Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Kalian Bisa Bohong pada Siapa Saja, tapi Tidak pada Big Data

Aliurridha oleh Aliurridha
7 Maret 2020
A A
Kalian Bisa Bohong pada Siapa Saja, tapi Tidak pada Big Data
Share on FacebookShare on Twitter

Jika dulu ada yang berkata sehebat-hebatnya kamu menutupi kebohongan pasti terbongkar juga. Mungkin sekarang adalah waktunya seperti yang disampaikan Harari dalam bukunya Homo Deus saat “Big Data” mengenal siapa diri kita lebih dari kita mengenal diri kita. Manusia bisa saja memperlihat wajah yang menjunjung tinggi moral di hadapan publik. Tapi ia tidak bisa bersembunyi dari Big Data.

Setiap orang beragama pasti percaya bahwa sepandai-pandainya manusia menyembunyikan kebohongan Tuhan akan mengetahuinya. Meski Tuhan mengetahuinya tapi tidak menjadi masalah bagi sebagian orang, bahkan mungkin bagi orang yang paling relijiyes sekalipun karena aibnya tetap tersembunyi dengan baiknya di balik payung kemunafikan. Namun sedikit demi sedikit payung kemunafikan itu mulai tersingkap.

Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang menutup diri dan tidak membahas masalah privat. Selain itu mereka sangat tabu dalam membahas seks bahkan berusaha menutupnya rapat-rapat. Namun hadirnya revolusi digital menelanjangi wajah yang selama ini disembunyakan dari publik. Jika kita mau sedikit berusaha menggunakan Google Trends, sebuah platform untuk melihat tren pencarian dalam kurun waktu tertentu, maka diskusi tentang seks adalah yang paling banyak dicari.

Ini tentu saja menarik karena wajah publik yang diperlihatkan masyarakat Indonesia adalah wajah relijiyes cum bermoral seperti layaknya budaya-budaya masyarakat timur. Maka tidak heran jika banyak korban kekerasan seksual tidak banyak bicara malah terkesan menyembunyikan permasalahan yang sebenarnya tidak menyelesaikan permasalahan, hanya menyimpannya di bawah karpet tanpa disapu bersih.

Yang lebih lucu lagi dengan masyarakat relijiyes cum malu-malu ini adalah jika kita mengetik kata kunci “shalat” di Google Trends yang muncul justru yang muncul adalah “bercinta setelah shalat subuh”. Mungkin ini yang namanya ibadah maraton demi mengejar surga, baik surga dunia serta surga akhirat. Menjadi lucu adalah ketika masyarakat tabu terhadap segala hal yang berbau seksualitas tapi tidak dihadapan mesin pencari Google. Apakah karena mesin pencari dianggap benda mati yang tidak akan membongkar siapa diri kita?

Manusia memang lebih bisa jujur terhadap benda mati ketimbang pada manusia lain. Mereka ingin bercerita tentang siapa diri mereka tapi ketakutan pada apa yang orang pikirkan tentang mereka. Itulah alasan di hadapan mesin pencari mereka bisa lebih jujur terhadap siapa diri mereka. Meskipun banyak yang tidak sadar bahwa mesin pencari merekam segala percakapan yang mungkin mengungkapkan siapa diri Anda. Mungkin juga faktor anonimitas itu membuat kita lebih merasa lega untuk tetap bersembunyi. Tapi tentu saja itu tidak benar.

Dalam buku Everybody Lies, Seth Stephen-Davidowitz memperlihatkan bahwa manusia itu pembohong. Sebuah survei di Amerika yang membuktikan bahwa rasisme itu hampir punah, apalagi setelah Obama terpilih menjadi presiden. Namun semua itu bohong belaka karena Big Data justru menunjukkan sebaliknya. Seth menemukan bahwa kata “nigger” menjadi kata paling banyak dicari di daerah-daerah di mana Obama meraih suara paling sedikit. Di hadapan survei manusia bisa berbohong tapi tidak dihadapan Big Data.

Hal ini menunjukkan data-data dari survei konvensional berpotensi salah karena manusia tidak bisa benar-benar jujur dalam mengisi kuesioner. Tidak sedikit responden masih berusaha untuk menyembunyikan apa yang benar-benar ada dalam hatinya. Namun hal ini bisa bertolak belakang dengan apa yang terungkap dari Big Data. Kesimpulan yang bisa diambil adalah manusia memang lebih jujur di depan benda mati ketimbang di depan enumerator lapangan meskipun masih sama-sama menyembunyikan identitas.

