Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus Loker

Galaunya Fresh Graduate Sarjana Pendidikan: Gaji Idealis vs Gaji Realis

Ade Vika Nanda Yuniwan oleh Ade Vika Nanda Yuniwan
13 Agustus 2019
A A
fresh graduate

fresh graduate

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa waktu lalu seorang alumni (fresh graduate) UI menjadi perbincangan hangat di kancah maya. Piye ndak diomongin, wong dia nolak mentah-mentah gaji awal sebagai fresh graduate yang senilai 8 juta hanya karena merasa dia ini alumni UI yang tarafnya sudah internasional. Dari perbincangan itu, akhirnya beramai-ramai netizen menuliskan beragam artikel satir yang bermaksud setengah sambat, setengah nyindir oknum alumni UI tersebut.

Artikelnya pun cukup menggelitik. Mulai dari perbandingan antara oknum dengan Maudy Ayunda yang lulusan Oxford University hingga jadi perebutan dua universitas ternama dunia untuk pendidikan pasca sarjananya, dan juga perbandingan antara oknum dengan diri mereka sendiri yang ndilalah alumni UGM. Seperti sebuah artikel berjudul Alumni UI Gaji 8 Juta, Alumni UGM Gaji 800 Ribu Sih Cucok Juga yang tayang di esai mojok pada tanggal 28 Juli 2019 lalu.

Pada artikel itu penulis mengatakan jika menerima gaji kecil itu bukan melulu urusan laku dan nggak laku di bursa kerja bergaji besar. Justru dengan cara itu dapat menjadi sarana penempaan diri untuk pembuktian sebagai manusia bermental baja. Ya baja lah, asal sobat-sobat tahu saja, bisa menerima gaji awal yang kecil itu ada pertaruhan pun ketulusan (katanya iron stock kan?).

Itu baru satu masalah ketika seseorang resmi menjadi fresh graduate alias masih anget keluar dari oven. Bidang konsentrasi yang ditempuh selama kuliah pun rupanya sedikit banyak ikut menentukan kebejoan kita dalam melamar kerja. Salah satunya adalah konsentrasi pendidikan yang nantinya mahasiswa akan dicetak untuk jadi Sarjana Pendidikan yang umumnya jadi cikal bakal guru. Ya ya tho, Sarjana Pendidikan…

Dilansir dari sebuah artikel yang pernah tayang juga di platform UCG Terminal Mojok berjudul Jangan-jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadikan Hiasan Doang di Kampus pada tanggal 30 Juli 2019. Dalam artikel yang berisi tentang sambatan penulis yang juga Sarjana Pendidikan, kok saya jadi ikut termenung membacanya. Kalau saya pikir-pikir lagi, batin ini kalau bisa ngomong lantang, bakal ngomong, “iyo eh, kok bener seh sampean mas?”

Si penulis mengatakan kalau meskipun jadi Sarjana Pendidikan, nyatanya doi kerja juga nggak dalam lingkup pendidikan. Katanya, prospek kerja jadi guru itu memang bagus—kalau sudah PNS, kalau masih honorer? Ya akui saja lah, hidup bukan cuma urusan makan, dan minum. Ya bayar listrik, cicilan motor, bantuin orang tua—duh saya jadi terharu, my luv. Dan ada-ada saja tanggungan yang lain pasca kita lulus dan dinyatakan jadi sarjana pendidikan.

Begini kira-kira. Berbicara gaji realis, menjadi guru honorer yang standarnya digaji sebesar 300 – 500 ribu, itu jelas sangat kurang bagi kita yang sudah sarjana pendidikan. Bukan masalah itung-itungan soal biaya pendidikan yang serba mahal ya Bosquue. Ini perihal kebutuhan hidup yang fundamental. Di luar sana, tentunya masyarakat akan menanti kita-kita yang sarjana ini pulang membawa kesuksesan.

Padahal nyatanya membawa pulang kesuksesan itu seperti mengenalkan pdkt-an kita ke orang tua di rumah, tapi ternyata perasaannya masih bertepuk sebelah tangan dengan kita. Susah, my luv! Tapi demi orang tua tercinta, apapun pasti diperjuangkan. Dan jalan alternatifnya adalah menjadi tutor di LBB, menjadi penulis freelance untuk media berbayar, jualan pulsa, buka olshop, sampai jaga stan makanan dan minuman.

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

Gaji sekian ratus ribu untuk seorang guru honorer (lajang) bisa jadi angka yang berkecukupan. Tapi nyuwun sewu, kalau sudah berumah tangga, saya jadi agak meragukan besaran gaji yang sedemikian rupa (maklum harga cabai lagi meroket, saya jadi baper).

Atau jika ada di antara kalian yang bertanya “kenapa nggak ngelamar pekerjaan lain, selain guru?”. Begini sobatque, kita tidak bisa memungkiri, jika lowongan pekerjaan untuk sarjana semua jurusan itu pasti ada. Tapi karena kita sedang hidup di era digital dan persaingan bisnis global alias MEA, kita kurang pantas jika abai sepenuhnya ihwal persaingan antar teman-teman sarjana lainnya di luar sana (yang juga berlomba cari kerja).

