Redeb (Berau). 

Makanya, saya mencoba mencari di aplikasi yang berbeda. Tapi, hasilnya tetap sama. Ketika mulai putus asa, saya seperti mendapat berkah dari semesta. Saya menemukan tiket pesawat untuk penerbangan langsung. Harga tiketnya Rp2,4 juta dan itu tipe business class. Terima kasih, semesta.

Bersedia ditempatkan di mana saja dan kapan saja, termasuk di business class. HEHE.

Saya, manusia dengan naluri ngirit ini tentu antusias. Minimal saya akan bisa merasakan kehidupan orang yang kebanyakan duit dengan pergi naik pesawat kelas bisnis.

Baca Juga:

Konten Tutorial Naik Pesawat Nggak Norak Sama Sekali, Justru Amat Penting buat Mayoritas Rakyat Indonesia

Pesut Adalah Simbol Kota Samarinda, tapi Orang Samarinda Sendiri Belum Pernah Lihat Pesut Secara Langsung

Ternyata betul, ya. Allah akan mengangkat derajat manusia yang sabar. Nah, berikut pengalaman saya jadi orang kaya, walau untuk sesaat. Yah, sekitar 1 jam, lah.

Nggak perlu antre saat check in dan drop baggage

Saya berangkat melalui Bandara Sepinggan Balikpapan di mana counter check in antara kelas ekonomi dan bisnis tidak dipisah. Antrean sudah lumayan mengular. 

Sebagai penumpang pemegang tiket pesawat kelas bisnis newbie, saya merasa kesal. Yah, sama aja dong ini saya harus antre juga. 

Nah, saya inisiatif mencoba tanya ke salah satu petugas. Sang petugas dengan wajah sedikit tidak yakin setelah melihat tampang saya kemudian bertanya, “Kakaknya business class?” 

Saya mengangguk dengan anggun. 

Sang petugas kemudian berbisik ke bagian counter check memberi tanda bahwa saya adalah penumpang prioritas (bukan karena hamil atau lansia, ya). “Silakan habis ini langsung ke depan ya untuk drop bagasinya.” NAH!

Saya berjalan melewati barisan pemegang tiket pesawat kelas ekonomi. Kadang saya merasa mereka menatap saya dengan tajam dan saya balas dengan senyuman dan sedikit rasa sungkan. Rasanya aneh. Mungkin karena nggak terbiasa jadi orang kaya hehe.

Oya, tiket pesawat kelas bisnis memberimu benefit bagasi sampai 30 kilogram. Ini dua kalinya kelas ekonomi. 

Masuk dan turun pesawat, pemegang tiket pesawat kelas bisnis selalu duluan

Pemegang tiket pesawat kelas bisnis mendapatkan privilege giliran masuk dan turun pesawat. Jadi, penumpang kelas bisnis akan didahulukan. 

Biasanya, saya akan memilih paling terakhir untuk naik dan turun. Maklum, biasanya saya dapat tempat duduk di bagian tengah sampai belakang. Kali ini saya mendapat tempat di depan. Saya juga mendapat space duduk yang tentunya jauh lebih lega dibanding kelas ekonomi. 

Tapi, sebetulnya, nggak ada yang terlalu spesial selain ruang duduk yang lebih lega. Kebetulan, layar TV atau LCD sudah nggak ada. Dampak efisiensi mungkin. Jendelanya juga sudah agak bruwet. Tapi yah, pemegang tiket pesawat kelas bisnis jadi prioritas.

Belum juga take off, sudah ditawari macam-macam

Tidak berselang lama saat saya baru saja menaruh pantat di kursi bisnis, Mbak Pramugari muncul langsung menawarkan jus buah. Saya boleh memilih antara jus jambu atau jus mangga. Saya tahu, itu jus kotakan tapi tetap saja saya senang.

Berhubung durasi perjalanan menuju Makassar sekitar 60 menit, maskapai menawari saya meal set. Waktu itu, saya mendapatkan pizza, puding, kacang koro, dan air mineral 330ml. Mereka menyajikan meal set dengan napkin, sendok mini, garpu, dan pisau. 

Tahu apa yang menggelitik? Pramugari, dengan soft spoken bertanya, “Makanan akan kami sajikan setelah take off. Apakah berkenan untuk disajikan atau tidak?”

Kalau saja saya menjawab sesuai yang ada di otak mungkin begini jawabannya: “Mbak bercanda, ya? Retoris sekali. Kok pake ditanya to. Ya, sudah jelas berkenan banget.” 

Rupanya saya belum cukup kaya untuk menolak sajian tersebut. Harga tiket pesawat sudah mahal, ya masak mau menolak makanan.

Observasi OKB (Orang Kaya Beneran dan Orang Kaya Baru)

Durasi penerbangan yang tidak terlalu lama membuat saya enggan untuk memejamkan mata. Akan lebih berfaedah untuk saya mengamati mana orang yang kaya beneran dan rela membeli tiket pesawat tipe bisnis ini. Mana tau ada yang seperti saya. Yang terpaksa membeli tiket pesawat kelas bisnis (terpaksa tapi senang). 

Kursi kelas bisnis penerbangan ini ada 12 dan terisi 8 saja termasuk saya. Saya mulai dengan salah satu penumpang. 

