Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Duka Memiliki Gran Max: Dikira Mobil Jemputan Sampai Jadi Sasaran Pungli

Agung Setoaji oleh Agung Setoaji
25 Februari 2021
A A
Daihatsu Gran Max Face to Face yang Tak Terlihat Pesonanya tapi Manfaatnya Luar Biasa
Share on FacebookShare on Twitter

Ketika Bapak saya wafat, otomatis sebagai anak sulung saya ditugasi menjaga peninggalan beliau, termasuk mobil Gran Max miliknya. Orang-orang mungkin berpikir saya mendapat durian runtuh—dapat mobil tanpa harus keluar duit—tapi yang saya rasakan cuma seperti mendapat jeruk mentah jatuhan (enak, tapi bukan yang diinginkan).

Jauh dalam lubuk hati saya membidik mobil-mobil yang levelnya sedikit di atas “warisan yang tak diinginkan ini” semisal Avanza, Ertiga, atau Jazz tahun tua. Namun, faktor range cicilan yang belum bisa disinergikan dengan pendapatan dan nantinya sang Gran Max jadi tidak bertuan, terpaksa mobil yang Bapak beli pada 2012 itu saya pelihara.

Akhirnya peribahasa “makan buah simalakama” mewarnai hari-hari saya. Di satu sisi saya amat terbantu ketika akan pergi kondangan sekeluarga ke tempat yang agak jauh, apalagi muatannya cukup banyak dengan kabin yang cukup lega. Namun di sisi lain, saya sering mengalami sakit hati. Dengan strata sosial Gran Max yang cuma dianggap setara angkot, saya mengalami berbagai berbagai kejadian yang semacam asu.

Selalu ditanya “mau pakai bon apa enggak?”

Dengan citranya sebagai mobil operasional perusahaan dan badan profit, setiap kali melakukan hal yang berhubungan dengan pengeluaran—apalagi yang nominalnya di atas Rp100.000—saya selalu ditanya, “Butuh bon/kwitansi atau tidak?” Hal ini biasanya terjadi di pom bensin atau tempat parkir bertarif jam-jaman seperti di mal atau rumah sakit.

Jujur, ditanya seperti itu rasanya hati saya seperti dikoyak-koyak. Bukan karena saya merasa mampu secara finansial, tapi sebelum bilang begitu tolong dilihat tampang dan dandanan saya dulu. Masak rambut sudah klimis, tampang sudah glowing, sepatu kinclong, dan pakai baju batik dua ratus ribuan disangka sedang dinas mengantar barang?!

Sering dikira mobil jemputan

Pengalaman ini lebih tidak mengenakkan lagi. Ketika itu saya baru saja pulang dengan mengemudikan si Silver (nama pemberian Ibu saya untuk Gran Max Bapak). Tiba-tiba saja anak tetangga depan rumah keluar rumahnya dan menghampiri saya sambil berteriak, “Maaah, aku berangkat. Jemputannya udah dateng.” Dan ketika saya membuka kaca, dia melongo ketika mendapati saya di bangku pengemudi. Mamah anak itu kemudian berkata, “Owh bukan, itu jemputannya Dimaz.” Dimaz adalah nama anak saya.

Saya tahu itu cuma gojekan antar-tetangga, eh tapi kok ya rasanya makjleb-makjleb aja. Mungkin karena tetap menyertakan kata “jemputan”. Akhirnya saya pundung lantaran merasa mirip Izrail.

Disepelekan di jalanan

Saya adalah pembayar pajak yang taat, artinya saya berhak mendapatkan perlakuan yang sama di jalan. Namun, lagi-lagi karena citra kaumnya si Silver, saya menjadi anak tiri di jalanan. Saya sering disalip dengan cara tidak menyenangkan: digunting! Jangankan kendaraan-kendaraan eksklusif, pengemudi Ayla dan Datsun Go yang notabene harganya nggak jauh berbeda pun terkadang berani menggunting saya. Dan yang lebih mirisnya lagi, pengemudi yang kasta mobilnya masih di bawah kaum si Silver, seperti GM pick up dan angkot, berani menggunting sambil mengintimidasi saya. Mungkin karena mereka menyangka saya sama-sama “mengemudi untuk orang lain”, jadi kemampuan finansial dan kedudukan di mata hukum saya sama dengan mereka. Sungguh itu sangat menyakitkan, meskipun kenyataannya mungkin iya.

