Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Emang Bener Ulama Itu Pewaris Para Nabi?

Aly Reza oleh Aly Reza
17 Juli 2020
A A
Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Emang Bener Ulama itu Pewaris Para Nabi MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Di kebun sawo, Misbah dan Kang Salim seru sekali ngobrolin soal ulama dan teladan nabi….

“Apa yang disampaikan sama ustaz yang ngisi ngaji rutinan semalem itu, rasa-rasanya kok masih ngganjel banget di hati saya, Kang,” gerutu Misbah sambil mencuci sawo yang baru pagi tadi dipetik bareng Kang Salim.

“Gimana ya, saya malah panas sendiri denger ceramahnya,” lanjut Misbah. “Hla mosok tradisi sedekah laut yang beberapa hari lalu kita gelar dikritisi habis. Katanya bidah lah, nggak ada tuntunannya lah. Parahnya, kok sempet-sempetnya jelek-jelekin salah satu ulama yang jadi panutan masyarakat sini. Mana diksinya kasar banget lagi. Semula saya kira orang ini ilmunya udah sundul langit jadi berani bilang begitu. Eh pas bacain Alquran, hla kok kocar-kacir. Ngawur nggak karuan. Heran saya kok bisa-bisanya nadir masjid ngundang ustaz kayak gitu.”

“Kebanyakan ngersula kerjaan kamu nggak kelar-kelar itu, Mis.” Tegur Kang Salim yang sudah merampungkan pekerjaannya. “Yaudah juga lah, Mis, ustaz tersebut berargumen begitu itu kan emang pemahamannya baru sebatas itu. Kalau kamu ngerasa nggak cocok, tinggalin aja, ambil pendapat ustaz atau kiai lain yang menurut kamu lebih pas dan menenteramkan.”

“Nah itu dia masalahnya. Semalem si ustaz sempet bilang, apa pun dawuh kiai atau ulama, harus ditaati. Sebab ulama itu warasatu al-anbiya, pewaris para Nabi. Menolak dawuh ulama itu sama dengan menolak dawuh para Nabi. Saya sendiri dalam situasi bimbang kalau udah kepentok sama dalil-dalil semacam itu, Kang.”

Kang Salim merogoh sebatang kretek dari kantong celananya untuk disulut. Setelah satu tarikan, baru Kang Salim memberikan suara, “Dan nggak cuma satu-dua orang sih, yang makai hadis itu buat melegitimasi ceramahnya. Memonopoli kebenaran versinya sendiri biar dibenerin sama orang-orang.”

“Maaf, Kang, saya potong. Ini hadis karet, rawan banget jadi bahan monopoli. Pertanyaan saya, jadi apakah bener ulama itu pewaris para Nabi?” Kali ini Misbah sudah menyelesaikan pekerjaannya.

“Mau itu model ulama yang suka jelek-jelekin, baca Alquran-nya berantakan, yang suka nyumpah serapah dan menebar kebencian, apakah tetep bisa disebut sebagai pewaris atau penyambung risalah para Nabi? Sehingga kita patut menghormati dan menaatinya. Masalahnya itu hadis sahih loh, Kang, nggak mungkin tho kalau disangkal.”

Baca Juga:

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

Saya Muslim, tapi Saya Enggan Tinggal Dekat Masjid dan Musala

Kang Salim menyesap kembali kreteknya dengan khdimat, untuk kemudian berucap, “Kalau saya sih, dari dulu udah punya makna lain, Mis, buat hadis tersebut.”

“Maksut sampeyan, warasatu al-anbiya itu bukan pewaris para Nabi dalam arti harfiah yang selama ini kita pahami gitu ta, Kang?”

“Yap, ternyata kamu udah bisa nebak isi kepala saya, Mis,” Kang Salim terkekeh. “Saya curiga, jangan-jangan ada diksi yang tersembunyi di dalam redaksi hadis tersebut. Seperti udah jadi ciri khas kalimat-kalimat bahasa Arab yang emang cenderung nyastra. Mangkanya dalam ilmu nahwu ada yang namanya teori tamyiz, buat nyari maksud redaksi yang agak rumpang.”

“Lantas, apa diksi yang tersembunyi itu, Kang?”

“Bisa jadi redaksi hadis tersebut bermaksud al-ulamau (an yajibu) warasatu al-anbiya, ulama (harus menjadi) pewaris para Nabi. Jadi bukan sebuah klaim, tapi sebuah titah. Piye, paham nggak?”

Misbah mengangguk, entah paham atau tidak, tapi Kang Salim kembali meneruskan penjelasannya.

“Jadi, jika ada orang yang ngaku bahwa dia adalah ulama, seorang tokoh agama, maka dia harus mewarisi suri tauladan para Nabi. Misalnya dalam hal kesabaran mewarisi kesabaran dari Nabi Ayub. Dalam hal ketaatan dan keridaan mewarisi Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Atau mencoba mewarisi uswatun hasanah dari Rasulullah yang selalu berkata jujur dan yang baik-baik. Nggak pernah benci atau jelek-jelekin orang lain. Yang dermawan, bukan pendendam, Yang selalu lemah lembut sama siapa pun, rendah hati, dan segala uswatun hasanah dari Kanjeng Nabi lah.”

