Jangan gampang tergiur dengan pemandangan desa yang kelihatan asri. Nyatanya, saat ini, tinggal di desa menjadi dilema bagi saya semenjak seorang peternak pintar tiba-tiba punya ide mendirikan kandang ayam dekat rumah warga.
Bagi saya, mendirikan kandang ayam di dekat rumah warga adalah wujud minimnya etika pemilik peternakan. Saya tidak bekerja di kandang ayam, tidak pula mendapat keuntungan dari bisnis itu, tapi setiap hari saya merasakan kerugiannya.
Tidak ikut merasakan untungnya, tapi bau tai ayam itu harus saya terima dengan suka rela
Saya tidak ikut memiliki kandang ayam, tidak ikut memberikan pakan, juga tidak pernah ikut menikmati keuntungan setiap panen datang. Tapi, entah bagaimana pada tahun-tahun terakhir ini saya selalu mendapatkan bagian yang paling konsisten: bau tahi dan lalat yang terus hinggap di pekarangan.
Konsep dari bisnis kandang ayam ini cukup unik. Keuntungannya hanya dinikmati oleh beberapa orang saja, tapi dampaknya kena merata kepada warga yang dekat dengan kandang.
Saya tahu, bau memang tidak punya etika. Manusia juga tidak bisa mengendalikan angin. Tapi, logikanya, jika seseorang mendirikan usaha dan memperoleh manfaat dari sana, dirinya seharusnya memiliki tanggung jawab atas dampak negatifnya.
Masalahnya, hingga saat ini, saya tidak pernah mendapatkan kompensasi atas pencemaran udara yang selalu mampir. Dan yang membuat saya heran, setiap ada yang mengeluhkan kondisi ini, seolah kami tengah mempersoalkan hak orang lain yang mencari nafkah.
Penjajahan tak selalu tentang perang
Hal yang membuat saya sulit berdamai sebenarnya bukan sekedar bau tai ayam atau lalat yang datang seperti pasukan perang. Tapi, perasaan bahwa perlahan kami kehilangan kenyamanan di rumah yang sudah puluhan tahun kami tempati jauh sebelum kandang ayam itu berdiri.
Rumah yang awalnya terasa nyaman, kini tiap saat terusik dengan hilir mudik kendaraan membawa pakan. Dini hari yang seharusnya menjadi waktu paling tenang, harus sesekali terbangun sebab suara kendaraan yang disetir ugal-ugalan.
Perlu saya klarifikasi. Jalur menuju kandang bukankah jalan umum dan sebagian petak tanah dari jalan itu milik keluarga saya. Tapi saya dan keluarga sebagai pihak yang paling merugi ditempatkan sebagai kelompok yang harus memahami keadaan.
Dari sini saya sadar. Bentuk penjajahan tak selalu tentang perebutan kekuasaan atau peperangan. Bisa jadi, perlahan kami kehilangan perasaan nyaman akibat aktivitas kandang yang datang belakangan.
Saya tidak membenci peternak dan kandang ayam, saya hanya ingin rumah tetap menjadi rumah yang nyaman
Agar tak ada kesalahpahaman, rasanya perlu ada penjelasan bahwa saya tidak membenci peternak ayam atau dendam pribadi kepada ayam. Bagaimanapun, jika isi dompet memungkinkan saya selalu dengan senang hati membeli ayam goreng untuk mengenyangkan perut yang lapar.
Karena dari awal, persoalan yang saya rasakan bukan sekedar soal ayam atau para peternaknya. Saya tahu, dalam operasional kandang ayam, ada roda ekonomi yang berputar bahkan beberapa menjadikan itu sebagai sumber penghidupan.
Tapi jangan lupa, bahwa di sekitar kandang ada kehidupan lain yang sama-sama layak dihargai. Ada orang tua yang ingin menghabiskan masa tuanya dan ada anak-anak yang tumbuh di rumah yang perlahan tanpa sadar kehilangan kenyamanannya.
Memang, tak banyak berubah, rumah masih berdiri di tempat yang sama, dindingnya masih kokoh, alamatnya pun tak berubah. Tapi perasaan nyaman yang dulu melekat kini tak lagi utuh, bentuk kehilangan yang tak pernah dapat dilihat pengelola kandang ayam.
Harapan saya tidak berlebihan. Cukup adanya kesadaran bahwa di sekitar usaha itu ada rumah-rumah yang sedang diperjuangkan pemiliknya. Setiap orang memang punya hak mencari nafkah tetapi semua orang juga berhak merasa nyaman di rumahnya sendiri.
Penulis: Nikmaturrahmaniya
Editor: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













