Kalau ada yang nanya ke saya, generasi Honda BeAT mana yang paling nggak worth it sepanjang sejarah, saya nggak akan muter-muter untuk menjawab. Kata saya, BeAT terbaru itu yang paling mengecewakan.
Katanya, Honda BeAt adalah generasi yang secara desain terlihat paling modern. Tapi, bagi saya, justru paling jauh dari DNA Honda yang selama ini bikin orang percaya dan loyal.
Iya, Honda boleh saja bangga dengan BeAT terbaru yang mereka klaim punya efisiensinya mantap, bobot ringan, handling lincah, dan teknologi yang katanya makin canggih. Tapi di balik semua itu, ada satu nilai lama yang diam-diam dikorbankan Honda: durabilitas. Dan buat motor sejuta umat kayak Honda BeAT, itu dosa besar.
Kenapa orang bisa mencintai Honda BeAT
Sebelum ngomongin generasi terbaru yang bikin geleng-geleng kepala. Saya ingat bahwa Honda BeAT bukan motor sembarangan. Dari generasi awal, ia punya reputasi sebagai motor harian yang bandel, siap disiksa, dan cocok dipakai siapa saja. Dari mahasiswa sampai tukang galon, dari pegawai kantoran sampai kurir paket.
Honda BeAT generasi awal, terutama yang masih pakai rangka konvensional dan mesin karburator maupun injeksi awal, itu motor yang “nggak rewel”. Kamu mau memakainya untuk panas-panasan, hujan-hujanan, bahkan jarang servis pun masih mau hidup. Rangka kuat, walau berat. Memang sih, dari sisi mesin bukan yang paling kencang, tapi awetnya minta ampun. Sumpah.
Di sinilah Honda membangun citra. Honda adalah motor awet, tahan lama, dan punya nilai jual kembali yang tinggi. Saya kira, banyak orang membeli Honda bukan karena desainnya paling cakep atau fitur paling canggih. Tapi ya karena yakin Honda BeAT adalah motor bakal nemenin sampai akhir zaman.
Generasi Honda BeAT yang masih worth it
Kalau disuruh milih BeAT yang masih layak dibeli sampai hari ini, banyak orang akan menunjuk BeAT generasi lama sebelum eSAF. Entah itu BeAT FI awal, BeAT Pop, atau BeAT ESP generasi awal.
Motor-motor ini mungkin kalah modern. Lampunya belum LED semua, panel instrumennya masih sederhana, tak ada USB charger pula. Tapi soal struktur dan rasa aman, saya cukup yakin jauh lebih menenangkan.
Rangka besi konvensional mungkin bikin bobot motor lebih berat. Tapi, ada rasa solid di sana. Mau memakainya selama bertahun-tahun, mau itu kena jalan jelek, beban berat, atau pemakaian brutal, rangkanya jarang jadi sumber masalah. Kalau ada kerusakan pun, biasanya masih bisa ditangani bengkel biasa tanpa drama berlebihan.
Inilah generasi Honda BeAT yang pantas disebut worth it. Sebab Honda masih konsisten dengan janjinya: menjual motor yang tahan lama.
Datangnya rangka eSAF dan durabilitas yang menjadi korban
Masuklah Honda dengan rangka eSAF. Enhanced Smart Architecture Frame, katanya. Lebih ringan, lincah, dan efisien. Di atas kertas, semua terdengar indah. Bobot turun, konsumsi BBM makin irit, handling lebih enak buat stop-and-go di kota besar.
Secara teori Honda agak benar. Honda BeAT terbaru memang terasa enteng. Cocok untuk manuver di gang sempit. Buat pemula, motor ini terasa ramah. Desainnya juga paling segar dibanding generasi sebelumnya. Garis tajam, lampu LED, speedometer digital, semuanya terlihat modern.
Masalahnya, motor bukan cuma soal rasa hari ini. Motor itu investasi yang akan dipakai bertahun-tahun.
Di sinilah masalah utama Honda BeAT terbaru muncul. Rangka eSAF, yang jadi tulang punggung motor, justru jadi sumber kekhawatiran. Rangka gampang keropos, karat dari dalam, sampai retak bukan cuma cerita satu dua orang. Ini sudah jadi obrolan luas di bengkel, forum, sampai tongkrongan.
Buat motor harian yang sering kena hujan, panas, dan kondisi jalan Indonesia yang nggak ramah, rangka adalah komponen sakral. Sekali rangka bermasalah, selesai sudah.
Honda terlalu percaya diri
Yang bikin makin menyebalkan, Honda terlihat terlalu percaya diri. Alih-alih mengakui dan mengevaluasi total, mereka tetap keras kepala mempertahankan eSAF dengan alasan efisiensi dan teknologi. Seolah-olah suara konsumen cuma noise yang nggak penting.
Padahal, kekuatan Honda selama ini bukan di gimmick teknologi dan desain semata, tapi di reputasi. Sekali reputasi awet itu runtuh, susah balikin kepercayaan.
Tapi kalau kamu cari Honda BeAT karena murah, irit, dan enteng, mungkin masih bisa menerimanya. Tapi kalau kamu cari BeAT karena ingin motor yang awet, tahan lama, dan bisa dipakai bertahun-tahun tanpa rasa khawatir, generasi ini bukan jawabannya.
Dan dalam sejarah panjang BeAT, ia layak dicatat sebagai generasi paling mengecewakan. Sebuah generasi yang seharusnya tidak pernah dilahirkan, tapi tetap saja
Honda dengan bangga melepasnya ke jalanan. Payah.
Penulis: Budi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Honda Beat, Motor Matik yang Menjadi Favorit Maling karena Mudah “Dipetik”
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















