Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Saya Lebih Suka Halte Bundaran HI yang Dulu: Minimalis tapi Tetap Estetis

Muhammad Arifuddin Tanjung oleh Muhammad Arifuddin Tanjung
6 September 2023
A A
Saya Lebih Suka Halte Bundaran HI yang Dulu: Minimalis tapi Tetap Estetis

Saya Lebih Suka Halte Bundaran HI yang Dulu: Minimalis tapi Tetap Estetis (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kalau boleh memilih, saya lebih suka desain Halte Bundaran HI yang dulu daripada yang sudah direvitalisasi.

Pembaca Terminal Mojok yang tinggal di Jakarta maupun luar Jakarta tentu sudah tahu transportasi umum berbasis BRT yang masih beroperasi di ibu kota saat ini. Ya, jawabannya adalah bus Transjakarta atau yang biasa disingkat TJ. Transportasi umum yang sudah beroperasi sejak tahun 2004 ini adalah sistem transportasi BRT pertama di Asia Tenggara dan memegang rekor sebagai transportasi umum dengan jalur lintasan terpanjang di dunia, yaitu sejauh 251,2 km.

Untuk mempermudah mobilitas penduduk Jakarta yang jumlahnya jutaan itu, Transjakarta membagi trayek atau koridor busnya menjadi 14 koridor (belum dengan sub-koridor) dengan jumlah halte sebanyak 260 260 halte. Angka yang mengesankan, bukan?

Dari total 260 halte itu, ada Halte Bundaran HI yang berlokasi di Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Seperti namanya, halte ini terletak di sisi utara Bundaran HI (Hotel Indonesia), tempat berdirinya objek sejarah Jakarta era Orde Lama, yaitu Patung Selamat Datang.

Sejak direvitalisasi, Halte Bundaran HI jadi salah satu tempat hits di Jakarta

Sekarang, Halte Bundaran HI telah direvitalisasi dengan bentuk dan desain yang berbeda dari sebelumnya. Halte yang berbentuk memanjang dengan desain seperti kapal ini memiliki dua lantai.

Lantai pertama merupakan tempat para penumpang menunggu bus Transjakarta. Lantai kedua adalah area komersial, musala kecil, dan toilet. Namun, yang terpenting dari lantai dua ini adalah anjungan atau sky deck yang bisa dimanfaatkan untuk melihat pemandangan gedung-gedung yang berada di sekitaran Bundaran HI. Selain itu, kita juga bisa melihat Patung Selamat Datang dari jarak yang lebih dekat.

Setelah revitalisasi selesai dan Halte Bundaran HI diresmikan pada pertengahan Oktober 2022 lalu, banyak warga Jakarta dan luar daerah datang berbondong-bondong ke anjungan lantai dua halte untuk berswafoto. Tingginya antusiasme masyarakat kala itu membuat petugas halte memberikan batasan waktu selama 5 menit untuk berswafoto agar situasinya tetap kondusif. Beruntungnya, sekarang tempat ini sudah sepi, jadi lebih enak buat menyendiri sambil bengong mikirin masa depan di sini.

Namun kalau boleh jujur, saya lebih menyukai Halte Bundaran HI sebelum revitalisasi. Mungkin terdengar aneh dan beberapa dari kalian bisa saja menentang pendapat saya. Tetapi sebelumnya, biarkan saya menjelaskan kenapa saya lebih menyukai Halte Bundaran HI yang dulu ketimbang sekarang.

Baca Juga:

Warga Pasar Minggu Jaksel Adabnya Nol Besar di Jalanan, Pantas Menyandang Gelar Paling Nggak Taat Aturan Lalu Lintas

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

Halte yang dulu lebih memanjakan mata

Desain Halte Bundaran HI yang dulu lebih minimalis dan estetis, sementara yang sekarang lebih besar, mewah, dan futuristik. Dulu, haltenya cuma satu lantai, nggak ada area komersial ataupun anjungan. Jika kita menghadap ke arah Patung Selamat Datang, terdapat hamparan dedaunan hijau yang memanjang dari pintu keluar-masuk halte hingga Bundaran HI, yang dipisahkan oleh jalan.

Di sanalah poin plus halte ini. Hamparan tanaman hijau yang berbunga itu memanjakan mata siapa pun yang melihatnya. Lebih ramah dilihat. Kini, hamparan hijau nan apik itu sudah nggak ada lagi, sudah berganti menjadi bagian dari lantai satu halte. Revitalisasi membuat halte jadi lebih panjang, yang menurut saya bertujuan menambah kapasitas penumpang yang menunggu bus agar nggak berdesak-desakan.

Revitalisasi halte adalah respons atas meningkatnya jumlah pengguna transportasi umum. Dan saya memang setuju mengenai itu. Tapi sayangnya harus mengorbankan hamparan hijau tadi. Memang perubahan memerlukan pengorbanan. Dan hamparan dedaunan hijau adalah korbannya.

