Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Jangan Mudah Marah: Critic dan Shaming itu Berbeda

Tappin Saragih oleh Tappin Saragih
11 Juli 2019
A A
Kena Modus Penipuan Bank di Hari Libur Nasional. Apes Bener! terminal mojok.co

Kena Modus Penipuan Bank di Hari Libur Nasional. Apes Bener! terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Jujur, sekarang saya semakin malas memberikan komentar—kritik—di media sosial. Karena apa? Dari banyak pengalaman, saya malah mendapat balasan di luar dugaan. Kebanyakan postingan yang saya  komentari malah dibalas oleh admin atau yang punya akun dengan nada kemarahan—tidak terima.

Suatu hari saya malah pernah dihajar habis-habisan oleh followers teman saya. Saat itu saya mengomentari postingan teman. Followersnya tidak terima. Padahal teman yang sudah lama mengenal saya bersikap biasa saja, tidak menanggapi apa-apa. Kok mereka malah lebih ribut ya? Saya bingung, kok orang-orang mudah marah dan tersinggung ya? Kebanyakan netizen memang bersumbu pendek. Belum benar-benar memahami isi sebuah postingan atau komentar sudah buru-buru menanggapinya.

Dalam KBBI kritik, /kri·tik/ n kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya;. Nah dari pengalaman, saya lihat orang-orang sepertinya fokus pada “kecaman” semata. Sehingga, ketika seseorang memberikan komentar, mereka malah menanggapinya sebuah kecaman yang mempertaruhkan harga dirinya. “Wah, citraku jadi jelek nih!”

Kemudian, saya lihat kebanyakan orang lebih banyak ingin diberi tanggapan yang baik-baik saja. “Wah, tulisanmu bagus ya! Wah, fotomu bagus ya! Wah, karya-karyamu keren!” Intinya, mereka cuma mau dengar pujian. (Tuhan aja masih sering mendapat kritik dan omelan dari manusia loh, padahal Dia sudah maha sempurna, hehe)

Mungkin anda belum puas. Saya ambil lagi pengertian kritik dari bahasa Yunani. Klitikos  berarti “yang membedakan”. Kata itu turunan dari krites artinya “orang yang membedakan”, “pendapat beralasan”, “analisis”, “pertimbangan nilai”, “interpretasi”, “pengamatan”.

Di lapangan, banyak sekali orang-orang yang sulit sekali menerima masukan—kritik—dari orang lain.  Sialnya, tidak sedikit pula yang merasa kritikan itu sebagai shaming. “Wah, dia sengaja nih mempermalukan aku.” Padahal, banyak karya-karya terkenal—bahkan awet dari jaman ke jaman—karena terus menerus mendapat kritikan loh.

Suatu ketika, saya pernah mengkritik postingan seseorang. Isinya sebuah buku. Kebetulan saya sudah baca buku itu. Lalu saya berikan komentar berupa kritik. Kebetulan kritik saya lebih banyak melihat sisi kekurangan—kelemahan—daripada kelebihan—kekuatan—buku itu. Wah, saya dikatain book shaming. Benarkah saya book shaming?

Ketika saya berkomentar, “buku ini jelek”, “buku itu sampah” tanpa disertai argumen masuk akal, saya pantas mendapatkan julukan itu. Saya tidak pantas disebut sebagai pelaku book shaming kalau saya memberikan penjelasan misalnya: “Buku itu jelek! Banyak kata-kata yang salah ketik”, “menurut saya novel itu tidak bagus karena logika bahasanya berantakan.” Bukankah, media—termasuk mojok ini—menolak atau menerbitkan tulisan yang masuk berdasarkan konsep kritik itu? Mereka punya argumen atau alasan rasional untuk menolak atau menerimanya.

Baca Juga:

ASN Bisa Bersuara, Bisa “Mati” Maksudnya

ASN Boleh Mengkritik Negara, karena Digaji oleh Rakyat dan Diminta Setia pada Negara

Saya akui. Dari pengalaman membaca komentar-komentar orang, kebanyakan memang jatuh-jatuhnya ke bentuk shaming atau mempermalukan. Tapi harus kita sadari pula, tidak semua komentar itu berupa shaming. Saya pribadi justru bersyukur jika ada orang yang mau memberikan masukan atau kritikan atas karya-karya saya. Bahkan ketika mereka mengomentari penampilan—tubuh—saya dengan berbagai alasan. Jadi, saya tidak buru-buru tersinggung apalagi marah dan menghakiminya body shaming. Saya tidak sedangkal itu.

