Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

Raihan Muhammad oleh Raihan Muhammad
18 Juni 2025
A A
Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

Kampus Bukan Kerajaan, Dosen Bukan Sultan, dan Mahasiswa Bukan Rakyat yang Pantas Diinjak-injak

Share on FacebookShare on Twitter

Saya selalu berpikir kampus itu tempat paling ideal untuk belajar menjadi manusia merdeka—berpikir kritis, mempertanyakan segala hal, lalu mengolahnya jadi gagasan yang berani. Tapi makin ke sini, saya justru merasa kampus lebih mirip panggung drama kerajaan: penuh aturan tak tertulis, serba hierarkis, dan sangat sensitif pada satu hal—rasa hormat (pada dosen) yang harus dibaca, bukan ditanya.

Baru-baru ini, viral di media sosial berawal dari Threads, dan mulai ramai juga di Instagram dan Twitter (X), seorang mahasiswa menghubungi dosennya via WhatsApp dengan bahasa sopan dan maksud yang jelas: minta waktu untuk uji validitas penelitian. Tapi, balasannya bikin nyesek: “tidak mas, silakan cari dosen yg lain.” Bukan karena topiknya ngawur, bukan karena waktunya mepet. Tapi—barangkali—karena tidak diawali salam resmi, atau karena si dosen kurang suka dengan kata “free”.

ADVERTISEMENT

Ya, di negeri ini, sopan santun bisa gagal login kalau tidak sesuai protokol batin dosen.

Masalahnya, “adab” yang sering dibangga-banggakan di kampus bukan lagi tentang saling menghargai atau etika intelektual. Ia berubah jadi alat ukur status sosial akademik: siapa yang boleh bicara duluan, siapa yang layak menjawab, dan siapa yang berhak memutuskan tanpa perlu menjelaskan. Dan di sinilah saya sadar—feodalisme akademik bukan sekadar isu, tapi sudah jadi kultur. Kultur yang menyebalkan, tapi tetap dibiarkan tumbuh subur.

Sihir adab di atas ilmu

“Adab lebih tinggi dari ilmu” terdengar bijak saat disampaikan di ruang kelas, seminar, atau ditulis dalam poster motivasi kampus. Tapi, dalam praktiknya, kalimat ini sering berubah jadi sihir ampuh buat menyingkirkan mahasiswa yang dianggap kurang tahu diri.

Saya pernah lihat sendiri—dan mungkin kamu juga—mahasiswa yang niatnya baik, bahasanya sopan, tapi tetap ditolak mentah-mentah hanya karena dianggap salah sapaan. Di situ saya paham, kadang masalahnya bukan isi pesan, tapi siapa yang merasa lebih pantas bicara duluan.

Di dunia akademik, sering kali etika sering dipelintir jadi etiket. Adab yang mestinya saling menghormati malah dibikin searah—dari bawah ke atas. Dosen bebas marah, mahasiswa harus menunduk. Dosen boleh abai, mahasiswa jangan baper. Dalam banyak kasus, adab ini bukan soal nilai, tapi soal kuasa. Dan itu bikin ruang akademik makin kaku, makin penuh basa-basi, makin takut diskusi.

Yang paling bikin saya khawatir, sihir adab ini bukan cuma mengatur cara bicara, tapi juga cara berpikir. Mahasiswa jadi takut bertanya, takut salah ucap, takut dikira kurang ajar. Akhirnya banyak yang memilih diam, asal lulus, asal cepat selesai. 

Baca Juga:

Gagal Paham dengan Warlok Solo yang Ngebet Kuliah ke Luar Kota Demi Kejar Gengsi

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

Padahal kampus itu mestinya ruang yang berani, tempat di mana gagasan bisa dibantah tanpa ancaman. Tapi, kalau struktur yang dijaga lebih penting daripada nalar yang diasah, ya jangan heran kalau kita punya banyak sarjana, tapi sedikit pemikir.

Sebagai mahasiswa, saya sangat terganggu dengan feodalisme di kampus

Jujur saja, yang paling melelahkan dari jadi mahasiswa itu bukan tugas kuliah, bukan juga revisi skripsi yang nggak kelar-kelar. Yang bikin capek itu atmosfer kampusnya—yang kaku, penuh basa-basi, dan sering kali menekan. Bukan karena dosen jahat, tapi karena sistemnya membiarkan relasi kuasa tumbuh tanpa kontrol. 

Kita diminta kritis, tapi juga harus peka membaca mood dosen. Kita disuruh berani berpikir, tapi tidak boleh terlalu berbeda pendapat. Lama-lama, kuliah terasa kayak latihan sosial bertahan hidup.

Saya bukan anti-sopan santun. Tapi, kalau sopan santun berubah jadi senjata untuk membungkam, saya rasa kita harus bicara. Saya ingin ruang kuliah di mana saya bisa bertanya tanpa takut. Bisa menulis opini tanpa harus menebak-nebak apakah kalimat saya terlalu “tajam” buat dosen pembimbing. Bisa berdialog tanpa takut dinilai kurang ajar hanya karena berbeda pandangan.

Kampus, bagi saya, seharusnya jadi tempat berpikir lepas. Tapi kalau segala hal harus ditimbang dari sisi “tahu diri” dan “jangan terlalu keras”, ya kapan kita betul-betul belajar berpikir?

Saya ingin jadi mahasiswa yang berpikir jernih, bukan mahasiswa yang jago menyembunyikan opini demi nilai. Maka wajar jika saya—dan banyak mahasiswa lain—mulai gerah. Karena di balik wajah akademik yang rapi, terlalu banyak hal yang tak sehat dibiarkan hidup.

