Rasa bakmi Jawa yang seimbang
Jika mangut lele mewakili “sisi liar dan berani” dari makanan khas Jogja, bakmi Jawa hadir sebagai penyeimbang. Kalau mau yang otentik, coba cari warung bakmi Jawa yang masih menggunakan anglo untuk memasak.
Memang, anglo bikin proses memasak jadi lama karena satu per satu. Namun, rasa yang akan hadir jadi lebih otentik. Apalagi kalau warung tersebut menggunakan telur bebek dan ayam kampung.
Sangat kontras dengan gudeg, kamu akan mendapatkan rasa gurih dari bakmi Jawa, apalagi yang rebus. Kalau yang goreng, berkat anglo, kamu akan mendapatkan rasa smoky.
Buat pendatang dan mereka yang sedang berwisata dan saya kenal, pasti akan merasa lebih nyaman makan bakmi Jawa. Kesannya, mereka nggak kaget seperti ketika makan gudeg. Makanya, menurut mereka, bakmi Jawa itu makanan khas Jogja yang menyeimbangkan.
Kalau bicara falsafah, menurut saya, rasa bakmi Jawa ya otentik kayak orang Jawa itu sendiri. Terlihat minimalis, tapi kompleks. Rasanya sederhana, tapi orang banyak bisa menerimanya. Dan satu hal lagi, makanan khas Jogja satu ini belum menjadi “korban slogan wisata” kayak gudeg. Terlalu diromantisasi, sih.
Soal harga, gudeg bisa bikin kaget
Sudah sering menjadi perdebatan, harga seporsi gudeg itu nggak bisa disebut murah. Rata-rata untuk makan di tempat makan yang sudah punya nama, bisa habis antara Rp30 sampai Rp50 ribu. Semua tergantung tempat dan kamu mengambil lauk apa saja.
Masalahnya, promosi Jogja sebagai “tempat yang semuanya murah”, berbanding terbalik dengan kenyataan yang terjadi. Gudeg, sebagai makanan khas Jogja, jadi mengecewakan dua kali bagi pendatang.
Pertama, rasa kaget karena sangat manis. Kedua, oh ternyata Jogja nggak semurah seperti yang digembar-gemborkan itu, ya. Kan susah, ya. Oleh sebab itu, bagi banyak pendatang dan mereka yang sedang wisata, gudeg itu mengecewakan.
Iya, kecewa, bukan berarti mereka nggak makan dan mengapresiasi, ya. Namun, di samping apresiasi itu, ada keluhan yang normal terjadi.
Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Gudeg Jogja yang Membuat Wisatawan Kecewa dan Wajib Kamu Hindari
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















