Hal yang Menyebalkan dan Sering Bikin Bingung di Resep Masakan

Artikel

Siti Halwah

Akhir-akhir ini, keinginan saya untuk mulai belajar masak  dan mencari resep masakan semakin tinggi. Tentu saja penyebabnya karena masa pageblug ini yang menyebabkan sebagian besar kegiatan dilakukan di rumah saja. Saya juga merasakan hasrat untuk membuat makanan-makanan aneh yang biasanya cuma saya lihat di internet. Sebut saja Graetteok, cilok pedas, seblak kuah, mie dok-dok, hingga nasi goreng setan.

Untuk menghemat pengeluaran, saya memilih membuat sendiri cemilan dan masakan tersebut berbekal resep masakan yang bertebaran di internet. Selain mencari yang mudah, saya juga mencoba menyesuaikan dengan bahan-bahan yang tersedia di rumah. Ya maksimal bahan-bahan tersebut ada di warung kelontong dekat rumah dan nggak perlu ribet ke swalayan.

Namun banyaknya resep yang temukan bukannya semakin memudahkan proses memasak saya, justru malah membingungkan. Pasalnya, banyak kata petunjuk di dalam resep yang justru mengandung makna rancu dan membingungkan. Akibatnya, orang-orang yang mengikuti resep tersebut seringkali mengalami kegagalan karena salah menafsirkan kata petunjuk di dalam resep.

Selain itu, terdapat hal-hal lain yang nggak kalah menyebalkan dan biasa saya temui di resep masakan. Berikut saya jabarkan apa saja hal-hal tersebut.

Pertama, hanya memberitahukan bahan tanpa menyebutkan takarannya

Ada beberapa resep yang saya temui justru hanya memberitahukan bahan-bahannya saja tanpa perlu menyebutkan takarannya. Seperti resep membuat cilok yang baru-baru ini saya buat. Saat saya baca resep cilok pedas tersebut, isinya hanya tepung terigu, tepung tapioka, garam, cabe rawit, bawang putih dan penyedap rasa.

Sudah, hanya itu saja. Saya yang sebagai orang pemula dalam dunia masak-memasak ini merasa kesal sendiri melihat isi resep. Padahal, takaran dalam resep itu penting banget. Selain memudahkan proses memasak, juga untuk memperkirakan jumlah atau porsi masakan yang akan dibuat. Bahkan, air pun kalau perlu juga harus ditakar.

Kalau sedari awal nggak disebutkan takarannya, berarti yang bikin resep masakan emang lagi pengin menguji para pembaca resepnya sih. Disuruh mengira-ngira sendiri, sekalian nyoba buat masakannya. Perkara nanti hasilnya gagal, tentu saja si pembuat resep nggak akan peduli.

Kedua, petunjuk “secukupnya” yang bikin bingung

Beberapa resep yang saya temui seringkali memakai kalimat “secukupnya” sebagai takaran. Biasanya digunakan untuk mengukur bumbu dan pelengkap masakan, bahkan terkadang juga bahan utamanya. Seperti:

Baca Juga:  Persatuan Indonesia Berazaskan Chef Renatta

“Bawang goreng secukupnya.”

“Tepung terigu dan tepung tapioka secukupnya.”

“Sosis secukupnya.”

“Sawi secukupnya.”

Membacanya saja sudah membingungkan. Petunjuk “secukupnya” ini seringkali membuat saya mikir keras. Secukupnya ini menurut siapa? Standar cukup menurut saya dan Nia Ramadani tentu berbeda. Kalau memang menurut saya, loh, kan saya belum pernah buat masakan ini, makanya saya nyari resepnya. Masa saya juga harus mencari-cari standar cukup versi saya di masakan yang belum pernah saya buat.

Hadeeeh, nyari resep masakan bukannya memudahkan, malah tambah bikin bingung.

Ketiga, petunjuk “jika diperlukan” yang bikin frustasi

“Tambahkan lada jika diperlukan.”

“Masukkan daun bawang jika diperlukan.”

“Gunakan minyak jika diperlukan.”

