Kalau Artis dan Bule Pindah ke Bali, Terus Orang Bali Mau Ngungsi ke Mana? – Terminal Mojok

Kalau Artis dan Bule Pindah ke Bali, Terus Orang Bali Mau Ngungsi ke Mana?

Artikel

Sebagai seorang lulusan desainer interior, saya senang sekali membaca berita tidak penting tentang hunian para artis. Tapi, beberapa bulan ini saya mengamati tren baru di kalangan para artis yang mendadak banyak sekali pindah ke Bali. Tren pindah dan pamer rumah mereka itu yang bikin hidup saya jadi ironis dan ingin menangis. Gimana tidak ironis, saya yang lahir di Bali dan hampir tiga puluh tahun menetap di sini masih saja ngontrak, sedangkan para artis yang notabene berasal dari Jakarta dan ke Bali paling cuma buat liburan, bisa dengan mudahnya pamer rumah mereka di Bali. Baru bulan lalu saya membaca berita soal Ayudia Bing Slamet dan keluarganya yang pindah ke di Bali, tentunya dengan deretan gambar rumah mereka yang bikin saya iri. Kini saya baca berita giliran Hamish Daud yang memboyong Mbak Raisa dan anaknya untuk tinggal di sini.

Mereka hanya salah dua artis yang baru saja pindah ke Bali. Sebelumnya sudah ada pasangan Nana Mirdad dan Andrew White, menyusul Indah Kalalo dan suaminya yang bule. Kemudian ada Jedar yang pindah gara-gara stress diputusin pacarnya. Tamara Bleszynski dan Mas Pongky juga ternyata sudah lama tinggal di Bali, malah punya usaha rumah makan. Kenapa semua pindah ke Bali sih? Sudah sepi job ya di Jakarta? Terus sekarang Mbak Kristen Gray malah ikut-ikutan ngajak konco bulenya ke mari. Hadeh.

Bukannya saya tidak suka akan kedatangan para artis dan orang bule. Sebagai orang yang lahir dan besar di Bali, saya justru sangat memahami betul bahwa Bali sangat mengandalkan sektor pariwisata untuk bertahan hidup. Tanpa kedatangan wisatawan, perekonomian Bali akan mati. Tapi, kedatangan wisatawan yang tak terkontrol dan tak memiliki unggah-ungguh pada masyarakat Bali sama halnya dengan aksi bunuh diri.

Saya sering dengar dan lihat orang asing yang bertingkah seenak jidatnya sendiri. Mabuk di sembarang tempat, tidur di tengah jalan ramai, bahkan ribut dengan warga lokal. Mereka bertingkah seenaknya mungkin karena sudah menganggap Bali seperti rumah mereka sendiri. Atau karena mereka tahu bagaimanapun brengseknya kelakuan mereka, warga Bali tetap saja butuh uang dari mereka. Jadi bisa dibilang hubungan warga lokal dengan para wisatawan seperti love hate relationship. Ada wisatawan kadang bikin kesal, tidak ada wisatawan kami kehilangan mata pencaharian.

Makin ke sini banyak wisatawan yang datang bukan hanya sekedar untuk berwisata, namun mereka juga membuat bangunan atau menjalankan usaha di Bali. Akibatnya harga tanah serta properti di Bali meningkat drastis dan makin tak terbeli. Istilah kerennya gentrifikasi. Jadi saya sebagai orang Bali yang mendengar Mbak Kristen Gray bilang hidup di Bali itu enak dan murah jadi kepingin nyundul kepala Mbaknya. Murah lambemu!

Sebagai mantan pegawai salah satu developer di Bali, saya tahu persis bagaimana mahalnya harga tanah di Bali yang kian tak terjangkau warga lokalnya sendiri. Naiknya UMR dengan harga tanah di Bali seperti membandingkan lajunya siput dengan roket. Coba bayangkan saja UMR di Kota Denpasar 2020 kemarin adalah 2,7 juta. Angka itu naik 8,5 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan harga tanah di Bali menurut Indonesia Property Watch naik 35 sampai 50 persen per tahun. Jelas tidak seimbang kan?

