Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Personal Branding Itu Tidak Penting

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
6 Maret 2026
A A
Personal Branding Itu Tidak Penting

Ilustrasi ini merupakan hasil generate dari aplikasi AI.

Share on FacebookShare on Twitter

Dulu, orang berkarya lalu dikenal. Sekarang orang ingin dikenal dulu, baru mencari sesuatu untuk dikerjakan. Itulah salah satu dampak dari terlalu berlebihan memaknai personal branding.

Di era media sosial, istilah personal branding menjadi sangat populer. Hampir setiap orang yang ingin tampil di ruang publik dianjurkan untuk memilikinya. Buku-buku pengembangan diri, seminar motivasi, hingga pelatihan profesional sering mengulang pesan yang sama: bangunlah personal branding agar dikenal, dipercaya, dan berhasil.

ADVERTISEMENT

Secara sederhana, personal branding adalah cara seseorang membangun citra tentang dirinya di mata publik. Ia adalah upaya untuk menampilkan identitas tertentu: ahli di bidang tertentu, pemikir di bidang tertentu, atau figur dengan karakter tertentu. Dengan personal branding yang kuat, orang lain dianggap lebih mudah mengenali siapa kita dan apa yang kita tawarkan.

Tidak sedikit orang menganggap personal branding penting karena dunia modern sangat kompetitif. Orang harus “terlihat” agar tidak tenggelam dalam lautan informasi. Dalam dunia profesional, personal branding dianggap membantu membuka peluang: undangan berbicara, kerja sama, atau kesempatan karier. Karena itu, berbagai pelatihan pun bermunculan—mengajarkan cara menata profil media sosial, memilih kata-kata yang tepat, membangun citra diri, hingga mengatur narasi tentang siapa kita.

Namun di sinilah masalah mulai muncul.

Belakangan ini, personal branding sering diperlakukan seperti tujuan utama, bukan sebagai akibat dari karya dan reputasi. Banyak orang sibuk merancang citra diri sebelum memiliki sesuatu yang benar-benar layak untuk dikenal. Mereka memermak penampilan digital, menata kata-kata yang terlihat meyakinkan, dan membangun kesan profesional—tetapi sering kali lupa membangun substansi.

Akibatnya, kita hidup di tengah fenomena yang aneh: orang tampak hebat di permukaan, tetapi sulit menemukan karya yang benar-benar mendalam di baliknya. Media sosial penuh dengan profil yang rapi, kalimat yang inspiratif, dan citra yang tampak profesional. Tetapi ketika ditelusuri lebih jauh, tidak banyak karya yang benar-benar bertahan lama.

Padahal, jika kita melihat sejarah tokoh-tokoh besar, pola yang terjadi justru sebaliknya. Mereka tidak memulai dari personal branding. Mereka memulai dari karya, keberanian berpikir, dan konsistensi sikap. Reputasi mereka muncul sebagai akibat dari perjalanan panjang itu.

Baca Juga:

Tiga Tahun Menjadi Fungsionaris Organisasi Mahasiswa, Saya Menyadari bahwa Organisasi Mahasiswa Tak Ada Bedanya dengan Tempat Penitipan Balita

Tiga Jalan Menuju Revolusi: Tan Malaka, Soekarno, dan D.N. Aidit

Ambil contoh Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya tidak pernah duduk merancang citra dirinya sebagai “sastrawan perlawanan”. Ia hanya menulis—tentang manusia, sejarah, kolonialisme, dan ketidakadilan. Bahkan ketika dipenjara dan dibuang ke Pulau Buru, ia tetap bercerita. Dari konsistensi itulah lahir karya-karya besar yang kemudian dikenal dunia. Reputasinya sebagai suara perlawanan muncul bukan dari strategi personal branding, melainkan dari keteguhan berkarya dalam situasi yang paling sulit.

