Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta

M. Afiqul Adib oleh M. Afiqul Adib
30 April 2026
A A
Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta (Unsplash)

Hal-Hal Aneh Bagi Orang Lamongan Ketika Mengunjungi Jakarta (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagai warga Kabupaten Lamongan, sudah agak lama saya pengin ke Jakarta sendiri. Sekadar ke Perpusnas dan muter-muter naik Transportasi umum sudah cukup, pikir saya. 

Nah, tahun ini, keinginan saya kesampaian juga. Saya lolos pelatihan di Jakarta, yang acaranya di Perpusnas. Hidup ini memang penuh misteri. Tentu saja kesempatan itu tidak saya sia-siakan. 

Saya benar-benar coba mengelilingi Jakarta dengan naik transportasi umum. Dan benar saja, saya cukup gembira ketika melintasi gedung-gedung tinggi itu.

Meski demikian, setelah beberapa hari menghirup polusi di kota metropolitan, ada beberapa hal yang membuat anak Kabupaten Lamongan seperti saya ini merasa janggal.

BACA JUGA: Kuliah di Jakarta: Sebuah Anomali di Tengah Pemujaan Berlebihan terhadap Jogja dan Malang

#1 Transportasi umum Jakarta yang terlalu introvert bagi anak Lamongan

Pertama kali naik MRT dan LRT, saya merasa tidak sedang berada di dalam ruang publik. Sebab, semuanya terasa hening. 

Semua orang sibuk dengan ponsel, memakai earphone, atau sekadar menatap kosong ke jendela. Saya jarang menemui orang mengobrol, apalagi mendengar suara orang tertawa terbahak-bahak. Ini benar-benar surga bagi kaum introvert, pikir saya.

Beda jauh kalau naik Trans Jatim di Lamongan. Di sana, suasana transportasi umum itu sangat komunal. Selalu saja ada penumpang yang menonton video TikTok dengan volume tinggi, ibu-ibu yang seru banget ngobrol dengan teman di sampingnya, atau bapak-bapak yang menelepon dengan suara keras, seolah-olah sedang sendirian. Di Jakarta, saya tidak menemukan itu, atau barangkali belum.

Baca Juga:

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Panduan Memilih Lele di Tenda Lamongan yang Sudah Pasti Enak dan Nggak Bau

#2 Jakarta pagi hari sudah macet, sedangkan warga Lamongan masih ngopi

Saya sangat familiar dengan istilah ngopag atau ngopi pagi. Semacam kegiatan memulai aktivitas dengan “mosok iyo ora ngopi”.

Namun ketika di Jakarta, ekosistemnya berbeda. Masih pukul enam pagi, mereka sudah tancap gas. Alhasil, macet di mana-mana, wajah-wajah tegang mengejar presensi kantor sudah jadi pemandangan biasa. Dan saya cuma bisa membatin, “Hidup ini mau cari apa, sih? Mbok, ya, ngopi-ngopi dulu.”

Kalau membandingkannya dengan ritme hidup di Lamongan, rasanya sangat kontras. Di tempat saya, pukul enam atau tujuh pagi, warung kopi masih penuh. Urusan duniawi bisa menunggu setelah gelas kopi pertama benar-benar hanya tertinggal ampasnya saja.

#3 Terlalu bagus jalannya, terlalu melimpah bahan konten duniawinya

Jujur saja, Jakarta itu terlalu bagus jalannya dan terlalu melimpah bahan kontennya. Di sini, setiap sudut bisa jadi bahan Instagram Story. Bahkan ada kafe yang “view”-nya kereta lewat. Sederhana banget, tapi terlihat estetis sekali.

Yah, untuk mencapai taraf “kekinian” di Jakarta itu mudah sekali, tinggal jalan dikit ketemu spot foto ciamik. Sementara di Lamongan, kita harus berjuang lebih keras untuk urusan konten. Ke kafe paling bagus saja kadang suasananya masih terasa biasa saja.

Selain itu, di Jakarta ada banyak public space gratisan. Hutan kota GBK misalnya. Kita cuma perlu datang, foto, dan konten duniawi sudah selesai didapat. Mudah sekali mendapat atensi.

BACA JUGA: Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota

#4 Orang Jakarta terlalu buru-buru, terlalu kelihatan punya tujuan

Ini yang paling aneh bagi saya. Di Jakarta, semua orang terlihat punya tujuan yang jelas. Keluar dari pintu stasiun, mereka jalan cepat menuju tujuannya masing-masing sesuai waktu yang direncanakan. Presisi sekali.

Sedangkan, di Lamongan, saya lebih banyak menemukan “orang bingung”. Iya, banyak orang jalan (atau naik motor) ya pokoknya jalan saja, nggak jelas mau ke mana, tiba-tiba berhenti di pinggir jalan buat beli rokok, atau sekadar duduk melihat kendaraan berlalu-lalang.

Di Jakarta, sepertinya kita harus punya tujuan yang harus segera dikejar. Bahkan saya baru tahu ketika naik eskalator harus menyediakan ruang kosong untuk sisi kanan agar yang buru-buru bisa naik eskalator sambil jalan.