Saya sendiri pernah terlibat dalam proyek perumahan di daerah Denpasar. Untuk rumah dengan luas tanah 70 m2 saja pembeli harus mengeluarkan uang sekitar 680 juta. Itu saja adalah harga lima tahun kemarin, harga sekarang jangan ditanya. Jadi hitung saja sendiri berapa tahun yang dibutuhkan oleh warga lokal agar dapat membeli rumah di Denpasar. Tidak heran pula bahwa rata-rata pembeli perumahan itu bukanlah warga lokal, tapi justru dari warga pendatang yang punya usaha atau mereka yang jabatannya tinggi dan jelas gajinya berkali lipat dari UMR Kota Denpasar. Malah ada seorang pembeli dari Jakarta yang membeli rumah untuk dikontrakkan kembali dan ironisnya yang mengontrak rumahnya adalah warga lokal Bali.

Hal seperti itu sudah jadi rahasia umum di sini. Mulai dari villa, hotel, restoran bahkan kantor arsitek sudah banyak yang dikuasai pihak asing. Kalau kita melihat sebuah hotel atau villa para pekerjanya adalah orang Bali mulai dari cleaning service hingga manajer, percayalah sebagian besar pemilik sebenarnya adalah orang asing. Warga Bali di sini hanya jadi pelayan di tanah mereka sendiri. Yang makin kaya dan merasakan aliran duitnya tetap saja orang asing.

Di Bali memang ada peraturan yang melarang kepemilikan tanah oleh warga asing, mereka hanya dapat memperoleh hak pakai. Tapi, tetap saja semua bisa dimanipulasi. Mereka bisa memiliki properti dengan rekayasa nominee atau meminjam nama orang lokal, bahkan bisa juga dengan rekayasa sewa tanah jangka panjang. Saking panjangnya bahkan ada yang menyewa hingga 100 tahun! Jadi meskipun secara “de jure” tanah itu jadi milik warga lokal tapi secara “de facto” tanah itu sudah terbeli dan jadi milik orang asing. Dengan cara begitu warga asing bahkan bisa mengelak dari membayar pajak pembeli dan hanya membayar pajak atas sewa yang sudah dikecilkan.

Sekali lagi percayalah, tidak semua orang asing di Bali taat hukum seperti bapaknya Mbak Katharina Stogmuller. Kalau semua warga asing taat hukum seperti beliau dan mau repot bayar birokrasi yang menghabiskan dana seharga satu mobil, saya yakin warga asing akan pikir dua kali untuk datang ke Bali dan bikin usaha di sini. Tapi, nyatanya kan tidak begitu. Tiap tahun tak terhitung berapa kasus tanah warga lokal yang akhirnya jatuh ke tangan pihak asing atau orang luar pulau. Persis seperti slogan mereka vini, vidi, vici. Mereka lihat, mereka datang, dan mereka menang!

Sungguh suatu ironi ketika warga asing dapat hidup mewah di Bali karena apa-apa dianggap murah, kemewahan tak pernah mampir ke tangan para warga lokalnya sendiri. Di Bali pengemis dan anak jalanan adalah masalah sosial yang makin banyak jumlahnya tiap tahun. Jika di Jakarta para pengemis datang dari luar daerah secara musiman, maka di Bali pengemis justru banyak muncul dari warga lokalnya sendiri. Secara tak kasat mata tiap jengkal tanah di pulau ini makin lama makin berkurang karena dicuri oleh pihak asing yang berduit. Maka jangan salahkan para aktivis dan orang seperti Bli Jerinx yang selalu koar-koar mengingatkan bahayanya investor yang mau melahap tanah di Bali, karena memang seperti itulah keadaan di sini.

Masalah seperti ini saya yakin tak hanya ada di Bali, namun juga di banyak tempat di Indonesia. Banyak investor yang datang ke suatu daerah terpencil namun potensial kemudian dengan seenak jidatnya membangun ini itu tanpa mempedulikan efek sampingnya bagi kehidupan warga lokal. Mungkin benar mereka mempekerjakan warga lokal dengan dalih meningkatkan taraf ekonomi warga sekitar, namun banyak masalah sosial dan lingkungan yang kemudian dimunculkan akibat pembangunan yang berlebihan.

Jadi bagaimana masih mau beli tanah dan pindah ke Bali? Ya terserah kalian lah, duit-duit orang kok saya yang sewot!

BACA JUGA Pengalaman KKN di Bali Jadi Bukti Nyata RUU Larangan Minuman Beralkohol Itu Omong Kosong atau tulisan Ima Triharti Lestari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.