Banyak cabang jalan di Jalan Parangtritis Jogja, kendaraan muncul seperti plot twist
Jalan Parangtritis Jogja punya banyak cabang. Gang kecil, jalan kampung, akses ke permukiman, semuanya bermuara ke jalan utama. Dari cabang-cabang inilah kendaraan sering muncul tiba-tiba, kadang tanpa menoleh kiri-kanan. Bagi yang sedang melaju lurus dengan penuh percaya diri, ini bisa jadi momen refleksi hidup yang sangat singkat.
Tidak jarang kendaraan yang muncul dari cabang-cabang tersebut tidak lihat kanan-kiri, langsung saja masuk jalur utama. Itu seperti dikageti tapi tidak terlalu kaget, cuma sekara cilukba. Tapi, itu pun sudah cukup menjadi perhatian para pengendara.
Klitih di malam hari, ancaman yang tidak pernah benar-benar hilang
Saat malam tiba, Jalan Parangtritis Jogja punya reputasi tambahan yang tidak bisa kita anggap angin lalu: klitih. Tidak setiap malam, tidak setiap waktu, tapi cukup sering untuk membuat orang waspada. Berkendara malam hari di sini bukan cuma soal melihat jalan, tapi juga membaca situasi. Siapa di depan, siapa di belakang, dan kapan harus menarik gas.
Kalau berkendara dengan motor di jalan ini malam-malam, harus waspada. Jalan ini cukup sepi di malam hari. Kalau ada motor lain, justru malah bikin curiga. Jangan-jangan itu klitih.
Baca juga: Tak Ada Lagi Tangis di Parangtritis Jogja: Tempat Indah yang Makin Hari Makin Biasa Saja.
Kanan-kiri Jalan Parangtritis Jogja penuh penjaja dan minimarket, penyeberang datang dari mana saja
Di kanan-kiri jalan, berjajar penjual makanan, angkringan, minimarket, warung-warung kecil, dan lain sebagainya. Ini kabar baik bagi perut, tapi tantangan bagi pengendara. Orang menyeberang sering muncul tiba-tiba, kadang tanpa melihat kondisi jalan.
Dengan kondisi tersebut, motor dan mobil harus siap mengerem mendadak demi seseorang yang mendadak ingat ingin beli es teh jumbo yang ada di pinggiran jalan. Menurunkan kewaspadaan dalam kondisi demikian justru bisa sangat berbahaya.
Kelima hal ini membuat Jalan Parangtritis Jogja terasa seperti simulasi lengkap berkendara di Indonesia. Ada godaan ngebut, jebakan fisik berupa lubang, kejutan dari samping kanan dan kiri, ancaman sosial di malam hari, dan aktivitas warga yang tidak bisa kita salahkan sepenuhnya.
Masalahnya bukan pada jalan itu sendiri, tapi pada cara kita memperlakukannya. Jalan Parangtritis sering kita perlakukan seolah ia steril dari kehidupan sehari-hari, padahal ia justru hidup. Ada orang keluar-masuk gang, ada yang berdagang, ada yang menyeberang, dan ada yang sekadar pulang.
Mungkin yang dibutuhkan bukan hanya perbaikan aspal atau rambu tambahan, tapi perubahan cara pandang. Bahwa jalan lurus tidak selalu berarti aman. Bahwa cepat tidak selalu berarti sampai dengan selamat. Dan bahwa kewaspadaan sering kali jauh lebih penting daripada kepercayaan diri.
Jalan Parangtritis mengajarkan satu hal sederhana: berkendara itu bukan soal seberapa cepat kita melaju, tapi seberapa siap kita menghadapi hal-hal tak terduga. Sebab di jalan ini, bahaya jarang datang dengan klakson. Ia datang pelan-pelan, tiba-tiba, dan sering kali dari arah yang tidak kita duga.
Penulis: Supriyadi
Editor: Intan Ekapratiwi
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















