Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Tidak Punya Uang

Alifia Putri Nur Rochmah oleh Alifia Putri Nur Rochmah
8 Januari 2026
A A
Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Malas dan Tidak Punya Uang Mojok.co

Jurusan Ekonomi Pembangunan Menyadarkan Saya kalau Kemiskinan Itu Bukan Sekadar Orang yang Malas dan Tidak Punya Uang (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Dahulu sebelum masuk kuliah jurusan Ekonomi Pembangunan, saya pikir kemiskinan itu sesederhana tidak punya uang. Solusinya juga saya pikir simpel saja, memberikan uang. Namun, setelah belajar di jurusan Ekonomi Pembangunan, pandangan naif itu langsung menguap. 

Dosen saya memulai perkuliahan dengan pertanyaan provokatif, “Kalau saya kasih kalian 100 juta sekarang, apakah kalian sudah pasti tidak akan miskin lagi?” Seisi kelas kompak menjawab “Iya”.  Dosen saya hanya tersenyum sambil menggeleng pelan. 

Bukan cuma soal kantong tipis

Ternyata, kemiskinan itu seperti bawang bombay berlapis-lapis dan bikin nangis kalau dikupas satu per satu. Di semester pertama kuliah, dosen saya mengajarkan konsep kemiskinan yang multidimensi. Awalnya saya mikir, “Ah, ini mah dosen lagi sok intelek aja bikin istilah ribet.” Tapi, semakin dipelajari, konsep tersebut semakin makes sense.

Ternyata, orang bisa disebut miskin bukan cuma karena penghasilannya di bawah garis kemiskinan. Ada orang yang punya uang cukup buat makan tiga kali sehari, tapi nggak punya akses ke pendidikan yang layak. Kasus lain, ada yang rumahnya bagus, tapi nggak punya akses ke air bersih atau sanitasi yang proper. Ada juga yang secara ekonomi menengah, tapi terisolasi secara sosial dan nggak punya bargaining power dalam komunitasnya.

Saya jadi ingat tetangga di kampung. Bapaknya kerja keras, penghasilan cukup buat hidup sehari-hari, tapi anaknya nggak bisa sekolah karena nggak ada sekolah menengah di desanya. Sementara, biaya ngekos kalau mau sekolah di kota terlalu mahal. Itu namanya kemiskinan akses. Uangnya ada, tapi pintunya tertutup.

Saya juga jadi teringat cerita teman saya yang ibunya sakit, punya BPJS, tapi rumah sakitnya jauh banget dan nggak ada transportasi publik. Akhirnya, telat berobat dan penyakitnya semakin parah. Itu namanya kemiskinan infrastruktur. Sistemnya ada, tapi jembatannya nggak ada.

Jurusan Ekonomi Pembangunan membuka mata saya soal jebakan kemiskinan yang seperti lubang hitam

Jurusan Ekonomi Pembangunan membuat saya tercerahkan sekaligus sedih. Terlebih ketika mendalami konsep poverty trap atau jebakan kemiskinan. Konsep ini menjelaskan kenapa orang miskin susah banget keluar dari kemiskinan, bahkan ketika mereka kerja keras sekalipun.

Bayangkan saja, keluarga miskin biasanya punya banyak anak. Kenapa? Karena anak dianggap sebagai investasi. Anak bisa bantu kerja dan tumpuan di hari tua. Tapi, karena banyak anak, biaya hidup makin besar, dan uang yang seharusnya buat pendidikan jadi kepotong. Alhasil, anak-anak dari keluarga miskin sulit sekolah tinggi, cuma bisa kerja kasar dengan upah rendah. Siklus kemiskinan pun terulang lagi di generasi berikutnya.

