Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Pesut Adalah Simbol Kota Samarinda, tapi Orang Samarinda Sendiri Belum Pernah Lihat Pesut Secara Langsung

Wisda Aprilia Syaka oleh Wisda Aprilia Syaka
12 April 2026
A A
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua (motomotosc via Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Dua puluh dua tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menghirup debu dan udara Kota Samarinda. Sebagai anak muda yang tumbuh besar di Ibu Kota Kalimantan Timur (Kaltim) ini, tentunya telinga saya sudah sangat akrab dengan Pesut Mahakam. Karena nama Pesut sendiri ada di mana-mana, mulai dari logo pemerintah, logo kantor, sampai jadi maskot yang nampang di sudut-sudut kota.

Tapi ada satu fakta yang kalau dipikir-pikir lucu sekaligus miris yakni selama dua dekade lebih hidup di sini. Saya, dan mungkin banyak dari warga Samarinda belum pernah sekalipun melihat pesut secara langsung di habitat aslinya.

Sungguh ironi dan jujur aja kalau diibaratkan rasanya kayak lagi ngefans sama band legendaris, punya merchandise-nya, hafal lagunya, hafal sejarahnya, tapi belum pernah nonton konsernya sama sekali alias fans layar kaca.

Mau liat pesut aja susahnya minta ampun

Kalau bersikeras mau melihat pesut, perjuangannya lumayan menguras energi. Kata orang-orang, kita harus ke hulu ke arah Desa Pela atau Danau Semayang yang berada di Kutai Kartanegara. Masalahnya, mobilitas kita di Kaltim ini masih terbatas banget.

Kaltim belum punya akses transportasi publik yang sat-set seperti kereta api, dan Samarinda pun sama saja. Pilihannya cuma motoran jauh, naik mobil, atau jalur sungai pakai kapal. Sampai di sana pun, tidak langsung memberi jaminan kita bisa melihat pesut, karena pesut adalah makhluk yang pemalu dan misterius. Bertemu dengan mereka juga perlu keberuntungan, mereka jarang muncul ke permukaan.

Apalagi kalau kita ngomongin data, populasi mereka sekarang cuma sisa 60-an ekor. Sedih, kan? Hewan seikonik ini jumlahnya bahkan lebih sedikit daripada jumlah mahasiswa satu angkatan di jurusan kuliah saya. Sayangnya, isu kepunahan pesut ini seolah tenggelam dan kurang dibahas di luar Kaltim. Padahal kondisinya sudah masuk tahap darurat dan pesut merupakan satu-satunya lumba-lumba air tawar di Indonesia.

BACA JUGA: 4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Tugu Merah Samarinda yang… yah, gitu

Lalu, ada satu hal lagi yang sempat bikin warga Samarinda termasuk saya geleng-geleng kepala, yaitu tugu siluet pesut yang ada di tengah kota. Tugu Merah yang konon menghabiskan biaya 1,1 miliar rupiah itu awalnya malah bikin orang bingung karena sulit dikenali. Pas pertama kali lewat, saya sampai bertanya-tanya sendiri, “Itu tugu bentuknya apa, ya?” Bahkan banyak orang yang bercanda kalau bentuknya lebih mirip logo browser Opera Mini daripada seekor mamalia air.

Baca Juga:

Pengalaman 6 jam mampir ke IKN saya ringkas untuk kalian yang penasaran dengan kondisinya

Menyandang Gelar Andi sebagai Perempuan Bugis Itu Membanggakan, tapi Ekspektasi Orang-orang Kadang Kelewat Melelahkan

Saya sampai harus cari tahu di internet dulu buat memastikan kalau itu memang siluet pesut. Dari situ muncul pikiran random di kepala saya, apa mungkin tugu itu dibuat abstrak karena memang warga Samarinda sudah saking lamanya tidak lihat bentuk asli pesut? Jadi pas dibuatkan bentuk yang nyata, kita malah nggak kenal.

