Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kebebasan Berpendapat di Media Sosial Bagian 2: Bodo Amat adalah Cara Bermedia Sosial Paling Benar

Gilang Oktaviana Putra oleh Gilang Oktaviana Putra
22 Oktober 2019
A A
kebebasan berpendapat

kebebasan berpendapat

Share on FacebookShare on Twitter

Baca bagian 1 di sini: Kebebasan Berpendapat di Media Sosial: Jangan Bedakan Antara Media Sosial dan Kehidupan Nyata

Mengenai kebebasan berpendapat di media sosial, saya menemukan sebuah utas di Twitter yang menarik. Dalam utas tersebut, penulis utas menyebutkan bahwa setiap konten yang ada di internet adalah milik publik, kalau nggak siap dengan respon netizen jangan di-upload ke internet. Sebuah pernyataan yang nggak salah, namun rasanya masih kurang tepat. 

Memang semua orang bebas berpendapat di media sosial, namun harus tahu batasan-batasan yang nggak boleh dilewati. Dalam tulisan saya sebelumnya saya menulis bahwa “Alangkah baiknya jika kebebasan berpendapat di media sosial, kita tetap memegang teguh norma-norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari.” Norma-norma tersebut berperan sebagai garis batas yang nggak boleh dilewati oleh semua pengguna meda sosial, tujuannya agar kehidupan media sosial menjadi lebih tentram. 

Sejatinya, kebebasan berpendapat nggak sama dengan kebebasan menghujat; kebebasan beropini nggak sama dengan kebebasan membully. Nampaknya ini yang sedang terjadi di jagat media sosial. Orang-orang lupa bahwa ada batasan yang nggak boleh dilewati, mereka seperti menemukan tempat baru yang melepaskan mereka dari norma-norma sosial kehidupan manusia. Tapi bukan begitu cara mainnya. 

Banyak yang mengaku menjunjung kebebasan berpendapat tapi nggak bisa menerma pendapat orang lain yang berbeda. Kalau begitu, kebebasan berpendapat seperti apa yang mereka junjung? Menjunjung kebebasan berpendapat berarti mampu menerima pendapat yang berbeda-beda. Yang paling penting: jangan merasa paling benar dengan pendapatmu sendiri. Ngaku open minded tapi kok nggak bisa terima perbedaan pendapat orang lain? 

Kamu boleh mendukung LGBT, menerapkan konsep “hijrah” mu sendiri, mempunyai standar kecantikanmu sendiri, tapi jangan memandang rendah pendapat orang lain yang bertentangan atau berbeda dengan pendapatmu. Masing-masing orang punya cara pandangnya sendiri, dan ini adalah hal yang paling menarik dari kebebasan berpendapat. Buat saya, kebebasan berpendapat yang seperti ini membuat saya nggak perlu menebak apa yang orang lain pikirkan. Lagipula menambah perspektif orang lain terhadap suatu isu bisa membantu saya mendapatkan pemahaman yang lebih luas. 

Melihat yang terjadi di media sosial sangat bertentangan dengan kehidupan sehari-hari, saya pun sampai pada satu kesimpulan: bodo amat adalah cara bermedia sosial yang paling benar sekarang. Kalau kamu nggak bisa menerima perbedaan pendapat, kamu bisa bersikap bodo amat dengan pendapat orang lain. Terserah mereka deh mau mikir gimana, yang jelas gue mikir begini. Ketika berada dalam lingkungan orang-orang egois dan hanya memerdulikan dirinya sendiri, yang bisa kita lakukan adalah beradaptasi atau mengacuhkannya. Beradaptasi berarti kita ikut menjadi bagian dari lingkungan tersebut, sedangkan mengacuhkannya berarti kita membiarkan hal itu terjadi meski ingin menghilangkannya. Bodo amat adalah salah satu cara untuk mengacuhkan lingkungan tersebut.

