Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Kampanye Politik Gus Ami yang Penuh Nuansa Objektifikasi Perempuan Memang Ra Mashok

Prabu Yudianto oleh Prabu Yudianto
5 Juni 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Kalian udah nonton kampanye terbaru dari Gus Ami, belum?

Serunya masa periode kedua presiden Indonesia adalah gencarnya tokoh untuk promosi. Kecuali presiden sekarang jadi 3 periode, ya. Tapi realitanya, banyak tokoh masyarakat mulai pasang diri agar makin dikenal publik. Dan caranya memang variatif. Dari hal membosankan seperti pasang baliho, sampai publicity stunt yang kadang norak.

Apalagi sampai hari ini belum ada calon kuat presiden periode berikutnya. Tentu ini jadi kesempatan para tokoh untuk unjuk gigi dan popularitas. Harusnya sih unjuk potensi, kinerja, dan wacana untuk menahkodai negara ini. Tapi biasalah, endingnya tetap adu popularitas yang kadang tidak nyambung.

Kalau saya diminta mereview kampanye seluruh caleg, tentu bisa berjilid-jilid dan butuh rubrik khusus di Terminal Mojok ini. Jadi saya akan fokus pada kampanye salah satu tokoh. Kebetulan kampanye tokoh ini cukup menarik minat saya karena nggatheli. Tidak lucu ataupun garing, tapi nggatheli karena kesan objektifikasi pada perempuan.

Yang saya maksud adalah kampanye dari Pak Abdul Muhaimin Iskandar. Mungkin kita kenal sebagai Cak Imin. Tapi entah mengapa, akhir-akhir ini blio seperti ruwatan dan ganti nama panggilan menjadi Gus Ami. Yah, suka-suka yang punya nama, sih. Mungkin nama yang lama kurang moncer untuk dilirik sekadar jadi wakil presiden.

Kampanye yang saya maksud sepertinya bukan dari ide Gus Ami sendiri. Kemungkinan besar dari relawan dan simpatisan blio. Kampanye berupa video berdurasi 40 detik pas ini diterbitkan oleh akun Twitter @ayub_elgenaro. Sudah jelas akun ini akun simpatisan Cak Ami, menilik video kampanye dan konten lain yang dibagikan.

Barisan cinta Gus AMI @cakimiNOW @DPP_PKB @halimiskandarnu @dpwpkbjatim_ pic.twitter.com/RKX5vVWTEo

— ayub muchson (@ayub_elgenaro) June 1, 2021

Video kampanye tersebut berisi beberapa model perempuan yang entah kenapa jalan-jalan dan berpose di parkiran mobil. Sepertinya di sebuah hotel jika menilik latar belakangnya. Entah mengapa para perempuan ini mengenakan pakaian bergambar Gus Ami dan berpose ala model. Pengambilan video ini juga penuh kesan menangkap kemolekan para perempuan tersebut.

Baca Juga:

3 Hal yang Bisa Ditangisi Bu Mega selain Badan Kurus Presiden Jokowi

Review Mars Partai Politik dari Orang yang Kurang Percaya Partai

Dan entah kenapa juga video ini diakhiri dengan para perempuan tadi bersuara lantang, “Gus Ami 2024”. Lha 2024 Gus Ami ngapain? Pokoknya, keseluruhan video ini benar-benar membingungkan. Entah apa yang ingin disampaikan jika membandingkan isi video dengan kesan kampanye ini. Pokoknya, sekali nonton bakal komen, “Ra mashoook blas.”

Tapi Stevie Wonder dan Fujitora bisa melihat tujuan video ini. Yang jelas, video ini mengandalkan kemolekan para model sebagai alat penarik perhatian. Lha apa lagi yang mau diusung dalam video ra cetho ini? Box Hydrant yang jadi tempat salah satu model berpose?

Bukan berarti saya membenci para perempuan dalam video ini. Anda semua telah bekerja dengan baik, kok. Yang bermasalah adalah isi otak sang pemrakarsa video ini. Siapa pun itu, pokoknya Anda yang luput. Harusnya Anda yang diruwat, dan bukan Gus Ami yang harus ruwatan ganti nama politik.

Lha gimana tidak bermasalah. Sudah sejak awal saya sampaikan, kampanye itu ya dengan unjuk potensi, kinerja, dan wacana untuk menahkodai negara ini. Lha ini jelas-jelas berharap simpati masyarakat dengan menampilkan kemolekan perempuan sebagai daya tarik.

Masalah pertama, jelas-jelas video ini berfokus pada daya tarik perempuan. Bahkan cenderung menjurus pada ranah seksual. Ayolah jangan sok suci, sudah jelas-jelas terlihat. Bahkan musik EDM yang mengiringi menambah nuansa sensual. Kecuali musik yang dipakai “Lagu Cinta Kelas Pekerja”nya Begundal Lowokwaru. Saya jamin makin ra mashok, tapi saya pastikan saya putar terus videonya.

Selain itu, mana muatan edukasi politiknya? Mana ide-ide brilian Gus Ami untuk 2024? Lha video yang saya yakin bernilai jutaan ini hanya berakhir dengan “Gus Ami 2024” tadi jhe. Lha terus ngopo? Masih mending iklan rokok yang bisa memperkuat brand image tanpa mengeksplotasi produk rokoknya.

Namun, masalah pertama sih sepele. Yang puncak nggatheli adalah masalah kedua. Masalahnya, apakah opini masyarakat harus diarahkan dengan objektifikasi perempuan? Apakah masyarakat bisa mengaspirasikan gagasan mereka dengan objektifikasi perempuan. Lebih penting lagi, untuk apa objektifikasi perempuan dalam kampanye?