“Artinya, kalau ada orang ngaku ulama, tapi sama sekali nggak mencerminkan akhlak para Nabi, berarti belum ngamalin titah harus menjadi warasatu al-anbiya ya, Kang?” tanya Misbah.

“Yoi, Mis. Dan kalau udah begitu, berarti dia nggak pantes juga ngaku sebagai ulama. Yang berhak ngaku sebagai ulama cuma mereka yang emang bener-bener mewarisi uswatun hasanah dari para Nabi itu. Ini penting, Mis. Kalau dulu umat Islam bisa ngelihat secara langsung bagaimana kepribadian Rasulullah sehingga bisa menauladaninya, kita nggak bisa. Untuk itulah kenapa Rasulullah bersabda demikian. Harus ada yang mewarisi budi luhur para Nabi, biar umat juga bisa ikut menauladaninya. Dalam hal ini adalah ulama-ulama itu tadi.”

“Eh, Kang, apa yakin maksudnya demikian? Sebab kalau mengacu pada Abu Yazid al-Bustami, ulama itu adalah hujjah Allah, loh. Katanya, kalau mengikuti jejak ulama, itu sama dengan telah mengikuti Allah. Namun sebaliknya, kalau jauh dari ulama, berarti jauh pula dari Allah.”

“Bagi saya itu adalah konsekuensi dari hadis warasat tadi sih, Mis. Jadi kalau ulama udah bisa jadi pewaris Nabi, dalam artian seperti yang kita bahas sebelumnya, maka dia juga bisa disebut sebagai hujjah Allah. Yang artinya, seluruh perilakunya atau tutur katanya harus didasarkan pada hukum kasih sayang, harus bener-bener mengejawantahkan sifat Allah yang rahman-rahim dan rahmatan li al-alamin. Atau bahasa sufinya, takhalluq min akhlaqillah, berakhlak dengan akhlaknya Allah. Kalau udah kayak gitu, akhirnya nggak ada model ceramah yang mengandung kebencian lagi.”

“Nah, kalau udah di fase menyadari bahwa dia harus jadi hujjah Allah, maka dia bakal hati-hati kalau mau berbuat atau berucap. Semua didasari atas malu pada Allah kalau dia gagal jadi hujjah-Nya. Termasuk ketika ceramah, mestinya dia bakal malu kalau-kalau yang dia omongin itu nggak sesuai dengan karepe Gusti Allah. Sebab dia sadar betul, ilmu yang dia punya itu asalnya dari Allah. Lah kalau salah penyampaian maksud, kan bisa menyinggung Allah akhirnya. Begitu kata Rumi. Yang terjadi selanjutnya, dia jadi sosok yang hati-hati dalam bicara. Nggak bakal berkomentar atas satu pun perkara kecuali perkara yang bener-bener dia pahami.”

“Iya sih, Kang, Nggak kayak kebanyakan ulama saat ini, yang kalau pakai istilah al-Ghazali disebut, rajulun la yadri wa la yadri annahu la yadri. Yang nggak tahu, tapi nggak tahu kalau dia nggak tahu. Akhirnya ngomong ngaco untuk sesuatu yang sebenenernya belum atau sama sekali nggak dia kuasai. Belum lancar baca Alquran sok-sok ngasih ceramah dan ngajarin ngaji. Nggak pernah sekolah kedokteran sok-sok ngomongin dunia medis. Ini kan bahaya. Sangat berpotensi menjerumuskan. Atau kayak jomblo yang sok-sok ngasih nasihat sama pengantin baru gitu, hahaha.”

“Istilah kerennya, dunning krugger effect. Yang nggak tahu banyak, justru bicaranya paling banyak, dan suaranya paling lantang.” Sebatang kretek sudah tandas di mulut Kang Salim.

“Semakin berilmu seseorang, dalam artian menyadari bahwa dia nggak punya ilmu kecuali dari Allah, maka bakal semakin rendah hati lah dia. Kata al-Ghazali, puncak tertinggi pengetahuan seseorang adalah ketika sampai pada pemahaman, ana la adri. Yaitu dia yang pada akhirnya tahu kalau satu-satunya yang dia tahu adalah bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Dia yang sadar bahwa ternyata lebih banyak yang dia nggak tahu selama ini.”

“Allahu Akbar,” gumam Misbah dengan kepala keliyengan.

