Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
19 Desember 2025
A A
Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat

Boleh Membanggakan SCBD Jogja, tapi Jangan Lupakan Gamping dan Mlati Sleman yang Akan Menjadi The Next SCBD Jogja Barat (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Gamping dan Mlati Sleman ‘Naik Kelas’ Jadi The Next SCBD Jogja.

Saya paham kenapa banyak orang Jogja, terutama yang merasa hidupnya “naik kelas” setelah pindah kos, begitu bangga menyebut SCBD (Seturan–Condongcatur–Babarsari–Depok) sebagai kiblat hidup hedon. Di sana kopi mahal tumbuh seperti jamur, kos eksklusif beranak-pinak, dan orang-orang mulai merasa sah hidup boros karena “lingkungannya mendukung”.

Tapi justru karena itu saya curiga, jangan-jangan kita terlalu cepat mengkultuskan SCBD. Sementara di sisi barat Jogja, tepatnya di Gamping dan Mlati Sleman ada proses urbanisasi yang jauh lebih serius, lebih sunyi, dan lebih berbahaya kalau luput dibaca.

SCBD mungkin sudah ramai. Tapi Gamping dan Mlati sedang memanaskan mesin.

Gamping dan Mlati, bukti kota tidak selalu tumbuh dari tempat nongkrong

Kesalahan pertama kita saat membaca kota adalah mengira perkembangan selalu dimulai dari coffee shop, barbershop, dan lampu temaram. Padahal kota tumbuh dari hal yang jauh lebih membosankan seperti jumlah penduduk, kepadatan, perubahan fungsi lahan, dan infrastruktur. Dan di titik ini, Gamping dan Mlati Sleman tidak bisa lagi dianggap wilayah numpang hidup.

Penduduk Gamping dan Mlati sama-sama menembus angka seratus ribuan jiwa. Kepadatannya ribuan orang per kilometer persegi. Itu bukan ciri desa yang sedang tidur siang. Itu ciri wilayah yang sedang sesak oleh aktivitas manusia, mobil, bangunan, dan ambisi.

Kalau ukuran “urban” hanya ditentukan oleh jumlah tempat nongkrong, mungkin Seturan-Condongcatur-Babarsari-Depok menang. Tapi kalau ukurannya adalah skala kehidupan, barat Jogja jelas tidak kalah bahkan mungkin lebih matang secara struktural.

Sawah yang menghilang di Gamping dan Mlati Sleman itu tanda bahaya (sekaligus peluang)

Saya selalu percaya satu hal bahwa kota yang benar-benar tumbuh selalu meninggalkan korban. Dan di Gamping serta Mlati Sleman, korban itu bernama sawah.

Baca Juga:

Alasan Orang-Orang NTT Lebih Memilih Merantau Kuliah ke Jogja daripada Kota Besar Lainnya

5 Rekomendasi Bakmi Jawa Enak di Jogja yang Cocok di Lidah Wisatawan

Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan hektare lahan pertanian di kawasan ini berubah fungsi. Dari hijau ke abu-abu, dari lumpur ke beton, dan dari cangkul ke brosur perumahan.

Ini bukan nostalgia yang perlu diratapi berlebihan. Ini sinyal yang harus dibaca dingin-dingin, modal mulai serius masuk. Ketika sawah dikorbankan, artinya ada keyakinan bahwa wilayah itu akan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar.

SCBD Jogja dulu juga begitu. Bedanya, Gamping dan Mlati melakukannya tanpa ribut, tanpa branding, tanpa pretensi “kawasan hits”. Mereka tumbuh seperti orang kaya lama pelan, tapi nyata.

Aglomerasi, kata rumit yang artinya sederhana

Dalam bahasa perencanaan kota, Gamping dan Mlati di Kabupaten Sleman sudah masuk wilayah aglomerasi perkotaan Yogyakarta. Artinya sederhana saja, secara fungsi, mereka sudah tak bisa dipisahkan dari denyut kota.

Orang yang tinggal di Mlati bisa kerja, kuliah, belanja, dan nongkrong di pusat kota tanpa merasa “ke luar kota”. Begitu pula Gamping. Secara psikologis dan mobilitas, mereka sudah kota. Hanya papan namanya saja yang belum sok metropolitan. Dan justru di situlah bahayanya.

SCBD sudah sadar diri sebagai kawasan urban. Gamping dan Mlati belum. Padahal secara peran, mereka sudah menanggung beban kota tentang kemacetan, pembangunan, harga tanah naik, dan perlahan gaya hidup ikut berubah.

Tol Itu bukan sekadar jalan, tapi undangan

Ketika proyek besar seperti tol Jogja–Solo mulai menyentuh wilayah Gamping dan Mlati Sleman, saya tidak melihatnya sebagai kabar teknis. Saya melihatnya sebagai undangan terbuka bagi modal.

Jalan besar tidak pernah netral. Ia selalu mengundang investor, developer, spekulan, dan tentu saja gaya hidup baru. Hari ini orang masih bicara kos dan perumahan. Besok bisa jadi pusat komersial. Lusa, tempat hiburan.