Membaca kalimat-kalimat petunjuk tersebut di resep masakan membuat saya frustasi. Lah, mana saya tahu kalau kemiri dan lada ini diperlukan di masakan ini. Kan, saya belum pernah buat. Jadi, intinya si daun bawang sama lada ini perlu masuk dan bergabung di masakan atau nggak, sih? Tolong beri saya kepastian.

Keempat, petunjuk “dikira-kira saja” yang bikin keki

“Tambahkan air, dikira-kira saja agar tidak encer”

“Masukkan asam jawa, dikira-kira saja agar tidak terlalu asam”

Sebelum bikin masakan, saya sudah merasa keki duluan dengan kalimat-kalimat ini. Gimana saya bisa mengira-ngira, memakan masakannya belum pernah. Apa lagi, terkadang saya juga harus mengira-ngira takaran di bahan utama, seperti tepung, santan, dan lain-lain.

Saya juga pernah memasak dengan resep mengira-ngira ini. Saat itu saya membuat seblak kuah. Pada petunjuk mengira-ngira takaran garam dan penyedap rasa, saya kebablasan. Pasalnya, saya pikir seblak tentu membutuhkan garam dalam jumlah banyak, apa lagi saat itu saya menggunakan bahan utama kerupuk dan mie instan. Ternyata, rasanya keasinan. Malu sama anggota keluarga lain yang ikut nyoba seblak kuah buatan saya.

Semua ini tentu salahnya si pembuat resep. Kenapa sih, nggak ditulis dalam jumlah takaran pasti saja. Misalnya, satu sendok teh garam, setengah sendok teh lada, satu sendok makan cuka, dan seterusnya. Bukan malah pakai ilmu mengira-ngira, kan nggak semua paham maksudnya.

Kelima, petunjuk “sesuai selera” yang bikin gagal paham

“Cabe rawit sesuai selera”

Baca Juga:  Teruntuk Kaum Rebahan, Mari Kita Hilangkan Mental 'Ah Gampang, Bisa Diatur'

“Cabe keriting sesuai selera”

“Gula sesuai selera”

Haduh, membaca kalimat-kalimat tersebut di resep seringkali bikin saya gagal paham. Selera siapa? Saya? Saya kan belum pernah buat. Mungkin memang terlihat nggak mengkhawatirkan, apalagi biasanya kalimat “sesuai selera” diletakkan pada pelengkap masakan. Padahal, itulah inti kesalahannya!

Saya pernah memasak seblak dengan mengikuti resep “sesuai selera” dengan memasukkan cabe rawit dan cabe keriting sama banyaknya dengan asumsi saya: saya suka pedas, makanya pake cabe yang banyak. Saya juga menambahkan penyedap rasa lebih banyak, alasannya karena saya suka masakan yang gurih.

Akhirnya, hasil masakan saya bukannya enak, justru malah nggak seimbang. Berbagai rasa tabrakan satu sama lain di dalam semangkuk seblak. Bukannya bikin saya senang, yang terjadi saya justru diare gara-gara mengikuti ilmu “sesuai selera” ini.

Keenam, petunjuk “boleh ada, boleh tidak” yang bikin ilfil

Kalimat petunjuk “boleh ada, boleh tidak” ini sebenarnya hampir sama dengan poin ketiga. Bedanya, di sini agak sedikit lebih jelas. Tapi, eksekusinya tetap saja bikin ilfil para pembaca resepnya.

“Tambahkan daun kemangi (boleh ada, boleh tidak)”

Sebel banget kalau sudah baca kalimat petunjuk macam ini. jadi, apa perbedaan ada dan tidak adanya kemangi di masakan ini? Ini yang seringkali luput untuk diberitahukan oleh para pembuat resep. Kasih tahu dong, perbedaannya. Kali aja salah satu pembaca resep tersebut adalah orang-orang pemula yang mencoba secara patuh mengikuti anjuran resep. Jangan malah membuatnya gagal dan patah semangat hanya gara-gara daun kemangi!

Saran saya, teruntuk kalian para pembuat dan penulis resep, mulailah menggunakan kalimat petunjuk yang mudah dipahami para pemula. Kan kasian kalau yang baca resep masakannya justru frustasi bahkan sebelum memasak.

BACA JUGA Nggak Ada yang Peduli Tahun Berapa dan Asalmu saat Nonton Video di YouTube dan tulisan Siti Halwah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.