Indomie Mieghetti Adalah Inovasi Mi Instan Paling Hopeless yang Pernah Saya Coba – Terminal Mojok

Indomie Mieghetti Adalah Inovasi Mi Instan Paling Hopeless yang Pernah Saya Coba

ArtikelFeatured

Adi Sutakwa

Varian terbaru keluaran Indomie ini memiliki nama lengkap Indomie Hype Abis Mieghetti rasa Bolognese, dengan embel-embel tulisan mini ‘mi instan ala spaghetti’. Ya iyalah, semua orang paham kali kalau maksudnya itu mau mepet-mepet spaghetti. Sayangnya, ketimbang mewujudkan impian saya soal rasa mi instan yang bikin semua penikmat Indomie standing ovation, tim R&D Noodle Division Indofood malah jadi ngadi-ngadi.

Pulangnya Bu Nunuk ke haribaan Yang Maha Kuasa sepertinya memang belum bisa digantikan secara paripurna. Buktinya, varian mi instan terbaru yang rilis bukannya bikin air liur bercucuran membayangkan rasanya, malah bikin salah kaprah seluruh dunia. Belum ngeh juga di mana salah kaprahnya? Ealah, begini, mi instan dan spaghetti itu beda, Lur. Tahu kan bedanya?

Sik, sik, jangan-jangan selama ini nggak paham ya kenapa ada mi instan dan spaghetti. Pun kenapa spaghetti selalu lebih mahal tentunya. Oke, sebagai pengantar betapa anehnya Indomie Mieghetti, saya ulas sekilas tentang spaghetti. Biar mudah dipahami, gampangnya begini, spaghetti dan seluruh kawan-kawannya yang merupakan produk pasta ala Italia, misalnya macaroni dan fettuccini, dibuat dengan gandum yang sama sekali berbeda.

Selama ini mungkin kalian cuma tahu bahwa mi instan dibuat pakai terigu, tepung hasil penggilingan gandum. Nah, kalau kalian berpikir bahwa spaghetti juga dibuat dari gandum yang sama dengan gandum bahan pembuatan mi instan, nggak apa-apa, banyak yang salah juga kok. Saiki tak kandani, spaghetti dan beragam varian pasta lainnya dibuat dengan durum.

Baca Juga:  Menantikan Mi Instan Limited Edition dengan Varian Rasa yang Tak Terbayangkan

Durum adalah sub-spesies lain yang sama sekali berbeda dengan gandum pada umumnya, bahkan sejak kromosom DNA-nya. Nah, kalau gandum digiling jadi tepung terigu, tepungnya si durum ini namanya agak bikin eargasm, semolina. Bisa tuh kalau mau dijadikan opsi nama anak aneh-aneh selain kata aurelia yang sebenarnya juga nama latin ubur-ubur.

Selain dari sononya memang beda jenis, semolina juga memiliki kadar protein dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan terigu. Pernah penasaran kenapa tepung terigu Bogasari bermerek Lencana Merah, Kunci Biru, dan Cakra Kembar, warnanya merah, biru, dan hijau? Ya karena beda-beda kadar proteinnya, biasanya pada rentang 11-13%, sedangkan kadar protein semolina bisa mencapai dua kali lipat dari angka tersebut.

Ngaruhnya apa sih ke mi instan dan spaghetti? Ya teksturnya lah, Mblo. Sudah pernah dengar dong permusuhan tiada akhir antara tim pengabdi mi mbleyek dengan mi kaku? Itu! Kalau kandungan proteinnya berbeda, kadar glutennya juga nggak sama. Gluten inilah yang bertanggung jawab atas tekstur molor mi instan dan spaghetti yang nggak putus ketika dijadikan adonan dan bentuk mi yang panjang.

Nah, Indomie Mieghetti yang baru saja rilis ke pasaran ini mencoba mencapai titik itu. Titik di mana spaghetti nggak akan mbleyek meskipun ditinggal dalam perjalanan ke barat mencari kitab suci untuk menyelamatkan dunia, balik lagi ke Wano bantuin Luffy, bablas ke Konoha jenguk Naruto yang lagi sekarat, dan akhirnya kondangan pakai protokol kesehatan ke nikahannya Nobita dan Shizuka.

Baca Juga:  Dampak Positif Kalau PNS Beneran Kerja Dari Rumah

Saya sudah mencoba Indomie Mieghetti yang baru itu, jadi saya cukup tahu bahwa pembeda yang sangat dipaksakan untuk menghindari mi instan ini dari potensi mbleyek adalah dengan cara menebalkan ukuran mi. Ini nggak ngotak, sih. Begini, Mieghetti ini kan masuk dalam kategori mi instan goreng, jadi ya ngapain dibikin tebal ukurannya?

Jadi susah ngerebusnya, kelamaan! Konsumen sebagai user yang cerdas nggak usah direndahkan intelektualitasnya, dong. Kalau mi goreng, ya artinya kami bisa kira-kira sendiri mau semblenyek atau sekaku apa mi instan buatan kami sendiri. Lagian, dengan harga Rp2.520, nggak jauh-jauh amat sama merek spaghetti sebelah, tuh La Pasta produksi Forisa harganya Rp3.325. Nah lho, kalau sekadar pengin makan spaghetti, ya pilih tambah seceng lah.

Sebagai anak pangan, saya paham betul kegelisahan Indofood dengan produk La Fonte yang selalu kalah murah dengan merek pesaing. Akan tetapi, saya tahu kok kalau pabrik pasta La Fonte di Bogasari Tanjung Priok sana nggak kurang pesanan, wong saya pernah magang di sana. Lagi pula, mbok ya o, saling ngomong gitu lho kalau ada masalah sama tim R&D Indomie. Jangan diem-diem bae, kan serumah, jangan alay kayak artis dan selebgram lah.

Akhirnya, saran saya sebagai konsumen yang tentu saja nggak tahu cerita lengkap di balik dapur produksi Mieghetti, mending bentuknya saja yang diseragamkan sama spaghetti, jangan ukuran atau tebal mie yang dimodifikasi. Jangan hopeless-hopeless amat lah kalau mau serius nyamain spaghetti.

Baca Juga:  Indomie: 'Dalemannya' dan Bukti Kuliner Laris Orang Kota

Pasti lucu tuh kalau ada mi instan sebatang-sebatang terpisah persis spaghetti mentah, nggak kayak mi instan mentah mainstream yang keriting bentuknya. Tinggal ditaburi bumbunya langsung, nggak usah direbus, jadilah mie lidi inovasi kekinian. Kembalilah masa kejayaan Indomie sebagai jajan mie kremes kriuk mentah.

Sumber Gambar: Katalog Promosi

BACA JUGA Indomie Soto Banjar Limau Kuit, Juara Umumnya Mi Instan dan tulisan Adi Sutakwa lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
74


Komentar

Comments are closed.