Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Gubernur DIY Tidak Mungkin Ingkar Janji, Lha Wong Tidak Janji Apa-apa

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
22 April 2022
A A
Gubernur DIY Tidak Mungkin Ingkar Janji, Lha Wong Tidak Janji Apa-apa

Gubernur DIY Tidak Mungkin Ingkar Janji, Lha Wong Tidak Janji Apa-apa (Bangoland via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Gubernur DIY tak mungkin ditagih dan dianggap ingkar janji. Ha wong dari awal nggak janji apa-apa

Gubernur DKI, sejak pelantikan, sering mendapatkan timah panas berupa protes dari warganya. Berbagai janji dan ambisi, terasa menguap begitu saja menjadi sebuah angan-angan belaka. DP 0 persen misalnya, ketika blio eksekusi, jauh dari seperti apa yang blio kemukakan ketika bergelut dalam kontestasi debat melawan paslon lainnya, BTP dan AHY.

Selain itu, ada janji lain yang tak sesuai dengan apa yang disampaikan pertama kali. Yakni mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok dengan menjaga ketersediaan bahan baku dan menyederhanakan rantai distribusi. Kenapa tak sesuai? Gubernur DKI seakan lupa, jika masalah kebutuhan pokok, akan bertaut rumit dengan kebijakan di atas blio.

Tapi, sebenarnya, hal tersebut agaknya bisa dimengerti. Mengingat, beliau pernah berkata bahwa secara hukum Allah, air itu dialirkan ke laut, bukan diendapkan di tanah. Berharap terlalu banyak dengan beliau itu rasanya seperti meminta Naruto untuk berhenti ceramah.

Banjir (Pixabay.com)

Jika ditotal, ada 23 janji Gubernur DKI periode ini. Warga DKI Jakarta berhak kesal semisal ada janji Gubernur DKI yang tidak bisa ditepati ketika akhir masa jabatan blio nanti. Sebab, mereka memilih karena janjinya.

Sedangkan hal yang sebaliknya, justru terjadi di DIY. Warga DKI, agaknya, perlu iri kepada warga DIY, sebab, Gubernur DIY tidak mungkin ingkar janji. Lha wong pas diangkat jadi gubernur saja tidak mengumbar janji apa-apa.

Eh, berjanji ding, tapi janjinya bias sekali. Ketika dilantik, Gubernur dan Wakil Gubernur DIY berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik dan adil. Janji yang harusnya sudah termaktub dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 107/P/2017. Untuk bentuk konkretnya, ngambang begitu saja seperti debok pisang yang keli di kali.

Maksud saya, menjadi Gubernur DKI itu penuh perjuangan hingga melegimitasi perihal agama segala. Untuk menghancurkan elektivitas calon lainnya, sampai-sampai ada yang bawa isu agama. Semua terasa menjadi halal hanya untuk menjadi nomer satu dalam tampuk kuasa ibu kota. Jogja beda, lebih damai, alami, dan tanpa ketegangan. Mau tegang gimana, wong calonnya saja hanya satu.

Baca Juga:

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan ‘Parkir Gratis’!

Melawan kertas kosong seperti di beberapa daerah? Bagi saya itu adalah hal yang biasa. Warga masih bisa mencoblos kertas kosong sebagai bentuk protes dan menghargai demokrasi. Proses demokrasi masih berjalan walau satu paslon yang bertanding dalam kontestasi pemilihan umum, bisa dibilang tidak sehat.

Ilustrasi pemilu (Pixabay.com)

Lantas bagaimana dengan Gubernur DIY? Melenggang tanpa lawan, yang harusnya aneh, menjadi biasa saja karena label istimewa. Label yang harusnya mulai dipertanyakan dan dikaji ulang itu.

Sejak dilantik menjadi gubernur pada tahun 2017 silam, seakan tak ada transparasi dengan jelas. Ya, transparansi dalam hal apa pun. Jangankan transparasi Dana Istimewa, lha janji konkret ketika mereka dilantik saja kami tidak tahu. “Berlaku adil” ini bisa merujuk ke mana saja. Pun bisa juga kan berbuat adil hanya untuk keluarganya?

Muluk-muluk seperti janji-janji Gubernur DKI, saya rasa tidak sepenuhnya mengesalkan, lho. Selain kita bisa menjadi katrol pengawas janji mana yang realistis dan janji mana yang bisa dinalar dengan otak, warga juga bisa menjadikan janji-janji itu sebagai bahan evaluasi ketika masa jabatan habis.

Apa dampak dari tidak jelasnya janji? Bahaya. Warga tidak tahu sang pemimpin ini ngapain saja. Mereka, pihak pemimpin, bisa saja nggambleh kerja 24/7 atau mendobrak batas work-life balance, namun hal ini amat rancu karena kalau tidak ada janji, apa indikator keberhasilan sang pemimpin?