Memang kasus seperti ini bukan hal baru. Setiap ada kampanye di lapangan, pasti ada acara dangdutan. Dan suka tidak suka, dangdutan ini juga bentuk objektifikasi perempuan. Semata-mata demi mencari massa agar lokasi kampanye terlihat ramai. Kan melas juga kalau kampanye politik lebih sepi daripada tengah alas roban.

Akan tetapi, bukan berarti kita bisa memaklumi ini. Jelas-jelas perempuan dalam video ini dijadikan objek daya tarik sensual. Bahkan dengan sebutan Barisan Cinta Gus Ami. Perempuan ditempatkan sebagai daya tarik politik dengan potensi seksual.

Ini sudah melecehkan dua pihak. Pertama, jelas perempuan yang belum bisa bebas dari cengkraman objektifikasi beraroma seksual. Yang kedua, adalah nalar dan pengetahuan politis rakyat. Seolah-olah rakyat tampak dungu sampai harus memancing perhatian menggunakan umpan sensualitas.

Kalau urusan kampanye saja sudah penuh nuansa objektifikasi perempuan, kok saya makin pesimis dengan kesejahteraan perempuan nantinya. Bahkan membayangkan RUU PKS disahkan saja makin minder. Lha sejak kampanye saja, perempuan masih menjadi makhluk kelas dua, je.

Ini lebih mengkhawatirkan ketika ada video kampanye seperti simpatisan Gus Ami ini. Dalam ranah politik yang notabene menyetir kehidupan negara ini masih bermodalkan objektifikasi kedua. Selain menunjukkan banyak yang masih doyan untuk memandang perempuan sebagai seger-seger dunia, para tim sukses dan caleg memang belum punya pemahaman tentang gender dengan baik.

Oalah Cak, eh, Gus. Apakah tim pembuat kampanye Anda ini belum mengenal Anda? Sampai-sampai kampanye tentang Anda harus membuat perempuan jadi seperti hiasan dinding. Ah, tapi bisa apa. Toh, pemakluman pada hal seperti ini masih menghiasi hidup ini.

Apa tim Gus Ami ini tidak punya ide lebih moncer sedikit? Padahal dana yang digelontorkan terlihat tidak sedikit. Kok idenya cupet dan tidak lari dari unsur sensualitas perempuan? Padahal anak-anak saja sudah pinter bikin konten TikTok. Ini sih kalah TKO namanya kalau tim Gus Ami pinter-pinteran bikin konten dengan anak-anak.

Sumber Gambar: YouTube KompasTV

BACA JUGA Konten TikTok Perempuan Pakai Baju PKB, Bikin Netizen Pengin Gabung Meski Nggak Jelasin Ideologi Partai dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Juni 2021 oleh

Tags: Gus AmiKampanye PolitikObjektifikasi PerempuanPojok Tubir Terminal
Prabu Yudianto

Prabu Yudianto

Penulis kelahiran Yogyakarta. Bekerja sebagai manajer marketing. Founder Academy of BUG. Co-Founder Kelas Menulis Bahagia. Fans PSIM dan West Ham United!

ArtikelTerkait

KPK penilapan duit bansos koruptor jaksa pinangki cinta laura pejabat boros buang-buang anggaran tersangka korupsi korupsi tidak bisa dibenarkan mojok

Vonis Hukuman Jaksa Pinangki yang Dipotong dan Akal Sehat yang Diludahi

15 Juni 2021
Fitur Story Twitter Sebaiknya Nggak Usah Ada, Terkesan Ikut-ikutan Banget terminal mojok.co

3 Hal Menyebalkan yang Sering Muncul Saat Tubir di Twitter dan Bikin Diskusi Jadi Nggak Seru

17 Agustus 2021
meme polisi kaesang pangarep power abuse polisi mojok

Meme Polisi Kaesang Pangarep dan Nuansa Abuse of Power ala Orde Baru

4 Juli 2021
Sebut Orang yang Copy Paste Ucapan Duka Cita Nggak Tulus, Itu Sotoy Namanya! terminal mojok.co

Sebut Orang yang Copy Paste Ucapan Duka Cita Nggak Tulus, Itu Sotoy Namanya!

11 Juli 2021
syarat wajib vaksin surat kehilangan KTP administrasi ribet mojok

Repotnya Mengurus Surat Kehilangan di Surabaya: Syaratnya Wajib Vaksin, tapi Tempat Vaksinnya Tidak Disediakan

23 Juli 2021
Sisipan Iklan Layanan Masyarakat di Dua Sinetron Prime Time Andalan RCTI Ramashok Blas! terminal mojok

Sisipan Iklan Layanan Masyarakat di Dua Sinetron Prime Time Andalan RCTI Ramashok Blas!

27 Juni 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

Dilema Hidup di Jaten Karanganyar: Asap dan Truknya Mengganggu, tapi Perputaran Uangnya Menyelamatkan Ribuan Rumah Tangga

19 Mei 2026
Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri Mojok.co

Mal-Mal Jombang Kelewat Jadul Bikin Warlok Lebih Senang Ngemal di Mojokerto atau Kediri

19 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

Paris Van Java Mall Bandung: Estetik, tapi Sama Sekali Nggak Nyaman

18 Mei 2026
4 Aturan Tidak Tertulis Saat Menulis Kata Pengantar Skripsi agar Nggak Jadi Bom Waktu di Kemudian Hari

4 Tips untuk Bikin Mahasiswa Cepat Paham dan Tidak Kebingungan Mengerjakan Skripsi

19 Mei 2026
Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

Pintu Tol KM 99 Cipularang, Pemberi Berkah bagi Warga Purwakarta: Mobilitas Makin Mudah, Akses Pendidikan Makin Luas

15 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.