Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi kecuali Pengin Memacu Adrenalin – Terminal Mojok

Jangan Pernah Nyewa Motor di Hanoi kecuali Pengin Memacu Adrenalin

Artikel

Gusti Aditya

Suatu sore di Bantul, saya membaca berita bahwa keberadaan motor akan dikurangi di Vietnam sampai puncaknya tahun 2030. Saya pun duduk diam dan membayangkan, Vietnam tanpa motor itu rasanya seperti Jogja tanpa UMR di bawah standar. Atau ya pol mentok seperti Jogja tanpa pembangunan hotelnya. Vietnam tanpa motor, itu komedi yang rasanya harus terhenti dengan cara yang sakti.

Bukan Vietnam secara luas, melainkan Hanoi yang merupakan Jakarta versi lebih ekstrim. Kenapa saya mengatakan lebih ekstrim? Saya sempat mbatin bahwa Jakarta ini trafiknya asu sekali. Tapi ketika saya diberikan kesempatan ke Vietnam, selain asu, saya juga hampir dibikin nangis. Kemudian saya memaklumi Jakarta, ternyata ibukota negara saya nggak parah-parah amat.

Hanoi adalah sebuah tempat di mana klakson tidak berfungsi sebagai marwahnya. Mbok tenan, mau dalam keadaan apa pun, rasanya kurang mantap kalau mereka nggak membunyikan klakson. Keluar dari bandara, saya kira ada kecelakaan karena rame sekali. Tapi, kok kecelakaan di sepanjang jalan? Jebul, kata supir taksi yang saya gunakan jasanya, itu seperti tradisi kota ini.

Saya sejatinya ingin bertanya apakah nggak ada tradisi yang lebih wangun ketimbang nyalain klakson? Seperti bangun tol atau apartemen gitu? Namun, urung saya tanyakan lantaran tradisi membunyikan klakson lebih mending ketimbang nyedot air tanah atau menggusur paksa lahan pertanian.

Jam 12 malam di Hanoi, rasanya justru seperti sebuah perayaan. Saya masih mendengar suara bising jalan raya. Pedagang mi jalanan, orang-orang yang memang memiliki aktivitas ketika malam, hingga para wisatawan yang hendak pergi menuju club. Sedangkan saya yang baru bisa naik motor ketika kuliah ini overthinking atas satu hal: mau nyewa motor atau nggak?

Pilihan yang amat sulit untuk orang yang baru bisa naik motor kurang lebih 3 tahun. Masalahnya, ini Hanoi. Lha wong di Jogja, Ring Road misalnya, saya acap kali ngewel ketika beradu kecepatan, apalagi ini negara orang. Demi kemaslahatan umat dan kelancaran saya di Hanoi, akhirnya saya memutuskan untuk meminjam motor Honda Lead 125. Sumpah, walau sama-sama motor, tapi rasanya kagok.

Keluar dari penyewaan motor, saya langsung disapa dengan klakson belakang, depan, kanan, dan kiri. Saya rasanya ingin mengedukasi bahwa misuh itu kadang lebih plong ketimbang klakson. Saya nggak bercanda, bilang “jembot!” entah nadanya nyenthe atau malah hanya di batin, lebih menyejukkan ketimbang sekadar klakson. Barangkali itu yang menyebabkan jalanan Jogja hanya diisi oleh deru mesin, polusi, dan kemacetan. Nggak dengan klakson.

Selama melintasi Old Quarter Hanoi sampai menuju Stadium Hang Day, rasanya saya ingin nangis dan banting motor saja. Mungkin ini yang dirasakan oleh mas-mas unboxing Scoopy waktu ditilang. Ia tidak dikuasai emosi, tapi ada perasaan takut dan ingin menyudahi semua gundah gulana ini.

Sak puol e, sepanjang jalan saya nggak diberi kesempatan untuk lihat spion. Nih, ya, rasanya spion itu nggak berguna. Gas dan rem, itu nggak lebih berguna ketimbang klakson. Entah bagaimana caranya, setiap meter penduduk Hanoi menggunakan motor, mereka harus menyalakan klakson. Itu sangat gila, setidaknya membuat saya yang gila ini tambah gila.

Yang membuat saya nggak habis pikir, itu helm berbentuk batok. Sebuah helm yang pernah ngetrend di Indonesia pada milenium awal. Di Hanoi, saya menggunakan helm ini, rasanya bukan seperti sedang naik motor, tapi seperti mandor yang sedang nuding-nuding proyek pembangunan hotel. Ya, helm di Hanoi lebih mirip seperti helm proyek ketimbang helm standar di Indonesia.

Dilematis ketika ada yang mau menyeberang jalan. Pilihannya hanya dua, terus berjalan dengan kecepatan konstan atau berhenti karena iba, dengan syarat motormu ditabrak dari belakang. Wes to pilihannya humanisme adi luhung atau ganti rugi ongkos kerusakan bodi motor.

Apalagi di sekitar trotoar, itu adalah jejeran motor yang sedang diparkirkan. Saya nggak kebayang bagaimana rasanya jadi pedestrian. Mungkin rasanya bukan seperti sedang jalan kaki biasa, tapi rasanya seperti melewati obstacle Ninja Warrior. Ketika sampai tujuan, tinggal mbengok, “MY TRIP MY ADVENTURE!”

Entah Hanoi sekarang menjadi seperti apa. Jika ditanya apakah mau kembali ke sana atau tidak, dengan perasaan paling tulus saya akan bilang sangat ingin untuk kembali. Sama seperti rindu, dendam harus dibayar tuntas. Dendam terbaik kepada Hanoi adalah dengan cara tidak menyewa motor apalagi mengendarainya!

BACA JUGA Yamaha Vixion: Motor yang Mudah Dicintai dan Bikin Nyaman Pengendaranya dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Seni Menyerobot Antrean yang Sama Sekali Nggak Estetique, Bosque~

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
25


Komentar

Comments are closed.