Tafsir Sufistik Lagu-lagu Letto. Dialog Intim nan Mesra Antara Hamba dan Tuhannya – Terminal Mojok

Tafsir Sufistik Lagu-lagu Letto. Dialog Intim nan Mesra Antara Hamba dan Tuhannya

Artikel

Pagi tadi pas saya lagi muter lagu-lagunya Letto yang saya sambungin ke sound rumah, tetangga saya tiba-tiba berseloroh, “Eh dasar bucin, mangkanya yang diputer lagu menye-menyenya Letto.”

Alih-alih tersinggung, saya justru menyambutnya dengan tawa. Bukan menertawakan tetangga saya itu, tapi menertawakan keberhasilan Letto karena membuat banyak orang tertipu dengan lirik-lirik lagu yang mereka ciptakan. Mereka berhasil menciptakan kesan abstrak pada lagu-lagunya sehingga hakikat makna (di luar teks) jadi tersembunyi.

Begini, kalau boleh sedikit saya dramatisasi, memahami lagu-lagu Letto itu mirip-mirip dengan kalau kita mau memahami kitab. Harus melalui dua pemahaman, yaitu pemahaman teks dan pemahaman non-teks atau pemahaman terhadap makna yang tersembunyi di balik kedalaman kata-kata.

Kalau hanya dipahami dari sudut pandang tekstual saja, kita hanya akan menemukan kesimpulan bahwa, lagu-lagu Letto ternyata hanya lagu bucin antara sepasang manusia. Namun jika dibedah sisi non-tekstualnya, bakal ketemu pemahaman sufistik bahwa, lagu-lagu itu pada dasarnya adalah refleksi kebucinan antara manusia dengan Sang Kekasih; Tuhan.

Kalau kita lebih cermat dan meresapi lirik-lirik pada beberapa lagu Letto, pasti kita akan merasa seolah sedang dibawa pada situasi di mana dalam ruang tersebut hanya ada kita dan Tuhan. Meminjam bahasa Letto, ruang tersebut bernama “Ruang Rindu”, ruang yang memungkinkan terjadinya dialog intim dan mesra antara kita dan Tuhan.

Nggak percaya? Oke, oke, akan saya paparkan sedikit saja tafsir sufistik dari beberapa lagu favorit saya. Tapi sebelum itu, perlu saya garis bawahi, interpretasi ini saya dapat langsung dari Mas Sabrang MDP a.k.a. Noe (vokalis) dalam beberapa kesempatan di forum Majelis Masyarakat Maiyah Bangbangwetan Surabaya, alias dari sumber primernya. Jadi bukan atas dasar cocokologi dan otak-atik gatuk saya pribadi yo, Nder.

Tafsir sufistik pada lagu “Sebelum Cahaya”

Lagu ikonik yang dirilis pada 2007 ini sepintas memang terdengar seperti kisah cinta sepasang manusia. Dari teks liriknya bisa kita tangkap gambaran tentang seorang kekasih yang sedang mencari-cari kekasihnya. Dan juga seorang kekasih yang tidak akan pernah membiarkan kekasihnya sendirian, walau mereka sedang berjauhan.

Tapi jika diperdalam, sebenarnya lagu ini adalah upaya Letto untuk menghadirkan Tuhan sebagai sosok yang sangat dekat, intim, dan mesra dengan kita. Lagu ini seolah-olah menggambarkan Tuhan yang sedang berbicara kepada manusia sebagai makhluk yang Dia cintai. Lebih khusus ditujukan kepada mereka-mereka yang meniti jalan sunyi; yang sedang dalam proses mencari yang Maha Sejati. Bisa disimak pada lirik:

Ku teringat hati, yang bertabur mimpi

Ke mana kau pergi cinta

Perjalanan sunyi, engkau tempuh sendiri

Kuatkanlah hati cinta

Dalam lirik tersebut, tergambar sosok Tuhan yang sangat romantis dengan menyebut kita sebagai “cinta” (istilah lain untuk “sayang”). Tuhan juga hadir sebagai sosok penyemangat yang menguatkan kita—khususnya yang menempuh jalan sunyi, yang memilih mengasingkan diri dari gemerlap dunia. Selanjutnya, Tuhan digambarkan sebagai sosok setia yang tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Bisa dilihat pada lirik:

Baca Juga:  Memasuki Era Berpengaruhnya Pendapat Netizen dalam Menentukan Nasib Para Anonim

Kekuatan hati, yang berpegang janji

Genggamlah tanganku cinta

Ku tak akan pergi, meninggalkanmu sendiri

Temani hatimu cinta

Asal kita mau berpegang tangan kepada Tuhan (alias tawakal), yakin sepenuh hati atas janji-janji kebahagiaan dari Tuhan, Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian. Tuhan membuktikan komitmen itu melalui lirik:

Ingatkah engkau kepada embun pagi bersahaja

Yang menemanimu sebelum cahaya

Ingatkah engkau kepada angin yang berhembus mesra

Yang ‘kan membelaimu cinta

Tafsir sufistik pada lagu “Sandaran Hati”

Lagu yang rilis pada 2005 ini secara mainstream diartikan sebagai seseorang yang tidak bisa hidup tanpa pacarnya. Oleh karena pacarnya merupakan sumber kekuatan dan tempat untuk menyandarkan segala kesedihan dan kegundahan.