Seorang pria dengan kemeja kotak-kotak dan vest necis. Kalau boleh menebak, mungkin beliau adalah pejabat. Minimal orang penting. Hal ini terbukti setibanya di Makassar. Baru juga masuk bandara, ada ajudan atau mungkin protokoler yang menyambut beliau. Mereka sigap, langsung membawakan tas bapak tersebut. 

Ada juga dua ibu-ibu yang kalau saya lihat juga bukan orang dengan UMR Jogja. Mereka mengenakan sepatu balerina merk Puma, kaca mata hitam, memangku tas lengkap dengan gantungan Labubu. 

Terakhir, ada juga yang kalau boleh berasumsi beliau sama seperti saya yang baru pertama kali di kelas bisnis. Sepanjang perjalanan, dia banyak mendokumentasi. Mulai dari menu makanan, ambience di kelas bisnis, dan tentunya swafoto. Pemegang tiket pesawat kelas bisnis ada yang modelan gitu juga, ya.

Benefit pemegang tiket pesawat kelas bisnis after landing

“Kita telah tiba di Bandar Udara Sultan Hasanuddin. Kami akan memprioritaskan penumpang kelas bisnis untuk turun terlebih dahulu dari pesawat.”

Oke, saya turun dari pesawat dengan hati senang tapi agak nggak rela. Pengalaman jadi pemegang tiket pesawat kelas bisnis ini akan segera berakhir. 

Pesawat parkir agak jauh dari pintu bandara dan mengharuskan kami menaiki shuttle bus. Saya sudah mengira akan menunggu beberapa waktu sebelum shuttle bus penuh terisi. Eh, kelas bisnis berbeda. 

Bus langsung bergerak setelah orang ke-8, atau seluruh penumpang kelas bisnis, masuk ke dalam bus. Begitu juga dengan bagasi yang duluan tiba, dengan tag priority baggage. Mantap betul.

Sebetulnya, saya satu pesawat dengan teman saya yang juga berangkat dari Pontianak. Bedanya, dia dapat tiket pesawat kelas ekonomi. 

Saya yang merasa harus agak jemawa ini tentu tidak melewatkan kesempatan untuk ngece dan segera mengetik dan menghubungi dengan kalimat, “Mana nih, kelas ekonomi lama juga, ya.” 

Tak berselang lama, teman saya sudah melihat saya dari kejauhan dan membalas dengan singkat dan padat: “Penumpang kelas bisnis kok nggawa kardus amplang.” 

Saya akui, kali ini saya kalah telak. Money can’t buy class, tapi setidaknya bisa membeli amplang.

Penulis: Mozara Kartika Putri

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Harga Tiket Pesawat Tujuan Dalam Negeri Nggak Ngotak! Harganya Lebih Mahal daripada ke Luar Negeri

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 2 Januari 2026 oleh

Tags: balikpapanharga tiket pesawatkelas bisniskelas ekonomimakassartiket pesawat
Mozara Kartika Putri

Mozara Kartika Putri

Pecinta Sheila On 7 garis tipis-tipis. Masih menjadi seorang associate researcher yang suka mengamati kelakuan manusia di bumi dan memiliki minat tinggi di bidang pemberdayaan masyarakat. Suka explore kuliner enak di berbagai kota dan gemar bermain badminton.

ArtikelTerkait

Sambal Adalah Teman yang Paling Pas untuk Pisang Goreng

Sambal Adalah Teman yang Paling Klop untuk Pisang Goreng

25 Maret 2020
Kesan Pertama Naik Trans Mamminasata, BRT-nya Makassar Terminal Mojok

Kesan Pertama Naik Trans Mamminasata, BRT-nya Makassar

6 Desember 2022
makassar

Tentang “Maaf Sekadar Mengingatkan” yang Lagi Tren di Makassar

9 Agustus 2019
5 Kue Tradisional yang Sering Muncul dalam Pernikahan Adat Bugis-Makassar Terminal Mojok

5 Kue Tradisional yang Sering Muncul dalam Pernikahan Adat Bugis-Makassar

8 September 2022
20 Kata Slang Makassar yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Anak Muda Terminal Mojok

20 Kata Slang Makassar yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Anak Muda

21 Februari 2022
makassar gorontalo kita mojok

Rumitnya ‘Kita’ Saat Gorontalo dan Makassar Bertemu

20 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan 'Parkir Gratis'!

Jalan-jalan di Surabaya Itu Mudah dan Murah, tapi Jadi Mahal karena Kebanyakan Tukang Parkir Liar

21 April 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co pasar rebo

Warga Depok Habiskan Hampir 2 Juta Rupiah per Bulan Cuma buat Kerja di Kawasan Senayan, Dedikasinya Tinggi!

16 April 2026
Bangkalan dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia Mojok

Bangkalan Madura dan Sampang Memang Bertetangga, tapi Warga Bangkalan Jauh Lebih Sejahtera dan Bahagia

21 April 2026
4 Pertanyaan yang Paling Sering Ditanyakan ke Mahasiswa Universitas Terbuka mahasiswa UT kuliah di UT

Saya Sempat Meremehkan Universitas Terbuka, Sampai Akhirnya Saya Menjalaninya Sendiri sambil Kerja

20 April 2026
Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat  Mojok.co

Sawojajar Malang Mengingatkan akan Labirin Pogung Jogja, Sama-sama Membingungkan dan Bikin Tersesat 

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial
  • Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University
  • Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja
  • Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti
  • 3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya
  • Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.