Satu contoh, ada sebuah lowongan kerja bagi sarjana semua jurusan untuk mengisi posisi teller bank. Kita boleh percaya diri dengan kemampuan IPK, dan gelar kita, lalu dengan penuh semangat melamar kerja. Tapi jangan lupakan, kita pun akan berhadapan dengan para sarjana perbankan, sarjana akuntansi, atau sarjana di bidang ekonomi lainnya. Bukan berarti saya mengajak kita untuk pesimis, yha. Optimis itu harus, namun selebihnya kita tidak boleh lupa diri.

Contoh kedua, ada sebuah lowongan kerja bagi sarjana semua jurusan untuk mengisi posisi customer service. Bagi sarjana pendidikan dengan pengalaman public speaking mumpuni selama berkuliah, ya bisa jadi peluang juga itu, my luv. Tapi eling kita pasti juga akan berhadapan dengan para sarjana ilmu komunikasi, sarjana hubungan masyarakat, dan sarjana-sarjana lain yang konsentrasi ilmunya linear dengan posisi pada lowker.

Di sisi lain, kita yang sarjana pendidikan, sudah sejak semester muda (bahkan sejak perkuliah awal menjadi mahasiswa konsentrasi pendidikan) telah mengikrarkan diri bakal jadi pendidik yang amanah dan mendidik anak-anak selaku khazanah bangsa (hiyaaa, ngaku deh, ngaku!). Dan berbicara gaji idealis, gaji sebesar 300 ribu untuk guru honorer itu sudah cukup. Pasalnya, tidak sebanding dengan pahala kita sebagai guru (yang digugu dan ditiru).

Di dalam benak saya sendiri misalnya. Menjadi seorang guru (baik honorer atau tutor LBB) bagaikan pejuang. Bayangkan lho, kami ini yang sarjana pendidikan ketika ngajar di kelas bimbel atau kelas sekolah merasa sudah ikut berpartisipasi bagi kecerdasan bangsa. Kami merasa ilmu kami dapat terpelihara dengan membagikannya kepada anak-anak didik kami. Mulia sekali kan? Bagi kami, gaji itu urusan kedua setelah kami dapat berkah dan pahala mengajarnya.

Apalagi, kami adalah fresh graduate. Bagi kami, pengalaman bekerja (wabilkhusus, jadi guru) akan lebih berarti ketimbang besaran gaji. Rezeki udah ada yang ngatur, my luv—taqwa mode on, optimis on fire.

Hayo, jangan galau lagi ya sobat onlenkuh. Cukup menjalani apa yang ada. Karena air  mengalir pasti akan ketemu juga hilirnya. Semangat dan sukses mendidiknya ya para guru milenial. eaaakk~ (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: CurhatFresh GraduateGuru Honorerjurusan pendidikansarjana pendidikan
Ade Vika Nanda Yuniwan

Ade Vika Nanda Yuniwan

Pekerja literasi yang mencintai buku, anak-anak, dan pendidikan. Suka berdiskusi sambil nulis ringan untuk isu-isu yang di sekelilingnya.

ArtikelTerkait

tombol like

Dear Mark Zuckerberg, Tolong Kembalikan Fitur Tombol Like di Facebook Seperti Sebelumnya

27 Agustus 2019
sok tahu

Lima gerakan Jurus Bebek Cuek untuk Menghadapi Orang yang Sok Tahu

23 Oktober 2019
Menebak Kepribadian Seseorang Berdasarkan Pilihan Obat Nyamuk terminal mojok.co

Jangan Hidup Seperti Nyamuk!

6 September 2019
divisi perlengkapan

Panitia Kegiatan yang Paling Capek itu Divisi Perlengkapan

19 Agustus 2019
orang dalam

Kenangan tentang ‘Orang Dalam’ pas Nyari Kerjaan

13 Mei 2020
diajak susah

Logika Terbalik Lelaki: Ingin Dapat Pasangan yang Bisa Diajak Susah

8 Agustus 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

motor Honda Stylo 160: Motor Matik Baru dari Honda tapi Sudah Disinisin karena Pakai Rangka eSAF, Bagusan Honda Giorno ISS Honda motor honda spacy

Honda Stylo Adalah Motor Paling Tidak Jelas: Mahal, tapi Value Nanggung. Motor Sok Retro, tapi Juga Modern, Maksudnya Gimana?

15 Maret 2026
7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik Mojok.co

7 Barang Indomaret yang Semakin Laris Manis Saat Mudik

17 Maret 2026
Kebumen Aneh, Maksa Merantau tapi Bikin Pengin Pulang (Wikimedia Commons)

Kebumen Itu Memang Aneh: Suka Memaksa Anak Muda untuk Segera Merantau, sekaligus Mengajak Kami untuk Segera Pulang

21 Maret 2026
Jangan Tanya Rekomendasi Tempat Wisata ke Orang Bandung karena Orang Bandung Asli Biasanya Nggak Tahu

Derita Menikah dengan Orang Bandung: Tidak Pernah Merasakan Drama Mudik hingga Selalu Diejek

21 Maret 2026
Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini Mojok.co

Saya Orang Asli Depok dan Tidak Bangga Tinggal di Daerah yang Aneh Ini

19 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.