Baca Juga:

Daihatsu Gran Max, Si “Alphard Jawa” yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan

Gran Max Pickup: Pajero-nya Ampelgading, Panas Njobo Jero, tapi Tetap Juara

Jadi sasaran pungli

CV-CV Teknik biasanya menggunakan Gran Max sebagai kendaraan operasional untuk mengangkut barang-barang kecil. Biasanya mereka memasang lambang dan nama CV pada bodi mobilnya. Namun, entah karena buta huruf atau apa, para pelaku pungli menyamaratakan Gran Max berlambang dengan yang yang tidak.

Pernah suatu pagi yang lumayan sepi (karena hari Minggu, hari Minggu jarang yang masuk kerja) saya berangkat kerja dengan si Silver, saya dibuntuti oleh sebuah motor berpenumpang dua orang. Ketika masih berjarak seratus meter dari gerbang tempat kerja, saya dicegat dan dimintai uang rokok. Mereka mengira saya karyawan CV yang sedang mengirim barang. Untungnya saya memakai seragam kerja, membawa ID card,  kedua orang itu tahu tempat kerja saya. Sambil menggerendeng, mereka pun pergi.

Saya memang selamat, tapi sesudahnya saya terkadang ragu untuk mengajak si Silver ke tempat kerja.

Atas kejadian-kejadian itu, saya terkadang berpikir untuk nekat menjual si Silver dan menggantinya dengan mobil yang saya inginkan. Masalah setorannya, saya back up gaji dengan honor dari menulis artikel. Sebuah gagasan yang cukup masuk akal dan pas di kantong jika artikel saya tembus media berhonor lima ratus ribu ke atas. Namun, berhubung tembusnya di Terminal Mojok, rasa-rasanya saya harus berdamai dengan keadaan sedikit lebih lama lagi.

Hehehe, bercanda loh.

Sumber gambar: Wikimedia Commons

BACA JUGA Toyota Corolla DX, Mobil Tua Idaman Generasi Muda dan tulisan Agung Setoaji lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2021 oleh

Tags: Gran-Max
Agung Setoaji

Agung Setoaji

Ayah beranak dua. Hobi makan dan tidur.

ArtikelTerkait

Gran Max Pickup: Pajero-nya Ampelgading Malang, Panas Njobo Jero, tapi Tetap Juara

Gran Max Pickup: Pajero-nya Ampelgading, Panas Njobo Jero, tapi Tetap Juara

29 Mei 2025
Daihatsu Gran Max Face to Face yang Tak Terlihat Pesonanya tapi Manfaatnya Luar Biasa

Daihatsu Gran Max Face to Face yang Tak Terlihat Pesonanya tapi Manfaatnya Luar Biasa

13 Mei 2020
Daihatsu Gran Max, Si "Alphard Jawa" yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan Mojok.co

Daihatsu Gran Max, Si “Alphard Jawa” yang Nggak Ganteng, tapi Paling Bisa Diandalkan

25 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Resign demi Jadi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

Resign demi Wirausaha Itu Memang Ceroboh, tapi Saya Nggak Menyesal sekalipun Bangkrut

18 April 2026
Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Unik karena Desainnya yang Aneh Mojok.co

Suzuki Jimny Jangkrik hingga Toyota Yaris Bakpao, 6 Julukan Mobil Paling Aneh Terinspirasi dari Bodi yang Unik

20 April 2026
Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela Mojok.co

Rasanya Jadi Orang Bangkalan Madura Belakangan Ini: Pilihan Toko Makin Banyak, tapi Tukang Parkir Ikut Merajalela

23 April 2026
Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang Mojok.co

Kabel Bangkalan Madura yang Semrawut Bikin Nggak Nyaman Dipandang

22 April 2026
Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026
5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar
  • Ironi WNI Jadi Guru di Luar Negeri: Dapat Gaji 2 Digit demi Mengajari Anak PMI, Pulang ke Indonesia Tak Dihargai dan Sulit Sejahtera
  • Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik
  • Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI
  • Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki
  • “Solo Date” Menjelang Usia 25: Meski Tampak Menyedihkan, Nyatanya Lebih Bermanfaat daripada Nongkrong Bersama

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.