Contoh lain adalah Abdurrahman Wahid, yang lebih akrab dikenal sebagai Gus Dur. Ia tidak pernah membangun citra dirinya sebagai simbol pluralisme atau tokoh toleransi. Ia hanya hidup dengan keyakinan yang sama sepanjang hidupnya: bahwa kemanusiaan harus dijaga, dan perbedaan harus dihormati. Ia membela kelompok minoritas, berbicara dengan humor, dan sering melawan arus ketika diperlukan. Dari sikap itulah publik mengenalnya sebagai tokoh yang humanis dan inklusif. Sekali lagi, reputasi itu tumbuh dari karakter dan tindakan, bukan dari pengelolaan citra.

Hal yang sama dapat dilihat pada Tan Malaka. Dalam hidupnya yang penuh pengasingan dan pelarian, Tan Malaka tidak pernah memiliki ruang untuk merancang personal branding. Ia hidup sebagai seorang pemikir dan pejuang yang terus menulis dan menyebarkan gagasan tentang kemerdekaan. Karya seperti Madilog menunjukkan kedalaman intelektual yang jarang dimiliki tokoh lain pada zamannya. Namun reputasinya sebagai salah satu pemikir besar Indonesia lahir jauh setelah semua itu—sebagai pengakuan terhadap kekuatan gagasan yang ia tinggalkan.

Dari tokoh-tokoh tersebut kita belajar satu hal penting: personal branding bukanlah sesuatu yang harus dikejar. Ia biasanya muncul sebagai efek samping dari karya yang kuat dan konsistensi hidup yang panjang.

Orang-orang besar tidak sibuk mengatur citra mereka. Mereka sibuk berpikir, menulis, bekerja, dan memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini benar. Ketika karya mereka memengaruhi banyak orang, reputasi pun terbentuk dengan sendirinya.

Itulah sebabnya, mungkin kita perlu melihat personal branding dengan cara yang lebih sederhana. Ia bukanlah fondasi dari sebuah reputasi. Ia hanyalah bayangan yang muncul setelah sesuatu yang nyata berdiri di belakangnya.

Tanpa karya, personal branding hanyalah dekorasi.

Dan sejarah selalu menunjukkan bahwa yang bertahan bukanlah dekorasi—melainkan substansi.

Terakhir diperbarui pada 6 Maret 2026 oleh

Tags: personal brandingPramoedya Ananta Toertan malaka
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

getcontact personal branding mojok

Getcontact, Cara Efektif untuk Tahu Personal Branding Berhasil atau Nggak

16 September 2021
Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

Tan Malaka: Keunikan, Kedaulatan Berpikir, dan Sederet Karya Cemerlang

26 Februari 2026
Branding Duta Sego Pecel oleh Bupati Blora Itu Kelewatan, Aneh, dan Nggak Pas!

Branding Duta Sego Pecel oleh Bupati Blora Itu Kelewatan, Aneh, dan Nggak Pas!

11 Oktober 2025
Tan Malaka Bakal Misuh Jancuk Kalau Baca Draf Omnibus Law

Tan Malaka Bakal Misuh Jancuk kalau Baca Draf Omnibus Law

13 Maret 2020
Alangkah Kesalnya Kalau Ada Orang Minta Diajarin Nulis Tapi Dia Pemalas terminal mojok.co

Saya Bukan Anak Raja, Maka Saya Menulis

12 Juli 2019
Blora, Kabupaten Kecil yang Dirusak oleh Kelakuan Bodoh Ormas (Wikimedia)

Blora, Kabupaten Kecil yang Dirusak oleh 3 Kelakuan Bodoh Ormas, Bikin Malu dan Menyusahkan Masyarakat Waras Lainya

24 Juli 2025
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga Mojok.co

Pengalaman ikut trail run, olahraga yang dahulu saya anggap aneh, tapi akhirnya ketagihan juga

20 Agustus 2026
Gen Z lanjut S2 bukan karena ambisi, tapi patah hati (Unsplash)

Banyak Gen Z lanjut S2 bukan karena gelar dan ambisi, tapi karena patah hati dan bingung mau ngapain lagi

20 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan Mojok.co

7 hal yang sebaiknya diajarkan saat PKKMB, bikin atribut aneh dan tradisi nggak bermanfaat lain mending dihapuskan

21 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.