Maksud saya, eskalator kan sudah berjalan, ngapain lagi masih ditambah dengan jalan. kek buru-buru banget. Ini kalau di warga kabupaten ketemu orang kayak gini mesti banyak yang maido, “gupuh budal wingi” (kalau terburu-buru, berangkat kemarin saja).

Yah, meski demikian, saya cukup kerasan di Jakarta. Tiap-tiap kota memang akan selalu menyenangkan ketika dikunjungi. Jika sudah ditinggali, itu persoalan lain.

Penulis: M. Afiqul Adib

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA 3 Hal Soal Lamongan yang Jarang Dibahas Banyak Orang

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 April 2026 oleh

Tags: bus wayJakartaKabupaten Lamongankota jakartalamonganperpusnastrans jakarta
M. Afiqul Adib

M. Afiqul Adib

Seorang tenaga pendidik lulusan UIN Malang dan UIN Jogja. Saat ini tinggal di Lamongan. Mulai suka menulis sejak pandemi, dan entah kenapa lebih mudah menghapal kondisi suatu jalan ketimbang rute perjalanan.

ArtikelTerkait

Di Mana Ada Lahan, di Situ Ada Warung Pecel Lele Lamongan nasi muduk

Mempertanyakan Dinas Pariwisata Lamongan Ini Kerjanya Ngapain Saja, kok Bisa Potensi Wisata Lamongan Sebanyak Ini tapi Nggak Tercium?

16 September 2024
Pengalaman Motoran Lamongan-Jogja: Mulai Jalur Rusak sampai Alas Ngawi yang Menghipnotis untuk Tidur Sesaat

Pengalaman Motoran Lamongan-Jogja: Mulai Jalur Rusak sampai Alas Ngawi yang Menghipnotis untuk Tidur Sesaat

25 Oktober 2025
Di Mata Saya, Kebiasaan Orang Jakarta Sarapan Mie Ayam Nggak Terlalu Aneh Mojok.co

Di Mata Saya, Kebiasaan Orang Jakarta Sarapan Mie Ayam Nggak Terlalu Aneh

17 Juni 2024
Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Obsesi yang Dipaksakan (Unsplash)

Kereta Cepat Jakarta Bandung Whoosh Hanya Sebatas Ambisi yang Manfaatnya Sangat Minim dan Kerugian yang Dirasakan Indonesia Bisa Sampai Kiamat

23 April 2024
6 Hal yang Perlu Disiapkan Warga Kabupaten yang Berencana ke Jakarta Mojok.co

6 Hal Perlu Disiapkan Warga Kabupaten yang Berencana ke Jakarta agar Tidak Kerepotan

2 Desember 2023
4 Hal yang Wajar di Bogor tapi Tidak Lumrah di Jakarta

4 Hal yang Wajar di Bogor, tapi Tidak Lumrah di Jakarta

14 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

Berhenti Jadi Kaum Mistika: Sigar Bencah Semarang Itu Angker karena Sudut Tanjakannya, Bukan Penampakan Tak Kasat Mata

14 Mei 2026
Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

Saya Memilih Pindah dari Indonesia dan Hidup di Jepang, Salah Satunya karena Kepastian Hidup yang Lebih Jelas

19 Mei 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Masalah Utama Tulungagung Bukan Wisata, tapi Tradisi Korupsi di Kursi Bupati

19 Mei 2026
Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit Mojok.co

Jadi MUA di Desa Sulit Cuan karena Selalu Dimintai “Harga Tetangga” kalau Menolak Dicap Pelit

18 Mei 2026
Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama Mojok.co

Mending Naik Bluebird daripada Taksi Online untuk Lanjut Perjalanan dari Stasiun atau Bandara, Lebih Minim Drama

14 Mei 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Organisasi Mahasiswa Itu Candu, dan Jabatan di Kampus Itu Jebakan yang Pelan-pelan Mematikan

18 Mei 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

    Konten Promosi



    Google News
    Ikuti mojok.co di Google News
    WhatsApp
    Ikuti WA Channel Mojok.co
    WhatsApp
    Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
    Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
    Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

    Tentang
    Kru
    Kirim Tulisan
    Ketentuan Artikel Terminal
    Kontak

    Kerjasama
    F.A.Q.
    Pedoman Media Siber
    Kebijakan Privasi
    Laporan Transparansi

    PT NARASI AKAL JENAKA
    Perum Sukoharjo Indah A8,
    Desa Sukoharjo, Ngaglik,
    Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

    [email protected]
    +62-851-6282-0147

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

    Tidak Ada Hasil
    Lihat Semua Hasil
    • Nusantara
    • Kuliner
    • Kampus
      • Pendidikan
    • Ekonomi
    • Teknologi
    • Olahraga
    • Otomotif
    • Hiburan
      • Anime
      • Film
      • Musik
      • Serial
      • Sinetron
    • Gaya Hidup
      • Fesyen
      • Gadget
      • Game
      • Kecantikan
    • Kunjungi MOJOK.CO

    © 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.