Sopan santun harusnya lahir dari kesadaran, bukan paksaan

Saya percaya bahwa sopan santun itu penting. Tapi sopan santun yang dipaksakan hanya akan melahirkan rasa takut, bukan penghargaan. Kalau setiap kata harus ditakar demi menjaga ego yang lebih “tinggi”, komunikasi di kampus akan berubah jadi upacara formal—bukan dialog yang jujur.

Sopan santun mestinya lahir dari relasi yang setara. Kita menghormati dosen karena mereka membimbing dan menginspirasi, bukan semata karena senioritas. Sayangnya, yang sering terjadi di kampus justru sebaliknya: mahasiswa yang terlalu lugas dianggap kurang ajar, sementara dosen yang menyentil tanpa alasan tetap disebut bijak.

Akibatnya, banyak mahasiswa lebih sibuk menyusun kalimat aman ketimbang menyampaikan argumen. Diam dianggap adab, padahal bisa jadi itu bentuk frustrasi. Kalau kampus terus memaknai hormat sebagai larangan untuk menyanggah, maka yang lahir adalah lulusan yang patuh, tapi gamang saat diminta berpikir di luar buku pegangan.

Mari hilangkan kultur feodal di kampus

Saya tahu tidak semua dosen feodal, dan tidak semua kampus menyebalkan. Tapi, kalau kita terus-menerus menormalisasi relasi kuasa yang timpang, lambat laun kita sedang menciptakan generasi yang pandai tunduk tapi malas berpikir. Kultur feodal di kampus bukan hanya membuat mahasiswa takut bersuara, tapi juga “membunuh” semangat intelektual yang seharusnya jadi nyawa dari dunia akademik.

Pun, bukan berarti mahasiswa boleh semena-mena. Saya justru percaya, mahasiswa harus tetap menghormati dan menyayangi dosennya. Bukan karena takut, tapi karena sadar bahwa hubungan belajar itu berdiri di atas kepercayaan. Hormat yang lahir dari kesadaran akan jauh lebih kuat dan tulus ketimbang tunduk karena takut nilai. Mahasiswa perlu belajar menyampaikan saran dan/atau kritik dengan tepat, dan dosen pun perlu belajar mendengar kritik tanpa merasa harga dirinya dirusak.

Kampus bukan kerajaan, dan dosen bukan raja. Ilmu tidak bisa tumbuh di tanah yang kering karena takut. Yang kita perlukan adalah ruang yang hangat, setara, dan jujur. Mahasiswa bisa bertanya tanpa ragu, dan dosen bisa membimbing tanpa merasa diganggu. Kalau kita ingin kampus yang sehat, maka kultur feodal harus ditinggal. 

Sudah waktunya kita bangun ekosistem akademik yang saling menghargai, bukan saling mengintimidasi. Karena tugas kampus bukan menjaga wibawa, tapi menyalakan nalar.

Penulis: Raihan Muhammad
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Jenis Dosen Red Flag yang Sebaiknya Dihindari Mahasiswa kalau Mau Kuliah Lancar

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 18 Juni 2025 oleh

Tags: DosenfeodalismeKampusMahasiswasopan santun
Raihan Muhammad

Raihan Muhammad

Manusia biasa yang senantiasa menjadi pemulung ilmu dan pengepul pengetahuan. Pemerhati politik dan hukum. Doyan nulis secara satire/sarkas agar tetap waras. Aku menulis, maka aku ada.

ArtikelTerkait

4 Hal yang Membuktikan Mahasiswa Universitas Terbuka Tak Bisa Diremehkan

4 Hal yang Membuktikan Mahasiswa Universitas Terbuka Tak Bisa Diremehkan

10 Desember 2023
Jam Kuliah Kosong Adalah Bencana bagi Mahasiswa, Jangan Senang Dulu

Jam Kuliah Kosong Adalah Bencana bagi Mahasiswa, Jangan Senang Dulu

26 September 2025
Alasan Mahasiswa ITB Jatinangor Jarang Terlihat Adalah Perkara 'Kenyamanan' terminal mojok.co

Alasan Mahasiswa ITB Jatinangor Jarang Terlihat Adalah Perkara ‘Kenyamanan’

20 Oktober 2020
suka duka KRS mojok

Di Kampus Saya, Waktu KRS Adalah Waktu Penuh Drama yang Menggemaskan

27 Juli 2021
5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

5 Hal yang Bikin Saya Menyesal Kuliah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD)

21 Agustus 2025
Alasan Kenapa Anak Kost Harus Memelihara Kocheng

Alasan Kenapa Anak Kos Harus Memelihara Kocheng

17 Maret 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah Mojok.co

Konsep Gramedia Jalma Semarang Menarik, tapi Jujur Agak Sedih ketika Tempat Favorit Saya Berubah Wajah

26 Juni 2026
Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja Mojok.co

Dianggap Nggak Kompeten, Pengalaman Pahit Ibu Rumah Tangga yang Career Gap dan Ingin Kembali ke Dunia Kerja

25 Juni 2026
Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku “32 Tahun Menjarah Alam” Mojok.co

Menelusuri Dosa-Dosa Orde Baru pada Alam Indonesia Lewat Buku 32 Tahun Menjarah Alam

25 Juni 2026
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau Mojok.co

Warlok Semarang Muak dengan Mal Baru, Lebih Butuh Ruang Terbuka Hijau yang Terjangkau 

24 Juni 2026
Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Pejuang Rupiah

Yamaha Gear Ultima 125 Terlahir untuk Memahami Perjuangan Pejuang Rupiah di Atas Aspal

25 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.