Dalam dunia berkarya, kritik sangat dibutuhkan supaya karya-karya kita ikut bertumbuh. Dengan berbagai kritik yang ada, kita bisa memperbaiki kualitas diri. Dunia pengetahuan juga bertumbuh karena adanya kritik. Ingat, kritik itu tak melulu membicarakan hal-hal yang baik—kelebihan—tapi juga kekurangan.

Kalau anda hanya melulu mengharapkan pujian dari orang lain, percayalah anda tidak akan berkembang. Anda akan menjadi pribadi yang rapuh. Bahkan orang bijak dulu sudah pernah mengingatkan. Hati-hati dengan pujian sebab pujian adalah racun.

Mulai sekarang, cobalah membuka diri terhadap kritikan dari orang lain. Kalau bisa fokuslah pada kritikan-kritikan yang bisa membangun kekurangan dan kelemahan anda. Bila perlu, saat ada orang yang melakukan shaming, anda cukup tertawa dan mengambil hikmahnya. Kalau anda cukup kreatif, jadikan itu inspirasi berkarya. Atau, abaikan saja, tak perlu memasukkannya ke hati. Jangan buru-buru tersinggung. Dikit-dikit book shaming. Dikit-dikit body shaming. Jangan buru-buru marah, apalagi sampai melaporkannya ke polisi dan menjeratnya dengan pelanggaran UU ITE.  Tidak perlu, kisanak. Pada akhirnya, semua pengalaman itu akan membuat anda semakin tangguh kok.

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: darah tinggikritikKritik Sosialmudah marahpenghinaan
Tappin Saragih

Tappin Saragih

ArtikelTerkait

susi pudjiastuti kritik twitter cari muka politik mojok.co

Komentar Susi Pudjiastuti Murni Kritik, Bukan Ajang Cari Popularitas Politik

15 Juli 2020
Mohon Dimengerti, Indie Itu Bukan Aliran Musik! terminal mojok.co

Mendengarkan Musik Mainstream Tanpa Prasangka

17 Mei 2019
rasisme

Tidak Ada Tempat Bagi Rasisme di Dunia Ini, Sekalipun Dalam Sepak Bola

5 September 2019
pelakor

Sudah Saatnya Berhenti Menggunakan Istilah Pelakor dan Pebinor

20 Juli 2019
sejarah korupsi

Saatnya Menulis Sejarah Korupsi di Daerah

27 September 2019
go international

Fenomena Go International dan Sikap Sok Tahu Kita

11 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

Pantai KIW Edge, Pantai Terbaik Semarang yang Sebenarnya Bekas Tambak di Kawasan Pabrik

27 April 2026
Kebumen Itu Cantiknya Keterlaluan, tapi Nggak Bisa Jual Diri (Unsplash)

Kebumen, Kabupaten yang Cantiknya Keterlaluan tapi Nggak Bisa Menjual Dirinya Sendiri

27 April 2026
Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan Mojok.co

Pengeluaran Tak Terduga setelah Menikah, Bikin Pusing dan Hampir Berutang Tiap Bulan

24 April 2026
kecamatan pedan klaten tempat tinggal terbaik di jawa tengah (Wikimedia Commons)

Kecamatan Pedan Klaten: Tempat Tinggal Terbaik di Kabupaten Klaten yang Asri, Nyaman, Penuh Toleransi, dan Tidak Jauh dari Kota

29 April 2026
4 Hal Menjengkelkan yang Saya Alami Saat Kuliah di UPN Veteran Jakarta Kampus Pondok Labu

Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

26 April 2026
Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Jadi Bahan untuk Dipamerkan Mojok.co

Toleransi di Salatiga Sudah Jadi Laku Hidup, Tidak Sekadar Bahan untuk Dipamerkan

28 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas
  • Basket Campus League 2026: Jadi Pembuktian Kesolidan Tim Timur dan Label Ubaya sebagai “Raja Basket Jawa Timur”
  • Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan
  • KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa
  • Belajar Membangun Bisnis dari Pedagang Mie Ayam Bintang, Sekilas Tampak Sederhana tapi Punya 5 Cabang di Jakarta
  • Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.