Tugu 1,1 miliar itu seolah menjadi monumen paradoks. Kita sanggup bikin simbol yang mahal di tengah kota, tapi kita sering lupa sama nasib makhluk aslinya yang lagi berjuang bertahan hidup di sungai sana. Apalagi pesut masih terus terancam oleh aktivitas industri dan transportasi ponton batubara yang tak henti-hentinya melintas di Sungai Mahakam. Jangan sampai pesut cuma jadi sekadar siluet merah yang sulit dipahami, sementara sosok aslinya pelan-pelan menghilang dari ingatan dan realita.

Semoga pesut bisa selamat

Sebagai warga asli Samarinda, saya berharap pesut bukan hanya berakhir sebagai logo di kertas surat atau Tugu Merah yang membingungkan. Kita butuh aksi nyata, akses edukasi yang lebih luas, dan perlindungan habitat yang tegas. Jangan sampai di usia saya yang ke-40 nanti, satu-satunya cara untuk melihat pesut adalah melalui foto-foto lama di museum, sambil menjelaskan kepada generasi mendatang bahwa dulu, di sungai yang saya cintai ini, pernah hidup makhluk yang sangat indah yang bahkan saya pun tak sempat menyapanya.

Saya juga berharap warga Samarinda tidak hanya bangga sama simbolnya aja. Kita harus mulai peduli sama habitatnya, biar nanti kalau ada orang luar Kaltim nanya, “Pernah lihat pesut nggak?”, jawabannya bukan lagi, “Nggak pernah, lihat tugunya aja bingung.”

Penulis: Wisda Aprilia Syaka
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Kelebihan Kuliah di Samarinda yang Bikin Kuliah di Jogja Jadi Kelihatan Biasa Saja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 April 2026 oleh

Tags: kalimantan timurkota makassarmakassarpesut mahakam
Wisda Aprilia Syaka

Wisda Aprilia Syaka

Fresh graduate Ilmu Komunikasi dari Universitas Mulawarman. Tertarik pada isu lingkungan, budaya, serta tren yang berkembang di kalangan Gen Z. Aktif menulis sejak masa perkuliahan dan gemar mengeksplorasi ide melalui tulisan. Di waktu luang, suka membaca novel dan menikmati cerita dari berbagai sudut pandang.

ArtikelTerkait

Bassang, Menu Sarapan Khas Makassar yang Tak Kalah Nikmat dari Sereal

Bassang, Menu Sarapan Khas Makassar yang Tak Kalah Nikmat dari Sereal

17 Juni 2023
5 Ciri Khas Rute Bus Makassar-Toraja terminal mojok.co

5 Ciri Khas Rute Bus Makassar-Toraja

5 Januari 2022
6 Tempat di Kota Makassar yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi terminal mojok.co

6 Tempat di Kota Makassar yang Sebaiknya Tidak Dikunjungi

9 Desember 2021
5 Hal Menarik Saat Naik Kapal Pelni dari Baubau ke Makassar terminal mojok.co

5 Hal Menarik Saat Naik Kapal Pelni dari Baubau ke Makassar

20 Januari 2022
Jalangkote, Kasta Tertinggi Gorengan Takjil di Makassar

Jalangkote, Kasta Tertinggi Gorengan Takjil di Makassar

15 Maret 2025
Saraba, Minuman Khas Makassar yang Tak Gentar Melawan Zaman

Saraba, Minuman Khas Makassar yang Tak Gentar Melawan Zaman

25 September 2023
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju langsung dicap nakal (Unsplash)

Tinggal di desa itu sulit, salah pakai baju sedikit saja langsung dicap nakal

15 Agustus 2026
Selain Gaji Kecil, Inilah 4 Sisi Gelap Menjadi Guru Sekolah Swasta yang Jarang Terekspos

Sekolah swasta yang melarang gurunya mendaftar ASN itu aneh, ngasih gaji layak nggak mau, tapi seenaknya menghentikan impian seseorang

15 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1 Mojok.co

Kuliah S2 itu cuma lanjutan, kualitas asli seseorang justru terlihat saat kuliah S1

18 Agustus 2026
Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar Terminal

Bandung Kulon, kecamatan medioker Kota Bandung yang ternyata punya potensi besar

21 Agustus 2026
5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini (Mojok.co)

5 hal berkesan selama jadi peneliti lapangan yang bikin saya bersyukur telah memilih pekerjaan ini 

16 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.