5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama

5 Hal yang Menjebak Pengendara di Jalan Parangtritis Jogja, Perhatikan demi Keselamatan dan Kenyamanan Bersama (unsplash.com)

Sebagai seorang yang berdomisili di Bantul bagian utara namun lahir di Bantul bagian selatan, saya sering bolak-balik di antara keduanya. Tentu saja kendaraan yang sering kali saya gunakan untuk transportasi adalah motor. Dan Jalan Parangtritis Jogja adalah jalan utama yang saya lewati selama bertahun-tahun.

Oleh karenanya, saya paham betul kondisi jalan ini. Selain itu, saya juga hendak melengkapi tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi yang tayang di Terminal Mojok hampir dua tahun silam. Jika Noor Annisa Falachul Firdausi berfokus pada sisi kenyamanannya, maka saya akan mengurai sedikit “jebakan Batman” yang merupakan sisi lain Jalan Parangtritis ini.

Jalan Parangtritis sering dipersepsikan sebagai jalan yang menyenangkan di Jogja. Lurus, lebar, dan seolah ramah untuk siapa saja yang ingin cepat sampai tujuan. Tapi justru di situlah masalahnya bermula. Sebab jalan yang terlihat enak ini sering kali membuat orang lupa bahwa ia tetap jalan umum, bukan sirkuit balap Mandalika.

Sebagai orang yang cukup sering melintasi Jalan Parangtritis, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: jalan ini bukan jalan biasa. Ia adalah paket lengkap antara kenyamanan palsu dan potensi bahaya yang muncul dari berbagai arah, kadang tanpa aba-aba.

Agar tidak terdengar seperti keluhan kosong, mari kita bahas satu per satu secara sederhana saja.

Jalan Parangtritis Jogja lurus, tapi mengundang kebiasaan kebut-kebutan

Jalan Parangtritis itu lurus. Terlalu lurus untuk ukuran jalan umum. Lurus yang bikin tangan kanan gatal untuk menarik gas sedikit lebih dalam dari seharusnya. Banyak pengendara seperti lupa bahwa lurus bukan berarti aman. Padahal semakin lurus jalan, semakin besar godaan untuk merasa paling jago dan paling cepat sampai tujuan.

Sebenarnya, Jalan Parangtritis Jogja ini tidak lurus-lurus amat, sih. Lihat saja di Patalan, jalan berkelok sedikit. Tetapi kelokan itu seperti tidak terasa sehingga jalan ini sering dianggap sebagai Shirathalmustaqim yang menghubungkan Jokteng Wetan dengan Pantai Parangtritis.

Baca juga: Derita Tinggal di Dekat Jalan Parangtritis Jogja, Memaksa Saya Harus Menyiksa Suzuki Shogun Setiap Hari.

Aspal rusak dan jalan berlubang di sana-sini

Di tengah kelurusan yang menggoda itu, ada jebakan klasik: aspal rusak dan lubang yang muncul tanpa pengumuman resmi. Parahnya lagi, beberapa yang berlubang itu sekadar ditambal saja sehingga aspalnya tidak mulus malah justru pating gronjal sehingga membuat pengendara tidak nyaman. Dari kejauhan sih memang kelihatan mulus, tapi mendadak roda menghantam lubang dan jantung ikut lompat. Kombinasi kebut-kebutan dan lubang jalan ini jelas bukan resep keselamatan.

Entah mengapa kondisi Jalan Parangtritis Jogja kini sebegitu parahnya. Padahal dulu, kira-kira 15 tahun yang lalu, kalau aspal mengelupas sedikit saja, ada perbaikan panjang. Jalan diaspal ulang sehingga ketika sudah jadi, jalan kembali mulus. Sekarang, banyak lubang dibiarkan saja. Kalaupun ada perbaikan, cuma tambal sulam.

