Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Keadilan Restoratif: Istilah yang Tak Lagi Berharga Gara-gara Penegak Hukum Indonesia

Raynal Payuk oleh Raynal Payuk
28 Oktober 2022
A A
Keadilan Restoratif: Istilah yang Tak Lagi Berharga Gara-gara Penegak Hukum Indonesia

Keadilan Restoratif: Istilah yang Tak Lagi Berharga Gara-gara Penegak Hukum Indonesia (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Permasalahan terkait bagaimana keadilan restoratif digunakan untuk mengerdilkan kekerasan pria terhadap wanita bahkan sudah dibahas oleh para pakar. Allison Moris dalam jurnalnya, menekankan bahwa untuk keadilan restoratif dapat bekerja dalam kejahatan kekerasan pria terhadap wanita, pelaku harus meminta maaf dan mengakui kesalahannya di depan korban serta keluarga. Namun, hal ini tidak membuat proses peradilan pidana dikesampingkan karena bagi Morrison, mereka tetaplah panglimanya dalam menyelesaikan kasus kekerasan pria terhadap wanita.

Bukan cuma mengkhianati semangat keadilan restoratif, penyelesaian kasus pemerkosaan dengan menikahkan pelaku juga bertentangan dengan semangat peraturan perundang-undangan mengenai keadilan restoratif. Pasal 5 Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2021 telah mensyaratkan tidak timbulnya penolakan atau keresahan di masyarakat sebagai syarat materiil dilaksanakannya keadilan restoratif. Bahkan Pasal 5 Peraturan Kejaksaan Agung Nomor 15 Tahun 2020 lebih jelas memberikan syarat bahwa ancaman pidana penjara terhadap kejahatan tersebut di bawah 5 tahun sebagai syarat dilakukan penutupan perkara menggunakan metode keadilan restoratif.

Pertama, kasus pemerkosaan merupakan kejahatan yang diancam 12 tahun penjara oleh Pasal 285 KUHP. Bukan lagi tidak memenuhi syarat termaktub dalam Pasal 5 Peraturan Kejaksaan Agung, pemerkosaan termasuk dalam golongan kejahatan diancam pidana berat di KUHP. Menganggap bahwa pemerkosaan bisa diselesaikan dengan menikahkan pelaku sama saja mengerdilkan kejinya kejahatan tersebut. Itu seperti bilang bahwa perampok bersenjata bisa dibebaskan dan dimaafkan jika dia mau tinggal bersama korban yang dirampoknya.

Kedua, masyarakat tak pernah diberikan akses terhadap perkembangan kasus pemerkosaan yang sering dipaksakan untuk diselesaikan lewat jalur keadilan restoratif. Padahal tidak adanya penolakan masyarakat menjadi salah satu syarat terpenting dalam dijalankannya keadilan restoratif. Apalagi mengingat bahwa jika masyarakat merasa pelaku belum meminta maaf secara sungguh-sungguh dan mengoreksi pola pikir yang membuatnya melakukan kejahatan keji tersebut, hal tersebut akan mencederai rasa keadilan masyarakat.

Saya rasa, kita semua punya kepentingan untuk memastikan bahwa pelaku tidak lagi mencoba mengulangi kejahatannya. Maksudnya siapa yang senang melihat pemerkosa hidup bebas dan bercengkerama dengan orang lain tanpa ada rasa bersalah.

Namun, saat semua teori mengenai keadilan restoratif mengedepankan dialog antara korban, pelaku, keluarga kedua belah pihak, dan komunitas, penegak hukum malah berpikiran bahwa merekalah penentu utama akan berhasilnya keberlangsungan proses ini. Padahal inti utama dari keadilan restoratif adalah keterlibatan aktif korban dan masyarakat. Sekarang dengan diceraikan korban oleh pelaku, tercipta pertanyaan besar terkait keefektifan “keadilan restoratif ala penegak hukum Indonesia” dalam menangani kasus pemerkosaan. Jangan sampai bukan keadilan yang dicari, tapi malah cuma harmoni semu dan pencitraan akan ketentraman masyarakat.