Janji yang mereka buat, semuanya kondisional semua. Ada masalah, buat janji. Ada masalah, buat janji. Ada masalah, buat lagi janji yang baru.

Masalah klitih belakangan misalnya, menjadi kucing-kucingan dari warga kepada penguasa karena ya memang sejak awal penguasa tidak menjanjikan apa-apa. Aturan yang keluar pascakejadian hanya bersifat kondisional. Tidak ada kreativitas dalam membangun nalar dan wacana. Alih-alih menggali problem lebih dalam, mereka malah menggali alun-alun jadi wahana rekreasi raksasa bagi hewan bernama undur-undur.

Arit (Shutterstock.com)

Jadi gubernur selamanya, boleh-boleh saja (walau harusnya tidak boleh, sih). Tapi mengembangkan janji seperti layar sebuah kapal itu amat perlu, lho. Supaya warga tidak melulu nrimo, namun juga harus “menerima”apa yang diberikan oleh penguasa.

Ini hanya satu bidang, ya. Belum bidang lainnya seperti ketenagakerjaan, transportasi, sarana publik, gap antara urban, suburban, dan wilayah kota agar tidak njomplang, dan masih banyak lagi. Masih banyak sekali.

Apakah ada orang yang lebih pandai mengurus kota ini? Saya rasa ada. Banyak. Namun jangankan jadi pemimpin, mengusulkan dan menyampaikan aspirasi protes saja sudah dibungkam.

Warga DKI menjadi manusia paling sial masalah menuntut janji pemimpinnya? Coba sekali-kali bayangkan jadi kami, warga DIY, mau menuntut janji, tapi tidak tahu pemimpin kami sebenarnya sedang menjanjikan apa kepada kami.

Penulis: Gusti Aditya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jika Saya Jadi Gubernur DIY, Saya Siap Dimarah-marahi oleh Sultan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 22 April 2022 oleh

Tags: Gubernur DIYGubernur DKIjanjipilihan redaksi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Elkan Baggott Harusnya Menyesal Menolak Main untuk Timnas Indonesia

Elkan Baggott Harusnya Menyesal Menolak Main untuk Timnas Indonesia

26 Oktober 2021
Boyolali Hobi Menyontek Monumen Ikonik Negara Lain, seperti Nggak Punya Identitas Aja Mojok.co

Boyolali Hobi Menyontek Monumen Ikonik Negara Lain, seperti Nggak Punya Identitas Aja

16 Januari 2024
3 Alasan Mengapa Persepsi Uang Panai' Mahal Itu Adalah Kewajaran terminal mojok

3 Alasan Mengapa Persepsi Uang Panai’ Mahal Itu Wajar

27 Agustus 2021
Kasihan Motor Saya jika Pertalite Beneran Dihapus

Beli Pertalite Pakai Aplikasi: Kalau Bisa Dibikin Ribet, Kenapa Tidak?

25 Juni 2022
5 Penyebab Laptop Rusak pada Masa Skripsi jasa joki skripsi

Jasa Joki Skripsi Adalah Contoh Terbaik Adab Lebih Tinggi ketimbang Ilmu. Orang Pintar kok Degradasi Moral, Nggak Maen!

11 September 2023
3 Alasan Orang Bumijawa Tegal Malas "Turun Gunung" ke Slawi

3 Alasan Orang Bumijawa Tegal Malas “Turun Gunung” ke Slawi

18 Mei 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

7 Lagu Bahasa Inggris Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia (Unsplash)

7 Lagu Bahasa Inggris yang Mewakili Jeritan Hati Dosen di Indonesia

16 Januari 2026
Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

Tugas Presentasi di Kampus: Yang Presentasi Nggak Paham, yang Dengerin Lebih Nggak Paham

17 Januari 2026
Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo Mojok.co

Tempat Lahirnya Para Pahlawan, Satu-satunya Hal yang Bisa Dibanggakan dari Purworejo

14 Januari 2026
Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas Mojok.co

Mengaku dari Purwokerto Lebih Praktis Dibanding dari Kabupaten Banyumas

14 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

MR DIY Tempat Belanja yang Lebih Nyaman, Lengkap, dan Worth It ketimbang Miniso

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang
  • Bencana AI untuk Mahasiswa, UMKM, dan Pekerja Digital karena Harga RAM Makin Nggak Masuk Akal
  • Honda Vario 150 2016 Motor Tahan Banting: Beli Ngasal tapi Tak Menyesal, Tetap Gahar usai 10 Tahun Lebih Saya Hajar di Jalanan sampai Tak Tega Menjual
  • Adu Jotos Guru dan Siswa di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur Akibat Buruknya Pendekatan Pedagogis, Alarm Darurat Dunia Pendidikan 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.