Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Luar Negeri

Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
29 Oktober 2020
A A
Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi kecuali Pengin Memacu Adrenalin terminal mojok.co

Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi kecuali Pengin Memacu Adrenalin terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Suatu sore di Bantul, saya membaca berita bahwa keberadaan motor akan dikurangi di Vietnam sampai puncaknya tahun 2030. Saya pun duduk diam dan membayangkan, Vietnam tanpa motor itu rasanya seperti Jogja tanpa UMR di bawah standar. Atau ya pol mentok seperti Jogja tanpa pembangunan hotelnya. Vietnam tanpa motor, itu komedi yang rasanya harus terhenti dengan cara yang sakti.

Bukan Vietnam secara luas, melainkan Hanoi yang merupakan Jakarta versi lebih ekstrim. Kenapa saya mengatakan lebih ekstrim? Saya sempat mbatin bahwa Jakarta ini trafiknya asu sekali. Tapi ketika saya diberikan kesempatan ke Vietnam, selain asu, saya juga hampir dibikin nangis. Kemudian saya memaklumi Jakarta, ternyata ibukota negara saya nggak parah-parah amat.

Hanoi adalah sebuah tempat di mana klakson tidak berfungsi sebagai marwahnya. Mbok tenan, mau dalam keadaan apa pun, rasanya kurang mantap kalau mereka nggak membunyikan klakson. Keluar dari bandara, saya kira ada kecelakaan karena rame sekali. Tapi, kok kecelakaan di sepanjang jalan? Jebul, kata supir taksi yang saya gunakan jasanya, itu seperti tradisi kota ini.

Saya sejatinya ingin bertanya apakah nggak ada tradisi yang lebih wangun ketimbang nyalain klakson? Seperti bangun tol atau apartemen gitu? Namun, urung saya tanyakan lantaran tradisi membunyikan klakson lebih mending ketimbang nyedot air tanah atau menggusur paksa lahan pertanian.

Jam 12 malam di Hanoi, rasanya justru seperti sebuah perayaan. Saya masih mendengar suara bising jalan raya. Pedagang mi jalanan, orang-orang yang memang memiliki aktivitas ketika malam, hingga para wisatawan yang hendak pergi menuju club. Sedangkan saya yang baru bisa naik motor ketika kuliah ini overthinking atas satu hal: mau nyewa motor atau nggak?

Pilihan yang amat sulit untuk orang yang baru bisa naik motor kurang lebih 3 tahun. Masalahnya, ini Hanoi. Lha wong di Jogja, Ring Road misalnya, saya acap kali ngewel ketika beradu kecepatan, apalagi ini negara orang. Demi kemaslahatan umat dan kelancaran saya di Hanoi, akhirnya saya memutuskan untuk meminjam motor Honda Lead 125. Sumpah, walau sama-sama motor, tapi rasanya kagok.

Keluar dari penyewaan motor, saya langsung disapa dengan klakson belakang, depan, kanan, dan kiri. Saya rasanya ingin mengedukasi bahwa misuh itu kadang lebih plong ketimbang klakson. Saya nggak bercanda, bilang “jembot!” entah nadanya nyenthe atau malah hanya di batin, lebih menyejukkan ketimbang sekadar klakson. Barangkali itu yang menyebabkan jalanan Jogja hanya diisi oleh deru mesin, polusi, dan kemacetan. Nggak dengan klakson.

Selama melintasi Old Quarter Hanoi sampai menuju Stadium Hang Day, rasanya saya ingin nangis dan banting motor saja. Mungkin ini yang dirasakan oleh mas-mas unboxing Scoopy waktu ditilang. Ia tidak dikuasai emosi, tapi ada perasaan takut dan ingin menyudahi semua gundah gulana ini.

Baca Juga:

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal

Sak puol e, sepanjang jalan saya nggak diberi kesempatan untuk lihat spion. Nih, ya, rasanya spion itu nggak berguna. Gas dan rem, itu nggak lebih berguna ketimbang klakson. Entah bagaimana caranya, setiap meter penduduk Hanoi menggunakan motor, mereka harus menyalakan klakson. Itu sangat gila, setidaknya membuat saya yang gila ini tambah gila.

