Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kekonyolan Kader PMII Menyikapi Model Kaderisasinya

Moh. Syauqi Fath oleh Moh. Syauqi Fath
18 Agustus 2020
A A
pmii mojok

pmii mojok

Share on FacebookShare on Twitter

“Sebuah organisasi bisa saja tumpul, stagnan, jumud, jika tidak punyah arah dan agenda masa depan. Cuma “ngeloni” SK, berkubang dalam masalah internal dan melakukan rutinitas tahunan yang monoton tanpa meletakkan diri dalam arus perubahan dan dinamika konstelasi yang ada”. Pernyataan ini saya kutip dari blog pribadi salah seorang kader PMII di Yogyakarta yang sebentar lagi akan lulus dari Universitas Panglima Perangnya Majapahit yg masyhur itu melalui jalur Covid-19.

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel di Mojok.co dengan judul “Kekonyolan Model Kaderisasi Ala PMII” yang sontak membuat saya mengernyitkan dahi. Perlu waktu makan tiga kali sehari bagi saya untuk memahami isi tulisan tersebut. Entah karena lelet memahaminya atau ada faktor eksternal lain yang mempengaruhinya. Setelah saya baca berulang-ulang, saya menemukan inti dari tulisan itu. Kekesalan.

Ya, tulisan itu berangkat dari rasa kesal seorang kader yang sepertinya baru 3-4 tahun menyelesaikan Mapabanya. Kekesalan ini bikin saya berdecak kagum, lha kok iso? Jarang orang yang kesal sama organisasinya terus Ia tuliskan. Ndilalah, dimuatnya di portal online terkemuka lagi. Produktif syekaliii.

Di awal tulisannya, saya membacanya dengan penuh khidmat. Persoalan Ospek dan yang sejenisnya dengan segala dinamikanya yang terjadi di berbagai kampus di belahan Nusantara ini ya tidak jauh beda. Menampilkan citra positif dan memberikan kesan baik pada pertemuan pertama itu dilakukan oleh siapa saja kok. Makanya tak usah heran kalau kakak panitia Ospek punya peran seperti SPG/SPB. Percayalah, ada gengsi yang dipertaruhkan untuk hal semacam itu. Xixixi….

Saya makin khidmat membacanya saat si penulis membandingkan seorang Mahbub Djunaidi dengan Cak Imin. Ada sebuah kekecewaan yang besar saat kader-kader PMII hari ini lebih memilih mengikuti jejak Ketua Umum DPP PKB, alih-alih mengikuti jejak Sang Pendekar Pena.

Saya merenunginya, lalu berpikir kalau Cak Imin yang hari ini berganti sapaan akrab menjadi Gus Ami meniti karir politiknya pastilah melewati proses yang penuh keringat dan berdarah-darah. Merebut PKB dari tangan Gus Dur mosok dikira gampang. Kalau mengikuti jejak Gus Ami itu dikira enak dan gampang, tentu tidak akan ada antrean panjang di Jakarta untuk menduduki pos-pos strategis. Tentu ini bukan jalan ninja, melainkan jalan kura-kura, Bosss…

Hidup ini tentang pilihan, mau pilih Gus Ami atau Mahbub Djunaidi, mau pilih Pak Akbar Tanjung atau Cak Nur, asal bisa bertanggung jawab atas pilihannya. That’s fine, Mylov.

Setelah membaca separuh isi artikel ini, ndilalah buat saya mendadak cengengesan. Persoalan Pemilwa memang selalu menjadi sesuatu yang seksi untuk dibahas. Perihal perebutan kuasa kampus, dan seputar kontestasi sengit yang terjadi antar organisasi ekstra-kampus ini tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan. Bisa dibilang kalau pesta demokrasi yang terjadi di kampus ini adalah ajang pertaruhan nama baik organisasi. Sek, jangan terlalu serius bacanya. Selawww…

Baca Juga:

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Itu (Masih) Organisasi Mahasiswa Islam, kan? Iya, kan?

Organisasi ekstra yang berkembang di lingkungan PTN ataupun PTKIN biasanya sih lebih variatif alias lebih banyak pilihannya. Dari yang haluannya kiri, tengah, sampai mentok kanan. Dan to be honest, organisasi mana yang ndak mau kadernya banyak, tanpa mengesampingkan kualitas. Mementingkan kuantitas saja bukan berarti kandang bebek atau kandang hewan ternak lainnya. Mementingkan kualitas saja jelas organisasi bukan perusahaan yg mendulang profit. Organisasi ekstra kampus sebagian besar adalah organisasi kaderisasi. Jadi, dua-duanya sama penting, Boskuhhh….