Tahap yang lebih ekstrim lagi, kita bisa bersikap bodo amat pada apa saja yang sedang terjadi di media sosial. Setiap orang punya arena bermainnya sendiri di media sosial, apa yang terjadi di sana biar saja tetap di sana. Arena bermain yang kita punya masih cukup asik dan menyenangkan, kan? Tahap bodo amat berikutnya adalah melakukan apa yang kita anggap benar tanpa memerdulikan pendapat orang lain. Terserah orang lain mau melakukan apa saja di media sosial, yang penting nggak bertentangan dengan konsep “benar” versi kita sendiri. 

Baca Juga:

4 Jasa yang Tidak Saya Sangka Dijual di Medsos X, dari Titip Menfess sampai Jasa Spam Tagih Utang

Drama Cina: Ending Gitu-gitu Aja, tapi Saya Nggak Pernah Skip Menontonnya

Kamu bisa saja mendebat semua orang yang punya pendapat berbeda denganmu selama kamu punya energi yang besar untuk melakukannya. Tapi menurut saya, melakukan hal itu hanya buang-buang energi yang kamu miliki sih. Anehnya, begitu kebebasan berpendapat mau dibatasi oleh pemerintah, orang-orang kompak menolaknya; tapi waktu nggak dibatasi malah disalah gunakan buat menghujat dan membully orang lain. Jadi yang siapa yang error di sini? Pemerintah atau netizen? 

Nggak ada salahnya bersikap baik di media sosial layaknya yang kita lakukan sehari-hari. Mungkin ini dampak negatif internet yang membuat semuanya serba terbuka dan mudah dicari, atau mungkin memang sebenarnya orang Indonesia aslinya seperti ini saat terlepas dari norma-norma sosial kehidupan manusia. (*)

BACA JUGA Rekomendasi Makeup dan Skincare Buat Aksi atau tulisan Gilang Oktaviana Putra lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2019 oleh

Tags: hijrahlgbtMedia SosialNetizenpemerintah
Gilang Oktaviana Putra

Gilang Oktaviana Putra

Penjaga toko buku daring di ige, suka ngoceh di twitter, dan pengin jadi kucing.

ArtikelTerkait

menyimpan kenangan

Menyimpan Kenangan di Facebook, Buat Apa, Sih?

23 Agustus 2019
Beberapa Update Fitur WhatsApp yang Sangat Dibutuhkan sama Penggunanya terminal mojok.co

Update Fitur WhatsApp yang Sangat Dibutuhkan Penggunanya

13 Agustus 2021
Fitur Gift TikTok Harusnya Juga Dihapus seperti TikTok Shop

Fitur Gift TikTok Harusnya Juga Dihapus seperti TikTok Shop

20 Oktober 2023
Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan terminal mojok.co

Tipe-tipe Netizen di Info Cegatan Jogja Saat Menanggapi Postingan

21 November 2020
Strategi Promosi Film 'Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas' Memang Sempat Menipu sal priadi pemeran ajo kawir marthino lio ladya cheryl eka kurniawan mojok.co

Strategi Promosi Film ‘Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas’ Memang Sempat Menipu

7 November 2020
Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia terminal mojok.co

Vlog Barbie dan Kanal YouTubenya Lebih Berfaedah Dibanding Vlog Para Manusia

14 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Memang Santai, tapi Diam-diam Banyak Warganya yang Capek karena Dipaksa Santai meski Hampir Gila

2 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

Lawson X Jujutsu Kaisen: Bawa Kerusuhan Klenik Shibuya di Jajananmu

31 Januari 2026
Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental Mojok.co

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

2 Februari 2026
Andai Jadi Warga Tangerang Selatan, Saya Pasti Sudah Pusing Tujuh Keliling. Mending Resign Jadi Warga Tangsel!

Jangan Nilai Buku dari Sampulnya, dan Jangan Menilai Tangerang Selatan Hanya dari Bintaro, Alam Sutera dan BSD Saja

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Tan Malaka “Hidup Lagi”: Ketika Buku-Bukunya Mulai Digemari dan Jadi Teman Ngopi
  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.