Banyak cabang jalan di Jalan Parangtritis Jogja, kendaraan muncul seperti plot twist

Jalan Parangtritis Jogja punya banyak cabang. Gang kecil, jalan kampung, akses ke permukiman, semuanya bermuara ke jalan utama. Dari cabang-cabang inilah kendaraan sering muncul tiba-tiba, kadang tanpa menoleh kiri-kanan. Bagi yang sedang melaju lurus dengan penuh percaya diri, ini bisa jadi momen refleksi hidup yang sangat singkat.

Tidak jarang kendaraan yang muncul dari cabang-cabang tersebut tidak lihat kanan-kiri, langsung saja masuk jalur utama. Itu seperti dikageti tapi tidak terlalu kaget, cuma sekara cilukba. Tapi, itu pun sudah cukup menjadi perhatian para pengendara.

Klitih di malam hari, ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang

Saat malam tiba, Jalan Parangtritis Jogja punya reputasi tambahan yang tidak bisa kita anggap angin lalu: klitih. Tidak setiap malam, tidak setiap waktu, tapi cukup sering untuk membuat orang waspada. Berkendara malam hari di sini bukan cuma soal melihat jalan, tapi juga membaca situasi. Siapa di depan, siapa di belakang, dan kapan harus menarik gas.

Kalau berkendara dengan motor di jalan ini malam-malam, harus waspada. Jalan ini cukup sepi di malam hari. Kalau ada motor lain, justru malah bikin curiga. Jangan-jangan itu klitih.

Baca juga: Tak Ada Lagi Tangis di Parangtritis Jogja: Tempat Indah yang Makin Hari Makin Biasa Saja.

Kanan-kiri Jalan Parangtritis Jogja penuh penjaja dan minimarket, penyeberang datang dari mana saja

Di kanan-kiri jalan, berjajar penjual makanan, angkringan, minimarket, warung-warung kecil, dan lain sebagainya. Ini kabar baik bagi perut, tapi tantangan bagi pengendara. Orang menyeberang sering muncul tiba-tiba, kadang tanpa melihat kondisi jalan.

Dengan kondisi tersebut, motor dan mobil harus siap mengerem mendadak demi seseorang yang mendadak ingat ingin beli es teh jumbo yang ada di pinggiran jalan. Menurunkan kewaspadaan dalam kondisi demikian justru bisa sangat berbahaya.

Kelima hal ini membuat Jalan Parangtritis Jogja terasa seperti simulasi lengkap berkendara di Indonesia. Ada godaan ngebut, jebakan fisik berupa lubang, kejutan dari samping kanan dan kiri, ancaman sosial di malam hari, dan aktivitas warga yang tidak bisa kita salahkan sepenuhnya.

Masalahnya bukan pada jalan itu sendiri, tapi pada cara kita memperlakukannya. Jalan Parangtritis sering kita perlakukan seolah ia steril dari kehidupan sehari-hari, padahal ia justru hidup. Ada orang keluar-masuk gang, ada yang berdagang, ada yang menyeberang, dan ada yang sekadar pulang.

Mungkin yang dibutuhkan bukan hanya perbaikan aspal atau rambu tambahan, tapi perubahan cara pandang. Bahwa jalan lurus tidak selalu berarti aman. Bahwa cepat tidak selalu berarti sampai dengan selamat. Dan bahwa kewaspadaan sering kali jauh lebih penting daripada kepercayaan diri.

Jalan Parangtritis mengajarkan satu hal sederhana: berkendara itu bukan soal seberapa cepat kita melaju, tapi seberapa siap kita menghadapi hal-hal tak terduga. Sebab di jalan ini, bahaya jarang datang dengan klakson. Ia datang pelan-pelan, tiba-tiba, dan sering kali dari arah yang tidak kita duga.

Penulis: Supriyadi
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jalan Parangtritis Jogja Memang Lurus dan Halus, tapi Justru Berpotensi Bikin Pengendara Terlena, Ngebut, Benjut!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version