*Rujukan; Terjemah Fihi Ma Fihi (Jalaluddin Rumi)

BACA JUGA Perkara yang Membuat Sebagian Orang Abangan Nggak Respek Sama Kiai (1) dan tulisan Aly Reza lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 17 Juli 2020 oleh

Tags: ceramahJalaluddin RumiMasjidnabiteladan nabiulamaUstaz
Aly Reza

Aly Reza

Muchamad Aly Reza, kelahiran Rembang, Jawa Tengah. Penulis lepas. Bisa disapa di IG: aly_reza16 atau Email: [email protected]

ArtikelTerkait

Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan

11 Mei 2020
4 Keanehan para Ulama di Film Horor Indonesia Terminal Mojok.co

4 Keanehan para Ulama di Film Horor Indonesia

11 April 2022
donasi infak masjid infaq saweran dangdut urunan dangdutan konser dangdut mojok.co

Alasan Sebagian Orang Desa Saya Lebih Nyah-Nyoh Iuran Konser Dangdut ketimbang Infak Masjid

1 Juni 2020
Tradisi Kupatan sebagai Tanda Berakhirnya Hari Lebaran Masa Lalu Kelam Takbir Keliling di Desa Saya Sunah Idul Fitri Itu Nggak Cuma Pakai Baju Baru, loh! Hal-hal yang Dapat Kita Pelajari dari Langgengnya Serial “Para Pencari Tuhan” Dilema Mudik Tahun Ini yang Nggak Cuma Urusan Tradisi Sepi Job Akibat Pandemi, Pemuka Agama Disantuni Beragama di Tengah Pandemi: Jangan Egois Kita Mudah Tersinggung, karena Kita Mayoritas Ramadan Tahun Ini, Kita Sudah Belajar Apa? Sulitnya Memilih Mode Jilbab yang Bebas Stigma Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Kenapa Kita Sulit Menerima Perbedaan di Media Sosial? Masjid Nabawi: Contoh Masjid yang Ramah Perempuan Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan Campaign #WeShouldAlwaysBeKind di Instagram dan Adab Silaturahmi yang Nggak Bikin GR Tarawih di Rumah: Ibadah Sekaligus Muamalah Ramadan dan Pandemi = Peningkatan Kriminalitas? Memetik Pesan Kemanusiaan dari Serial Drama: The World of the Married Mungkinkah Ramadan Menjadi Momen yang Inklusif? Beratnya Menjalani Puasa Saat Istihadhah Menghitung Pengeluaran Kita Kalau Buka Puasa “Sederhana” di Mekkah Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Kenapa Saf Tarawih Makin Maju Jelang Akhir Ramadan? Apakah Menutup Warung Makan Akan Meningkatkan Kualitas Puasa Kita? Mengenang Serunya Mengisi Buku Catatan Ramadan Saat SD Belajar Berpuasa dari Pandemi Corona Perlu Diingat: Yang Lebih Arab, Bukan Berarti Lebih Alim Nonton Mukbang Saat Puasa, Bolehkah? Semoga Iklan Bumbu Dapur Edisi Ramadan Tahun Ini yang Masak Nggak Cuma Ibu

Surat Cinta untuk Masjid yang Tidak Ramah Perempuan

10 Mei 2020
Punya Kawan Marbot Masjid Adalah Kemewahan Paling Mudah, Murah, plus Berkah terminal mojok.co

Punya Kawan Marbot Masjid Adalah Kemewahan Paling Mudah, Murah, plus Berkah

30 Januari 2021
Benarkah Salat Jumat Bikin Ganteng dan Wudu Bikin Wajah Glowing?

Lima Karakteristik Jamaah Salat Tarawih yang Pernah Saya Temui

2 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kecamatan Antapani Bandung Menang Mewah, tapi Gak Terurus (Unsplash)

Kecamatan Antapani Bandung, Sebuah Tempat yang Indah sekaligus Rapuh, Nyaman sekaligus Macet, Niatnya Modern tapi Nggak Terurus

5 April 2026
5 Alasan yang Membuat Saya Ingin Balik ke Pantai Menganti Kebumen Lagi dan Lagi Mojok.co

Jalan-jalan ke Pantai saat Libur Panjang Adalah Pilihan yang Buruk, Hanya Dapat Capek Saja di Perjalanan

1 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Unpopular Opinion, Mojokerto Adalah Kota Paling Layak untuk Hidup Bahagia Sampai Tua Mojok.co

Mojokerto, Kota yang Tak Pernah Move On dari Masa Lalunya dan Tak Bisa Lepas dari Apa-apa yang Berbau Majapahit

2 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

Bontang Naik Level: Dulu Cari Hiburan Susah, Sekarang Bingung karena Kebanyakan Tempat

1 April 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Lulusan Farmasi PTS Jogja Bayar Mahal untuk Wisuda, tapi Gagal Foto Keluarga karena Ayah Harus Dirawat di Rumah Sakit Jiwa
  • Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak
  • Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial
  • Terpaksa Kuliah di Jurusan yang Tak Diinginkan karena Tuntutan Beasiswa, 4 Tahun Penuh Derita tapi Mendapatkan Hikmah Setelah Lulus
  • Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer
  • Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.