Joker dan Viktimisasi

Alih-alih mengakui bahwa kita masih lemah, kita berlindung dengan label “baik” & menyalahkan society yang “buruk”. Kita mencari tameng lewat film Joker ini.

Artikel

Nago Tejena

Setelah nonton Joker dan melihat banyak yang ngomong: “oRanG jaHaT adAlaH oRanG bAiK yaNg tERsaKiTi” saya jadi terinspirasi buat nulis tentang bagaimana orang-orang menggunakan #JokerFIlm sebagai tameng keburukan dalam hidupnya.

(((disclaimer))) film ini bagus dan saya menyukainya.

Oke, jadi…

…Joker merupakan seorang prince of crime yang selalu menghantui Batman, musuh utamanya, dengan segala kekacauan yang dibuatnya. Meskipun perannya adalah seorang villain, kerap kali Joker malah lebih menarik perhatian penonton dibandingkan sang superhero sendiri. Mengapa?

Karena Joker merepresentasikan sisi gelap diri kita yang tidak ingin kita lihat, spirit pemberontakan terhadap sistem yang ada, rasa muak dan frustrasi akan masyarakat, serta komedi ironi dari kehidupan. Sesuatu yang relatable pada banyak orang (surprise, bukan anda aja).

Dalam film Joker kali ini, Joaquin Phoenix membawa kita ke dunia Arthur Flecks. Seorang warga yang secara perlahan “descend into madness” karena kondisi society dan akhirnya memunculkan persona Joker.

Warganet pun mulai memunculkan kata-kata: “How to make joker in 2019, throw him to society” Atau “Orang jahat adalah orang baik yang tersakiti” Seperti mba ini:

Image

Sejujurnya saya tidak begitu setuju dengan quotes-quotes ini. Kenapa?

Simpelnya, karena kita begitu mudah menggunakan kata “baik” untuk menutupi “kelemahan” kita. Contoh nih ya, pernahkah sewaktu SMA Anda melihat ada anak yang sudah buat PR, lalu PRnya dicontek dengan teman-temannya yang belum buat? Si anak ini awalnya menolak, namun karena tidak kuat menolak, ia pun memberikannya. Apakah label “baik” pantas disematkan kepada si anak? Tidak. Karena ia tidak voluntary memberikan itu. Ia tidak mampu mempertahankan prinsip yang ia pegang “PR tidak boleh dicontek”. Ia lemah dan tidak mampu mempertahankan dirinya.

Baca Juga:  Depresi Itu (Nggak) Cuma Butuh Didengarkan

Begitu pula dengan kita, Kita tidak mampu mengemukakan argumen kita, tidak mampu melawan pendapat orang lain, tidak mampu mempertahankan diri kita. Alih-alih mengakui bahwa kita masih lemah, kita berlindung dengan label “baik” dan menyalahkan society yang “buruk”

Well, guess what…

…It is not you VS society. you ARE a part of society!

Jadi apa yang harus dilakukan? Stop victimizing yourself. You are capable to defend yourself. Pick up your damn responsibility as a part of society. Do this and trust me. You will thrive, people around you will change, and the society will be better.

Catatan: Tulisan ini ditujukan pada orang-orang yang sebenarnya normal, namun mengkomparasi hidup mereka dengan Joker. Bukan orang dengan gangguan sebenarnya ya. (*)

BACA JUGA Tanpa Perlu Nonton Joker Banyak Orang Indonesia Sudah Jadi Joker atau tulisan Nago Tejena lainnya. Follow Twitter Nago Tejena.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
1.687 kali dilihat

6

Komentar

Comments are closed.