SCBD Jogja dulu tidak langsung hedon. Ia bertahap. Sama seperti barat Jogja hari ini. Tapi tunggu dulu, urban bukan otomatis hedon

Nah, di sini saya perlu jujur dan tidak mabuk narasi sendiri. Menyebut Gamping dan Mlati sebagai “SCBD Jogja baru” belum sepenuhnya sah kalau kita bicara hedonisme murni. Urbanisasi tidak otomatis melahirkan gaya hidup boros dan glamor. Bisa saja yang tumbuh justru kawasan hunian padat, kelas menengah pekerja, tanpa pesta-pesta estetika ala SCBD.

Artinya, “SCBD Barat” masih lebih tepat disebut potensi, bukan fakta. Ia baru sampai tahap fondasi, belum dekorasi.

Tapi justru itu yang membuatnya menarik untuk dibicarakan sekarang sebelum terlambat, sebelum semuanya jadi brosur dan spanduk diskon grand opening.

Barat Jogja bukan alternatif, tapi fase berikutnya

Saya tidak sedang bilang SCBD harus dilupakan. Tidak. Ia tetap penting sebagai etalase gaya hidup urban Jogja hari ini. Tapi kalau kita ingin jujur membaca masa depan kota, mata kita tidak boleh berhenti di Seturan dan sekitarnya.

Gamping dan Mlati Sleman adalah fase berikutnya. Bukan karena mereka lebih keren, tapi karena mereka lebih siap secara struktur.

Mereka tidak berisik, tapi bertumbuh. Tidak viral, tapi vital. Tidak pamer, tapi mengakar.

Dan biasanya, kota yang benar-benar berubah, justru lahir dari tempat-tempat seperti itu yang tidak terlalu percaya diri menyebut dirinya pusat, tapi pelan-pelan mengambil peran itu.

Kalau suatu hari barat Jogja benar-benar jadi pusat gaya hidup baru, jangan pura-pura kaget. Kita sudah melihat gejalanya. Kita hanya terlalu sibuk memuja SCBD, sampai lupa bahwa kota tidak pernah tumbuh di satu arah saja.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 19 Desember 2025 oleh

Tags: gampinggamping slemanJogjaKabupaten Slemankecamatan mlatimlati slemanSCBD JogjaSleman
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

Warnet Bokep di Jogja yang Pernah Jaya Bersama Pornhub (Unsplash)

Warnet Bokep di Jogja yang Pernah Jaya Bersama Pornhub

1 Februari 2023
Danais Jogja Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

Danais Triliunan, tapi Mbah-mbah di Jogja Tetap Tidur di Trotoar

12 September 2025
Tidak Kerja di Jakarta Bikin Saya Bersyukur sekaligus Menaruh Hormat pada Mereka yang Mengadu Nasib di Ibu Kota

Tidak Kerja di Jakarta Bikin Saya Bersyukur sekaligus Menaruh Hormat pada Mereka yang Mengadu Nasib di Ibu Kota

9 Maret 2025
Kepala Manyung Bu Fat, Kuliner Pedas Semarang yang Wajib Dicoba

Maaf-maaf Saja, bagi Saya, Semarang Lebih Superior ketimbang Jogja dan Bandung

24 Juni 2023
Sejarah Sengkarut Bisnis Miras Jogja, Saling Sikut demi Berjualan Air Perdamaian

Sejarah Sengkarut Bisnis Miras Jogja, Saling Sikut demi Berjualan Air Perdamaian

18 Juli 2024
Warteg Kharisma Bahari Ngringin Condongcatur, Tempat Sahur Paling Nyaman di Jogja dan Aman dari Klitih

Warteg Kharisma Bahari Ngringin Condongcatur, Tempat Sahur Paling Nyaman di Jogja dan Aman dari Klitih

13 Maret 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang Mojok.co

Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang

27 Januari 2026
6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto Agar Makin Nikmat Mojok.co

6 Tips Makan Soto Ayam Jalan Bank H. Loso Purwokerto agar Makin Nikmat

26 Januari 2026
Jogja Nggak Berubah Itu Bullshit! Cuma Omong Kosong Belaka! (Unsplash)

Ironi Remaja Kota Jogja: Fasih Misuh dengan Bahasa Jawa, tapi Sulit Bicara Pakai Bahasa Jawa Krama

25 Januari 2026
Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

Kawali, Kecamatan Istimewa di Kabupaten Ciamis yang Jarang Dilirik. Hanya Dilewati Wisatawan yang Fokus ke Pangandaran

26 Januari 2026
Tiga Tradisi Madura yang Melibakan Sapi Selain Kèrabhan Sapè yang Harus Kalian Tahu, Biar Obrolan Nggak Itu-Itu Aja

4 Pandangan Norak Orang Luar Madura tentang Orang Madura yang Perlu Diluruskan

29 Januari 2026
Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Solo Baru Sebelum Mangkrak seperti Sekarang Mojok.co

Pandawa Water World Sempat Jadi Destinasi Wisata Primadona Sukoharjo sebelum Mangkrak seperti Sekarang

30 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Album “Pamitan” Megadeth Jadi Eulogi Manis dan Tetap Agresif, Meskipun Agak Cringe
  • Perempuan Surabaya Beramai-ramai Ceraikan Suami, karena Cinta Tak Lagi Cukup Membayar Tagihan Hidup
  • Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa
  • Sebagai “Alumni” KA Airlangga, Naik KA Taksaka Ibarat “Pengkhianatan Kelas” yang Sesekali Wajib Dicoba Untuk Kesehatan Mental dan Tulang Punggung 

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.