Bentuk halte baru terkesan menghalangi Patung Selamat Datang

Dengan adanya anjungan lantai dua halte, Patung Selamat Datang jadi terhalang jika kita melihatnya dari bawah, tepatnya dari trotoar kedua sisi Jalan MH Thamrin di sebelah utara halte (arah Sarinah atau Monas). Masalah lantai dua yang menghalangi ini sempat menjadi polemik.

Beberapa pihak menentang desain Halte Bundaran HI dan meminta perubahan desain. Sejarawan JJ Rizal adalah salah satunya. Beliau beranggapan bahwa desain halte nantinya akan mengganggu kawasan Patung Selamat Datang yang merupakan objek sejarah dan kawasan cagar budaya. Senada dengan JJ Rizal, Ketua Tim Sidang Pemugaran DKI Jakarta, Boy Bhirawa, berpendapat bahwa revitalisasi halte dengan desain yang menghalangi visibilitas Patung Selamat Datang berpotensi melanggar Pasal 55 UU No.11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Di tengah panen kritikan, nyatanya proses revitalisasi terus berjalan. Hingga akhirnya revitalisasi dinyatakan selesai dan mendapat respons positif dari masyarakat.

Memang desain dari halte setelah revitalisasi kelihatan seperti menghalangi Patung Selamat Datang. Dalam pandangan saya sebagai pegiat fotografi, untuk mendapat hasil foto yang bagus di Bundaran HI, maka spot untuk memotret Patung Selamat Datang dan cityscape di sekitarnya hanya berada di anjungan sky deck lantai dua halte. Paling spot memotret lainnya berada di trotoar sebelah kiri halte.

Namun untuk fotografer profesional, saya yakin mereka lebih tahu banyak mengenai spot memotret di tempat itu ketimbang amatiran kayak saya. Jadi, untuk alasan kedua ini lebih subjektif ya, Gaes.

Sebenarnya perbedaan pendapat mengenai desain Halte Bundaran HI hal yang wajar. Perubahan pasti terjadi, namun kali ini saya cenderung konservatif. Nggak perlu berdebat, semua balik lagi ke selera masing-masing. Kalau kalian lebih suka desain halte yang lama atau yang sudah direvitalisasi?

Penulis: Muhammad Arifuddin Tanjung
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA 4 Halte Transjakarta yang Bikin Stres Penumpang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2023 oleh

Tags: Bundaran HIhalteHalte Bundaran HIJakartatransjakarta
Muhammad Arifuddin Tanjung

Muhammad Arifuddin Tanjung

Seorang sosialis yang percaya bahwa kemanusiaan hanya bisa tegak jika kita berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Pemula yang haus akan ilmu.

ArtikelTerkait

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja Mojok.co

4 Kebohongan SCBD Jakarta yang Telanjur Kita Terima Begitu Saja

8 Februari 2026
Pasar Malam Kramat Jati, Pasar Unik dengan Konsep Drive Thru

Pasar Malam Kramat Jati, Pasar Unik dengan Konsep Drive Thru

21 September 2023
Sarapan Mie Ayam Adalah Kebiasaan Orang Jakarta yang Paling Aneh Mojok.co

Sarapan Mie Ayam Adalah Kebiasaan Orang Jakarta yang Paling Aneh

15 Juni 2024
Kuliah di Jakarta Adalah Keputusan Terbaik dalam Hidup Saya

Jakarta Tak Segelap yang Ada di Pikiran Kalian, dan Jakarta Adalah Tempat Terbaik untuk Kuliah

10 November 2023
Merantau ke Jogja Menyadarkan Saya tentang Privilese Hidup di Jakarta

Merantau ke Jogja Menyadarkan Saya tentang Privilese Hidup di Jakarta

22 Juli 2022
Pengalaman Sehari-hari Lewat Tol Jakarta-Tangerang yang Bikin Tua di Jalan Mojok.co

Pengalaman Sehari-hari Lewat Tol Jakarta-Tangerang yang Bikin Tua di Jalan

18 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas Mojok.co

Angkringan di Kendal Tak Lagi Merakyat: Harga Tambah Mahal dan Porsi Semakin Menyedihkan, Makan Jadi Cemas

7 April 2026
TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk Mojok.co

TPU Jakarta Timur yang Lebih Mirip Tempat Piknik daripada Makam Bikin Resah, Ziarah Jadi Nggak Khusyuk 

6 April 2026
Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot Mojok.co

Aturan Tidak Tertulis Punya Motor di Sidoarjo, Hindari Warna Putih kalau Tidak Mau Repot 

6 April 2026
Ciri Khas 3 Sate Ayam Ponorogo Dilihat dari Daerah Produksinya sate ayam madura

Sate Ponorogo, Sate Terbaik yang Pernah Ada. Sate Madura dan Sate Padang Minggir Dulu Sana ke Pojokan

9 April 2026
Dilema Warga Brebes Perbatasan: Ngaku Sunda Muka Tak Mendukung, Ngaku Jawa Susah karena Nggak Bisa Bahasa Jawa

Brebes Punya Tol, tapi Tetap Jadi Kabupaten Termiskin di Jawa Tengah

10 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.