Yang membuat saya nggak habis pikir, itu helm berbentuk batok. Sebuah helm yang pernah ngetrend di Indonesia pada milenium awal. Di Hanoi, saya menggunakan helm ini, rasanya bukan seperti sedang naik motor, tapi seperti mandor yang sedang nuding-nuding proyek pembangunan hotel. Ya, helm di Hanoi lebih mirip seperti helm proyek ketimbang helm standar di Indonesia.

Dilematis ketika ada yang mau menyeberang jalan. Pilihannya hanya dua, terus berjalan dengan kecepatan konstan atau berhenti karena iba, dengan syarat motormu ditabrak dari belakang. Wes to pilihannya humanisme adi luhung atau ganti rugi ongkos kerusakan bodi motor.

Apalagi di sekitar trotoar, itu adalah jejeran motor yang sedang diparkirkan. Saya nggak kebayang bagaimana rasanya jadi pedestrian. Mungkin rasanya bukan seperti sedang jalan kaki biasa, tapi rasanya seperti melewati obstacle Ninja Warrior. Ketika sampai tujuan, tinggal mbengok, “MY TRIP MY ADVENTURE!”

Entah Hanoi sekarang menjadi seperti apa. Jika ditanya apakah mau kembali ke sana atau tidak, dengan perasaan paling tulus saya akan bilang sangat ingin untuk kembali. Sama seperti rindu, dendam harus dibayar tuntas. Dendam terbaik kepada Hanoi adalah dengan cara tidak menyewa motor apalagi mengendarainya!

BACA JUGA Yamaha Vixion: Motor yang Mudah Dicintai dan Bikin Nyaman Pengendaranya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2021 oleh

Tags: HanoiMotorsewa
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

10 Kebiasaan Buruk yang Harus Ditinggalkan agar Motor Nggak Gampang Mogok Saat Musim Hujan Mojok.co

10 Kebiasaan Buruk yang Harus Ditinggalkan agar Motor Nggak Gampang Mogok Saat Musim Hujan

20 November 2025
Semahal-mahalnya Motor Tetap Bikin Kepanasan Saat di Jalan

Unpopular Opinion: Semahal-mahalnya Motor Tetap Bikin Kepanasan Saat di Jalan

2 Mei 2023
5 Cara Memahami Pengguna Knalpot Brong yang Berisik di Jalanan terminal mojok.co

5 Cara Memahami Pengguna Knalpot Brong yang Berisik di Jalanan

5 November 2020
Saran untuk Pabrikan Motor agar Pengendara Tak Lupa Mematikan Lampu Sein

Saran untuk Pabrikan Motor agar Pengendara Tak Lupa Mematikan Lampu Sein

27 Mei 2022
Mencuci Motor, Aktivitas Sepele yang Membuat Kendaraan Lebih Awet Mojok.co

Mencuci Motor, Aktivitas Sepele yang Membuat Kendaraan Lebih Awet

24 Desember 2023
Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal MOJOK.CO

Bagi Orang Bengkel, Honda Beat Adalah Motor Paling Masuk Akal yang Pernah Mengaspal

28 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Bentuk Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang  MOjok.co

5 Sopan Santun Orang Solo yang Membingungkan dan Disalahpahami Pendatang 

2 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

1 Februari 2026
4 Aib Guci Tegal yang Membuat Wisatawan Malas ke Sana Mojok.co

Objek Wisata Guci Tegal Harus Bangkit karena Kabupaten Tegal Tak Ada Apa-Apanya Tanpa Guci

2 Februari 2026
Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Gudeg Malang Nyatanya Bakal Lebih Nikmat ketimbang Milik Jogja (Unsplash)

Membayangkan Jika Gudeg Bukan Kuliner Khas Jogja tapi Malang: Rasa Nggak Mungkin Manis dan Jadi Makanan Biasa Saja

1 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers
  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.