Sebagai seorang yang berdomisili di Bantul bagian utara namun lahir di Bantul bagian selatan, saya sering bolak-balik di antara keduanya. Tentu saja kendaraan yang sering kali saya gunakan untuk transportasi adalah motor. Dan Jalan Parangtritis Jogja adalah jalan utama yang saya lewati selama bertahun-tahun.
Oleh karenanya, saya paham betul kondisi jalan ini. Selain itu, saya juga hendak melengkapi tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi yang tayang di Terminal Mojok hampir dua tahun silam. Jika Noor Annisa Falachul Firdausi berfokus pada sisi kenyamanannya, maka saya akan mengurai sedikit “jebakan Batman” yang merupakan sisi lain Jalan Parangtritis ini.
Jalan Parangtritis sering dipersepsikan sebagai jalan yang menyenangkan di Jogja. Lurus, lebar, dan seolah ramah untuk siapa saja yang ingin cepat sampai tujuan. Tapi justru di situlah masalahnya bermula. Sebab jalan yang terlihat enak ini sering kali membuat orang lupa bahwa ia tetap jalan umum, bukan sirkuit balap Mandalika.
Sebagai orang yang cukup sering melintasi Jalan Parangtritis, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana: jalan ini bukan jalan biasa. Ia adalah paket lengkap antara kenyamanan palsu dan potensi bahaya yang muncul dari berbagai arah, kadang tanpa aba-aba.
Agar tidak terdengar seperti keluhan kosong, mari kita bahas satu per satu secara sederhana saja.
Jalan Parangtritis Jogja lurus, tapi mengundang kebiasaan kebut-kebutan
Jalan Parangtritis itu lurus. Terlalu lurus untuk ukuran jalan umum. Lurus yang bikin tangan kanan gatal untuk menarik gas sedikit lebih dalam dari seharusnya. Banyak pengendara seperti lupa bahwa lurus bukan berarti aman. Padahal semakin lurus jalan, semakin besar godaan untuk merasa paling jago dan paling cepat sampai tujuan.
Sebenarnya, Jalan Parangtritis Jogja ini tidak lurus-lurus amat, sih. Lihat saja di Patalan, jalan berkelok sedikit. Tetapi kelokan itu seperti tidak terasa sehingga jalan ini sering dianggap sebagai Shirathalmustaqim yang menghubungkan Jokteng Wetan dengan Pantai Parangtritis.
Aspal rusak dan jalan berlubang di sana-sini
Di tengah kelurusan yang menggoda itu, ada jebakan klasik: aspal rusak dan lubang yang muncul tanpa pengumuman resmi. Parahnya lagi, beberapa yang berlubang itu sekadar ditambal saja sehingga aspalnya tidak mulus malah justru pating gronjal sehingga membuat pengendara tidak nyaman. Dari kejauhan sih memang kelihatan mulus, tapi mendadak roda menghantam lubang dan jantung ikut lompat. Kombinasi kebut-kebutan dan lubang jalan ini jelas bukan resep keselamatan.
Entah mengapa kondisi Jalan Parangtritis Jogja kini sebegitu parahnya. Padahal dulu, kira-kira 15 tahun yang lalu, kalau aspal mengelupas sedikit saja, ada perbaikan panjang. Jalan diaspal ulang sehingga ketika sudah jadi, jalan kembali mulus. Sekarang, banyak lubang dibiarkan saja. Kalaupun ada perbaikan, cuma tambal sulam.
Baca halaman selanjutnya: Banyak cabang jalan, kendaraan muncul seperti plot twist…



