Maka solusi paling tepat dalam menyelesaikan kasus pemerkosaan menurut saya adalah tetap dengan dilanjutkan ke ranah peradilan pidana dan penjatuhan pidana penjara. Di saat bersamaan, hakim dapat mempertimbangkan keringanan hukuman bagi pelaku jika dirinya mau melakukan dialog dengan korban dan meminta maaf secara langsung di depan umum. Mengutip pakar kriminologi Kathleen Daly, keadilan restoratif harus dipahami sebagai hukuman alternatif, bukan alternatif dari hukuman. Bahwa hukuman pidana bukan sesuatu yang harus dihindari dari keadilan restoratif, tetapi harus dilihat sebagai salah satu cara merestorasi rasa keadilan yang tercederai.

Dalam pemerkosaan, kerugian terbesar dari korban adalah hilangnya martabat dan kendali korban atas tubuhnya. Hal yang tak bisa digantikan dengan uang makan dari suami, tetapi lewat permintaan maaf ke korban, pengakuan akan kesalahannya secara terbuka dan rehabilitasi pelaku agar tak mengulangi perbuatannya. Jadi jangan pikir bahwa pemerkosa bisa terus bekerja dan bebas bersosialisasi merupakan bentuk keadilan restoratif. Sebab, akan jadi pertanyaan rasa keadilan siapa yang dipulihkan? Korban, masyarakat, atau jangan-jangan cuma pelaku?

Baca Juga:

Red Flag Hukum Indonesia: Istri Dilaporkan karena Suami Suka Mabuk

Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja

Penulis: Raynal Payuk
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pemerkosaan: Mengutuk Pelakunya, Membongkar Akarnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.
Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 28 Oktober 2022 oleh

Tags: Hukum Indonesiakeadilan restoratifpemerkosaanpenegak hukum
Raynal Payuk

Raynal Payuk

Mantan Pers Kampus Dalam Pencarian Jati Diri dan Pekerjaan. Saat ini menjadi seorang pemikir yang sedang berusaha memecahkan paradoks tertua umat manusia

ArtikelTerkait

marital rape

Making Love dan Rape itu Dua Hal yang Berbeda!

3 Oktober 2019
Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja mojok.co/terminal

Mengenang Artidjo Alkostar yang Sebetulnya Biasa-biasa Saja

5 Maret 2021
Ningsih Tinampi dan Lingkaran Setan Patriarki

Ningsih Tinampi dan Lingkaran Setan Patriarki

26 November 2019
Paradara, Hukuman Mati bagi Pemerkosa di Masyarakat Jawa Kuno MOJOK.CO

Paradara, Hukuman Mati bagi Pemerkosa di Masyarakat Jawa Kuno

6 Agustus 2020
nicholas angel hot fuzz polisi penegak hukum mojok

Seharusnya, Standar Penegak Hukum Itu kayak Nicholas Angel

16 September 2020
Istri Dilaporkan karena Suami Suka Mabuk Adalah Red Flag Hukum Indonesia terminal mojok.co

Red Flag Hukum Indonesia: Istri Dilaporkan karena Suami Suka Mabuk

16 November 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal Mojok.co

ATM Pecahan 20 Ribu Menyelamatkan Saya dari Biaya Jasa Tukar Uang Baru Pinggir Jalan yang Nggak Masuk Akal

10 Maret 2026
Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

Bantu yang Bawah, tapi Jangan Ganggu yang Atas

8 Maret 2026
Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Tidak Pernah Mengecewakan Mojok.co

Nasi Megono Wonosobo, Olahan Nasi Terbaik yang Pernah Saya Cicipi dan Layak Dikenal Lebih Banyak Orang

11 Maret 2026
Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

Kulon Progo Punya Pantai, tapi Tetap Kalah Jauh Dibanding Gunungkidul, Pantai di Sini Bikin Bingung Saking Biasanya!

9 Maret 2026
Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

Purwokerto (Tampaknya) Belum Ramah untuk Pejalan Kaki, Trotoar Masih Dikuasai Kapitalis-kapitalis Kecil

8 Maret 2026
Lebaran Saatnya Masa Bodoh dengan Ocehan Tetangga (Unssplash)

Refleksi Lebaran Bagi Kepala Rumah Tangga: Tunaikan yang Wajib, Masa Bodo dengan Gengsi dan Ocehan Tetangga

14 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha
  • Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit
  • Makanan Khas Jawa Timur yang Paling Tidak Bisa Dihindari, Jadi Pelepas Rindu ketika Mudik Setelah “Disiksa” Makanan Jogja
  • Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina
  • Ujian Terberat Laki-laki yang Lebih Kejam dari Menahan Rindu: Dihajar Rute Bus Ekonomi Jogja Jambi hingga Terserang “Man Flu”
  • Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.