Sebenernya kurang lebih seperti itu sih, makna sufistik dari lagu ini. Hanya saja sudut pandangnya perlu diperlebar. Kemudian bakal ketemu maksud; lagu ini adalah ekspresi kerinduan, kepasrahan, dan penyerahan diri seorang hamba kepada Tuhannya. Sekaligus bentuk pengakuan bahwa kita ini tidak punya daya apa pun kecuali tanpa pertolongan Tuhan. Ekspresi kerinduan kepada Tuhan bisa disimak pada lirik:

Yakinlah ku berdiri, diamlah tanpa tepi

Bolehkah aku mendengarmu

Terkubur dalam emosi, tanpa bisa bersembunyi

Aku dan nafasku merindukanmu

Bersamaan dengan rindu yang menggebu itu, tumbuh keyakinan, Tuhan pasti akan membalas kerinduan kita. Yaitu dengan akan selalu ada buat kita. Terdapat pada lirik:

Terpuruk ku di sini, teraniaya sepi

Dan ku tahu pasti, kau menemani

Adapun wujud kepasrahan dan penyerahan diri kepada Tuhan, yakni berupa pengabdian untuk selalu berada di jalan-Nya, serta sumpah untuk hanya menjadikan Dia sebagai satu-satunya tujuan, terdapat pada lirik:

Inikah yang kau mau, benarkah ini jalanmu

Hanyalah engkau yang ku tuju

Disambung dengan pengakuan ketidakberdayaan kita tanpa “genggaman tangan-Nya” (pertolongan-Nya) yang termaktub pada lirik:

Pegang erat tanganku, bimbing langkah kakiku

Aku hilang arah tanpa hadirmu

Dalam hidupku, kesendirianku

Dan keseluruhan dari ekspresi-ekspresi tersebut kemudian dielaborasi dalam satu bait—yang intinya adalah, setelah pasrah dan berserah, maka segala sedih dan gundah yang kita rasakan sudah tidak ada artinya lagi. Hanya tinggal kebahagiaan sejati yang dijanjikan (dan ditepati) oleh Tuhan—berikut:

Teringat ku teringat, pada janjimu ku terikat

Hanya sekejap ku berdiri ku lakukan sepenuh hati

Peduli ku peduli, siang dan malam yang berganti

Sedihku ini tak ada arti jika kaulah sandaran hati

(Kaulah sandaran hati)

Catatan tambahan: Mas Sabrang sebagai vokalis Letto pernah menyinggung, bagian “Hanya sekejap kuberdiri kulakukan sepenuh hati” dan “Peduli ku peduli siang dan malam yang berganti” bisa juga dimaknai, salat wajib lima waktu sehari-semalam sebagai aplikasi kepasrahan dan penyerahan diri kepada Tuhan.

Tafsir sufistik pada lagu “Lubang di Hati”

Untuk lagu Letto yang rilis pada 2009 ini, menurut saya konsepnya lebih sederhana dari dua lagu di atas. Lagu ini mengandung ungkapan syukur seorang hamba atas segala nikmat yang Tuhan kasih. Dalam lagu tersebut diilustrasikan sosok aku yang pas lahir ke dunia tahu-tahu sudah dilimpahi anugerah dan nikmat dari Dia Yang Maha Cinta. Termaktub pada lirik:

Kubuka mata dan ku ihat dunia

Telah kuterima anugerah cintanya

Tak pernah aku menyesali yang kupunya

Tapi kusadari ada lubang dalam hati

Kalau ditelaah, sambungan lirik selanjutnya hampir sama dengan kisah perjalanan spiritual Nabi Ibrahim. Diawali dengan bersyukur atas apa yang dia dapat, kemudian mencoba mencari-cari siapa sebenernya yang memberi apa yang bisa dimilikinya sekarang ini? Itulah lubang di hati yang harus diisi. Dan selanjutnya ketemu jawaban, ternyata Dia Yang Maha Cinta, yang mampu mengisi lubang di dalam hati tersebut. Tertera pada lirik:

Kucari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini

Kumenanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Apakah itu kamu? Apakah itu dia?

Selama ini kucari tanpa henti

Apakah itu cinta? Apakah itu cita?

Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Sementara cukup tiga saja yang saya uraikan di sini. Selanjutnya, coba Anda bedah sendiri satu per satu lagunya Letto. Saya jamin, jika Anda membedahnya dengan rasa, pasti bakal menemukan makna-makna sufistik dari setiap lagunya.

Sebab, Mas Sabrang sendiri pernah bilang, lagunya Letto seluruhnya adalah lagu bertema sufisme. Bukan sekadar cinta-cintaan ala remaja. Tapi kenapa tidak terdengar cukup nyufi dan Islami? Sang ayah, Emha Ainun Nadjib, pernah bilang, justru karena terlalu nyufi dan Islami, sampai-sampai tidak kelihatan sisi nyufi dan letak Islaminya. Begitu.

Sumber gambar: YouTube Musica Studio’s

BACA JUGA Surat Bambang Sumantri untuk Bambang Sukrasana: Dua Staf Milenial Rezim Arjunasasrabahu yang Beda Nasib dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.