Baca Juga:

Predikat Cumlaude Kini Basi dan Tidak Prestisius Lagi karena Terlalu Banyak Mahasiswa Memilikinya

Kritik untuk Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia UNY dan UAD, Terlalu Ndakik-Ndakik hingga Berjarak dari Realitas

Kasus lain yang sering banget terjadi, petani miskin nggak punya modal buat beli pupuk atau bibit berkualitas. Hasil panennya jadi sedikit. Karena hasil panen sedikit, penghasilannya juga sedikit. Penghasilan yang tidak seberapa itu membuat mereka tidak bisa beli bubuk berkualitas lagi di tahun depan. Begitu terus, berputar-putar seperti lingkaran setan yang nggak ada ujungnya.

Ini yang bikin saya sadar kalau kasih uang doang nggak cukup. Kalau sistemnya masih sama, uangnya bakal habis buat konsumsi sehari-hari, dan besok-besoknya mereka balik miskin lagi. Yang perlu diubah adalah strukturnya akses ke pendidikan, akses ke modal, akses ke pasar, akses ke informasi.

Jurusan Ekonomi Pembangunan menyadarkan saya kalau sistem yang ada memang bikin orang-orang susah naik kelas

Nah, ini bagian yang paling bikin saya kesel sekaligus tercerahkan yakni kemiskinan struktural. Pernahkah terlintas di benak kalian, kenapa anak orang kaya gampang banget sukses, sementara anak orang miskin berjuang mati-matian, tapi tetep aja susah? Bukan cuma soal modal atau koneksi orang tua. Lebih dari itu, sistem kita memang sadar atau nggak sadar dirancang untuk menguntungkan yang sudah punya privilese.

Contoh mudahnya, sistem kredit perbankan. Bank lebih suka ngasih kredit ke orang yang udah punya aset sebagai jaminan. Sementara, orang miskin kan nggak punya aset. Itu mengapa kebanyakan dari mereka terpaksa pinjam ke rentenir dengan bunga gila-gilaan. Ujung-ujungnya mereka makin terjerat utang.

Ini yang bikin saya frustasi. Bukan berarti orang miskin nggak mau usaha atau malas. Tapi sistemnya aja udah nggak fair dari awal. Seolah-olah kalian sedang bermain game, tapi karaktermu spawn-nya sudah minus HP. Sementara karakter orang lain spawn dengan full equipment legendary.

Belajar soal dignitas dan agency dalam kemiskinan

Perkuliah di jurusan Ekonomi Pembangunan paling mengena buat saya adalah ketika dosen membahas soal dignitas dan agency dalam kemiskinan. Miskin itu bukan cuma soal nggak punya uang atau akses, tapi juga soal kehilangan harga diri dan kehilangan kemampuan untuk menentukan nasib sendiri.

Orang miskin sering banget dianggap nggak punya aspirasi, nggak punya impian, atau nggak punya kapasitas untuk memutuskan apa yang terbaik buat hidup mereka. Jadinya, kebijakan dibuat dari atas, tanpa tanya mereka butuh apa. Program bantuan dirancang seenaknya, tanpa libat mereka dalam prosesnya.

Padahal, orang miskin itu tahu persis apa yang mereka butuhkan. Mereka nggak butuh dikasihani. Mereka butuh kesempatan, butuh sistem yang adil, butuh didengar dan dihargai sebagai manusia yang punya akal dan kehendak.

Saya jadi inget waktu KKN dulu, ada ibu-ibu di desa yang bilang, “Kami nggak mau dikasih ikan terus. Kami mau diajarin mancing, dikasih kail, dan dikasih akses ke kolam.” Simple, tapi powerful banget.

Saya ingin berterima kasih pada jurusan ini karena telah membuka mata saya. Saya jadi lebih humble dan sadar bahwa penyelesaian masalah kemiskinan itu nggak ada jalan pintasnya. 

Kemiskinan itu kompleks, jadi solusinya juga harus komprehensif. Kasih uang saja nggak cukup, perlu ada perubahan sistem dan struktur. Orang miskin juga bukan objek yang perlu dikasihani, tapi subjek yang perlu diberdayakan. Dan, pembangunan itu bukan cuma soal pertumbuhan ekonomi, tapi juga soal keadilan dan keberlanjutan.

Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Kukira Jurusan Ekonomi Pembangunan Cuma Itung-itungan, Ternyata Isinya Analisis Kebijakan Melulu yang Bikin Pusing.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Januari 2026 oleh

Tags: ekonomi pembangunanjurusan Ekonomi Pembangunanjurusan kuliahKemiskinanKuliahMahasiswaMiskin
Alifia Putri Nur Rochmah

Alifia Putri Nur Rochmah

Penulis kelahiran Kebumen. Anak Ekonomi Pembangunan UNS yang lebih tertarik pada cerita di balik data. Berpengalaman sebagai content writer dan content creator, gemar berkelana ke tempat-tempat baru, dan menulis tentang apa saja dari yang serius sampai yang receh.

ArtikelTerkait

5 Stereotip Keliru Soal Jurusan Pariwisata Terminal Mojok

5 Stereotip Keliru Soal Jurusan Pariwisata

13 Maret 2022
BEM Itu Problematik dan Saya Menyesal Telah Bergabung

BEM Itu Problematik dan Saya Menyesal Telah Bergabung

16 September 2022
Seandainya Upin Ipin Merantau ke Kediri: Kuliahnya di IAIN, Logatnya Peh-Biuh, dan Jadi Anak Senja Pantai Brantas

Seandainya Upin Ipin Merantau ke Kediri: Kuliahnya di IAIN, Logatnya Peh-Biuh, dan Jadi Anak Senja Pantai Brantas

7 Maret 2024
Jurusan Sastra Indonesia: Fakta dan Stereotip Goblok yang Disematkan kepada Mahasiswa Sasindo

Jurusan Sastra Indonesia: Fakta dan Stereotip Goblok yang Disematkan kepada Mahasiswa Sasindo

23 Oktober 2023
6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi (Unsplash)

6 Sisi Gelap Jurusan Psikologi yang Tidak Masuk Brosur Promosi

24 Januari 2026
sastra inggris mojok

3 Pandangan Umum yang Keliru tentang Jurusan Sastra Inggris

9 Juli 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan (Pernah) Percaya Kabar Kylian Mbappe (Akhirnya) Pindah ke Real Madrid, Pokoknya Jangan

Ketika 30 Juta Orang Ingin Kylian Mbappe Angkat Kaki dari Real Madrid

8 Mei 2026
Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas” Terminal

Alumni UT Nggak Ribut Soal Almamater, Tahu-tahu Hidupnya “Naik Kelas”

11 Mei 2026
Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

Cita-cita Adik Saya Mati di Tangan Tes Ishihara: Sebuah Vonis Konyol dalam Dunia Pendidikan Kita

6 Mei 2026
Liga Indonesia Saat Ini Seperti Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh (Unsplash)

Liga Indonesia Saat Ini Adalah Panggung Kuasa Modal: Serupa Mesin Industri Pragmatis Tanpa Ruh

10 Mei 2026
Dilema Jawa Murtad di Gunungkidul Lidah Sumatra Jadi Petaka (Wikimedia Commons)

Dilema “Jawa Murtad” di Gunungkidul: Ketika Lidah Sumatra Menjadi Petaka

7 Mei 2026
Kampus-Kampus Bangkalan Madura Bakal Jadi "Pabrik" Pengangguran kalau Tidak Mau Berbenah Mojok.co

Kampus di Bangkalan Madura Bakal Jadi “Pabrik” Pengangguran kalau Tidak Serius Berbenah

6 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Usaha Madu Jadi Ceruk Bisnis Potensial, Tapi Salah Praktik Tanpa Sadar Justru Bisa Rugikan Diri Sendiri
  • Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada
  • Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa
  • Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung
  • Efek Gym: Dari Dihina “Babi” karena Gendut dan Jelek bikin Lawan Jenis Gampang Mendekat, Tapi Tetap Sulit Nemu yang Tulus
  • Tongkrongan Bapak-Bapak di Desa: Obrolan Sering Ngawur, Kadang Nggak Berfaedah, tapi Saya Harus Gabung demi “Harga Diri” Keluarga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.