Baca Juga:

Rahasia Mie Gacoan Tetap Eksis di Tengah Gempuran Makanan Viral yang Gulung Tikar

Begini Rasanya Hidup dalam Keluarga yang Dikenal Religius

Teruntuk buat kalian netizen +62 mulailah berpikir untuk berhati-hati dan lebih bijak dalam melakukan tindakan yang berhubungan dengan digital. Karena sepintar-pintarnya kalian menutupi semua tindakan kalian akan selalu ada jejak digital yang tak akan usang dimakan waktu. Apalagi buat kalian-kalian yang berpikir untuk menjadi publik figur terlebih menjadi politisi. Kan tidak lucu jadinya nanti kalau ketika kalian jadi pejabat ternyata jejak digital menunjukkan bahwa kalian mengikuti suatu akun porno di Twitter. Mau bilang akunnya diretas pun tidak akan ada yang percaya.

Jadi bijak-bijaklah dalam bermain internet jangan sampai apa yang kalain lakukan saat ini akan ditagih sebagai dosa sosial di masa mendatang. Apalagi di tangan netizen gatel seperti netizen +62 yang suka sekali mengorek-ngorek jejak digital, bisa-bisa sebelum sampai akhirat dosa sosial itu menghalangi karier kalian di masa depan.

BACA JUGA Auto Base dan Kecenderungan Bersembunyi di Balik Akun Anonim atau tulisan Aliurridha lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2020 oleh

Tags: bermoralbig dataRahasiareligius
Aliurridha

Aliurridha

Pekerja teks komersial yang sedang berusaha menjadi buruh kebudayaan

ArtikelTerkait

Rahasia Mie Gacoan Tetap Eksis di Tengah Gempuran Makanan Viral yang Gulung Tikar

Rahasia Mie Gacoan Tetap Eksis di Tengah Gempuran Makanan Viral yang Gulung Tikar

7 Juni 2023
Begini Rasanya Hidup dalam Keluarga yang Dikenal Religius

Begini Rasanya Hidup dalam Keluarga yang Dikenal Religius

4 Maret 2023
Membedah Rahasia Awet Muda Si Gundul, Pria Paling Satset di Indonesia

Membedah Rahasia Awet Muda Si Gundul, Pria Paling Satset di Indonesia

14 Juni 2022
Polemik Slip Gaji: Bersifat Rahasia atau Bisa Diumbar Secara Cuma-cuma?

Polemik Slip Gaji: Bersifat Rahasia atau Bisa Diumbar secara Cuma-cuma?

18 Maret 2022
Tidak Ada Hajatan yang Menguntungkan Terminal Mojok

Membuka Rahasia Cara Pedagang Menemukan Tempat Hajatan untuk Berdagang

3 Februari 2023
Puisi Letto di Video Klip 'Permintaan Hati' Terkesan Jahat dan Maksa terminal mojok.co

Tafsir Sufistik Lagu-lagu Letto. Dialog Intim nan Mesra Antara Hamba dan Tuhannya

3 September 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

Warga Pangalengan Musti Bangga Menjadi Penghasil Teh meski Tidak Pernah Bisa Menikmati Hasil Panennya

11 Maret 2026
Mobil Suzuki Swift Lama, Mobil Tanpa Musuh dan Bebas Makian di Jalan suzuki sx4

Menyiksa Suzuki Swift di Jalanan Pantura yang Tak Pernah Mulus dari Kudus ke Rembang

9 Maret 2026
4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya Terminal

4 Tips Menikmati Lumpia Semarang Tanpa Terganggu Bau Pesing dari Rebungnya

9 Maret 2026
Apa yang Bisa Dibanggakan dari Daihatsu Ayla 2018? Sebiji Kaleng Susu Diberi Roda kok Dibanggakan

Apa sih yang Bisa Dibanggakan dari Daihatsu Ayla 2018? Sebiji Kaleng Susu Diberi Roda kok Dibanggakan

11 Maret 2026
Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

Pamer Pencapaian Adalah Kegiatan Paling Sampah Saat Lebaran, Nggak Ada Fungsinya kecuali Bikin Orang Emosi

12 Maret 2026
Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

Perang Iran vs Amerika Buat Kelas Menengah Indonesia Makin Tertekan

8 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja
  • Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki
  • Alumnus Beasiswa UGM Kerap Minum Air Mentah Saat Kuliah, hingga Utang Puluhan Juta ke Kyai untuk Lanjut S3 di Belanda
  • ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi
  • User iPhone 11 Dicap Kuno dan Aneh karena Tak Mau Upgrade, Pilih Dihina Miskin daripada Pusing Dikejar Pinjol
  • Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.