Kembali soal pemilwa, yang merupakan ajang pesta demokrasi di kampus. Dari namanya saja Pemilihan Umum Mahasiswa, masa masih perlu penjelasan panjang lebar? Oke, singkatnya begini. Rutinitas tahunan kampus ini identik dengan perebutan kekuasaan. Namanya saja perebutan kok malah mau dikasih sama orang lain. Tentu di dalamnya ada pertarungan untuk menjadi yang terbaik sehingga kemudian menarik perhatian publik mahasiswa untuk dipilih.

Jadi yang pasti organisasi ekstra yang terlibat pasti memilih kader-kader terbaiknya. Entah itu PMII, HMI, KAMMI dan sejenisnya. Nah, Soal tafsir kata perebutan tadi, silahkan maknai sendiri. Sekalipun mau dijelaskan selembut apapun, kalau terlanjur benci dan tidak ada sedikitpun ruang untuk kasih sayang. Susah. Eakkk..

Jadi intinya tuh begini. Kalau mengukur model kaderisasi sebuah organisasi mahasiswa itu hanya pada ospek, pemilwa, dan rapat tahunannya saja, itu nggak adil. Itu semua hanya bagian kecil dari proses. Bukankah senior-senior selalu ndawuh “proses tidak akan mengkhianati hasil”. Tentu proses yang dimaksud adalah yang diyakini dengan sebenar-benarnya. Salam tepok jidat!

BACA JUGA Kekonyolan Model Kaderisasi ala PMII.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 18 Agustus 2020 oleh

Tags: kaderisasiPMII
Moh. Syauqi Fath

Moh. Syauqi Fath

Mahasiswa yang sedang berjuang untuk lulus.

ArtikelTerkait

Organisasi Mahasiswa di Bangkalan Madura Tak Mungkin Melawan Oligarki, Mereka Sudah Sibuk Melawan Teman Sendiri

Organisasi Mahasiswa di Bangkalan Madura Tak Mungkin Melawan Oligarki, Mereka Sudah Sibuk Melawan Teman Sendiri

9 September 2024
PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

PMII Bangkalan Aneh, Paling Getol Mengkritik Pemkab, tapi Prokernya Selalu Bermanis-manis sama Pejabat

28 Mei 2026
hmi vs pmii uin ciputat kaderisasi kelemahan kelebihan senioritas uin syarif hidayatullah fakultas adab dan humaniora mojok

Balasan untuk Tulisan tentang HMI vs PMII yang Terbit di Terminal Mojok

22 April 2020

3 Ormek yang Sering Dianggap Underbow Partai, Meski Sering Deklarasi Independen

12 September 2021
Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

Musuh Terbesar Organisasi Ekstra Kampus Adalah Kadernya Sendiri

17 Agustus 2022
HMI PMII

3 Alasan yang Bikin HMI Lebih Laku Dibanding PMII di Fakultas Saya

20 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Tanda Warung Bebek Madura yang Sudah Pasti Enak: Makin Sederhana, Makin Enak!

Pedoman Kuliner Warung Bebek Madura, Saya Tuliskan karena Banyak yang Tertipu Tampilan Luarnya

13 Juli 2026
Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak Mojok.co

Konflik batin dosen nggak enakan hadapi mahasiswa pemalas: diberi nilai jelek kasihan, diluluskan kok malah ngelunjak

15 Juli 2026
Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout Mojok.co

Stop bilang orang Sunda pemalas, kami cuma tahu cara menikmati hidup tanpa harus burnout

17 Juli 2026
Pelajaran mahal bisnis rumahan di Surabaya biar cepet balik modal (Unsplash)

Pelajaran mahal buat kamu yang ingin buka usaha rumahan berupa warung makan di Surabaya supaya cepat balik modal

13 Juli 2026
Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial yang kerap terlewatkan Terminal

Serengan, kecamatan paling mungil di Kota Solo yang potensial, tapi kerap terlewatkan

12 Juli 2026
4 Tempat Bersejarah di Surabaya Barat yang Bisa Dikunjungi biar Nggak Melulu ke Mal

Surabaya Barat: kota dalam kota yang bikin warga aslinya jadi tamu

17 Juli 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.