Humblebrag Itu Nyombong yang Rendah Hati dan Cara Jitu Mendepak Teman

Kadang humblebrag atau menyombongkan diri tapi terselubung ini bisa saja nggak kita sadari waktu berbicara dengan teman atau orang lain.

Featured

Ayu Octavi Anjani

Mendengar orang lain yang bercerita dengan maksud menyombongkan sesuatu saja sudah membuat kita merasa jengah. Apalagi ini orang-orang yang (sok) menyemangati dan (sok) care tapi dengan maksud sombong yang terselubung. Oh ini nih, bersyukur tapi sambil pamer. Yhaaa … sama aja, Bambank! Harusnya kita termotivasi bukan. Tapi, kok malah nggak betah dengerin atau liatnya ya. Hadeuuhh. Maunya apa sih? Jujur saja ya, humblebrag itu sikap yang banyak nggak disukai lho.

Kalau saya sering denger dan pakai kalimat ini “merendah untuk meroket”. Kalimat itu bisa menggambarkan si humblebragger sepertinya. Kalau kita terbiasa dengan artis-artis yang suka melakukan ini. Tapi, kayaknya kalau artis lebih explicit nggak sih pamernya. wqwq. Nggak apa-apalah dimaklumi namanya juga artis. Tapi nggak usahlah post foto jari berdarah akibat nggak sengaja tergores pisau di Instagram dengan cincin berlian yang terpampang nyata di jari manis ditambah caption, “duh, kecerobohan hari ini.”

Kadang humblebrag atau menyombongkan diri tapi terselubung ini bisa saja nggak kita sadari waktu berbicara dengan teman atau orang lain. Misalkan waktu saking excited-nya dapat ranking satu di kelas terus bilang, “wah gilak, aku nggak nyangkan dapet rangking satu,” atau “masa aku dikira anak SMA padahal kan aku udah 23 tahun. Emang wajahku nggak keliatan tua ya?” Begitu kira-kira. Bisa saja mereka atau bahkan saya tidak sadar pernah berkata seperti itu karena terlalu semangat untuk cerita. hehe. Ya, tolong dimaafkan.

Eh, tapi kalau memang sengaja mau pamer tapi pake embel-embel humble dulu ya itu beda urusan yhaaa netizen.

“Duh pusing nih milih dress buat ke pesta.” (sosialita)

“Aduh, anakku susah banget deh bersosialisai soalnya kalau di rumah kerjaannya belajar sama shalat tahajud terus”. (ibu-ibu rumah tangga)

Baca Juga:  Sistem Pendidikan Indonesia dan Skor PISA yang Buruk

“Maaf ya netizen aku nggak bisa ngupas kulit salak. Soalnya apa-apa diurusin asisten rumah tangga di rumah”. (Nia Ramadhani yang nggak bisa ngupas salak)

Begitu kira-kira yang sering kita jumpai dan nggak jarang juga bikin kita yang denger atau baca eneg, nyengar-nyegir, dan geleng-geleng kepala soalnya bingung mau jawab apa atau tanggapin gimana. Seketika jiwa insecure-ku meronta-ronta.

Saya dan kalian pasti sering sih menemukan berbagai kasus yang berkaitan dengan fenomena humblebrag seperti ini. Kadang zuzur aja kalau lihat-lihat postingan atau bahkan ketemu sama humblebraggernya langsung suka tiba-tiba insecure gitu deh. Duh, seperti cara jitu mendepak teman nggak sih ini. Teman jadi males ngobrol dan berhubungan dengan si humblebragger. Konsisten aja lah kalau mau rendah hati ya rendah hati aja. Kalau mau sombong ya sombong sekalian. Nggak usah rendah hati tapi sombong. Tuh gimana tuh.

Lalu, boleh nggak sih ngehumblebrag? Ya, boleh boleh aja. Sok mangga kalau mau dilempar sandal jepit. haha. Balik lagi deh sama konsekuensi yang bakal didapat dari humblebrag. Siap nggak kehilangan teman-teman? Siap nggak dihujat netizen maha benar? Ya lagian buat apa sih ngehumblebrag? Manfaatnya apa? Kayaknya nggak ada deh karena menurut saya itu perbuatan ria. Eh, tapi barangkali ada yang tau manfaatnya, kasih tau saya. hihi

Oh! Saya tau tujuan yang bisa jadi juga manfaat bagi mereka-mereka yang suka humblebrag. Dapat pencerahan sedikit. Mungkin mereka yang doyan humblebrag di media sosial ingin dianggap hebat dan penting. Mungkin ya. Soalnya ya buat apa juga kalau nggak ada tujuan seperti itu tapi hobinya nge-humblebrag. Pasti tujuan utamanya supaya bisa dilihat dan dapat pengakuan dari orang-orang kan.

Baca Juga:  Gista Putri: Brain, Beauty, Behaviour at The Finest

Para humblebragger di media sosial nampaknya perlu tahu deh dampak-dampak negatif yang akan diterima selain bakal kehilangan teman.

1. Jadi Gila Pengakuan

Sepertinya saya setuju dengan poin pertama ini. Saya kan sudah bilang kalau bisa saja mereka yang humblebrag di medsos itu butuh diakui keberadaannya, pencapainnya, kesuskesannya, dan sebagainya. hmm

2. Ini Nih! Mengundang Kejahatan

Kalau para humblebragger hobinya posting apapun di media sosial yang mengandung unsur-unsur rendah hati tapi ria. Hati-hatilah wahai sobatqu, apa yang kalian lakukan itu bisa jadi mengundang kejahatan. Penipu, perampok, dan penjahat-penjahat lainnya yang mengintai.

3. Kurangnya Rasa Empati

Nih nih nih. Saya sebelumnya bilang kalau konsekuensi dari hobi humblebrag adalah siap-siap saja dijauhi teman atau tidak disukai teman atau yang lebih parahnya lagi dihujat teman sendiri 😥. Lalu, kurang empatinya di mana? Coba nih ya, kalau kalian posting foto mobil baru terus pakai caption “nabung yuk, harga bensin sekarang makin mahal.” Mungkin teman-teman akan mikir “sok-sokan merendah, masa beli bensin aja nggak bisa.”

Jadi guys, sah-sah aja sih kalau kalian mau humblebrag. Tapi, ingat konsekuensi dan dampak negatif yang akan didapatkan nantinya ya. Jangan nantinya malah nyalahin orang lain karena perbuatan sendiri. (*)

BACA JUGA Menghindari Humblebrag Si Kemaki Terselubung atau tulisan Ayu Octavi Anjani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

---
15

Komentar

Comments are closed.