Drama-drama yang Saya Nantikan di 'Masterchef Indonesia' Musim Delapan – Terminal Mojok

Drama-drama yang Saya Nantikan di ‘Masterchef Indonesia’ Musim Delapan

Featured

Menonton Masterchef Indonesia itu menjadi asyik karena banyak drama di sana. Kalau acaranya hanya kompetisi masak, walah, pasti saya sudah skip dari lama. Apa serunya hanya melihat orang-orang masak dan dikomentari ketiga juri? Tentu ratingnya bakal turun, dan otomatis nggak akan banyak sponsor masuk, dong. Dalam kasus Masterchef Indonesia Musim Delapan, Lemonilo sebagai sponsor agung, tentu akan kecewa jika rating jeblok hanya karena kekurangan drama.

Untungnya sejak musim kedelapan dimulai, sudah banyak hal menarik yang terjadi. Mulai dari potongan rambut Chef Juna yang baru—setiap musim saya selalu penasaran seperti apa rambut Chef Juna, kisah peserta yang putus sekolah karena di-bully dan kini berjualan roti, tragedi piring terbang, dan masih banyak lainnya. Maka dari itu, agar musim ini semakin menarik, saya memiliki harapan besar tentang drama-drama keren yang akan terjadi. Berikut daftar drama yang saya harapkan.

#1 Gimmick kurangi waktu masak

Adi, petani cabai asal Tanah Datar, sempat menghebohkan Gallery Masterchef Indonesia karena merasa waktu memasak terlalu panjang. Saat ada tantangan memasak bubur, ketiga juri memberi waktu peserta selama enam puluh menit, dan secara ajaib, Adi nyeletuk, “Too long!” yang saat menontonnya, saya kira dia bilang, “Tulung!”

Akhirnya para juri yang kesal mengabulkan permintaan Adi dan memangkas waktu memasak menjadi 45 menit. Seketika semua peserta geger dan menyalahkan Adi yang hanya prengas-prenges tak berdosa.

Baca Juga:  Nussa Pakai Baju Kurta karena Bajunya Praktis buat Anak Muslim Aktif

Saya, nggak bisa nggak, merasa bahwa itu adalah drama yang dibuat-buat. Kok rasanya memang sudah di-setting biar Adi yang tengil itu minta waktunya dikurangi biar acara menjadi greget. Soalnya, sepanjang episode itu, kalau nggak ada insiden pemotongan waktu, acaranya akan flat-flat saja tanpa gejolak konflik. Jadi, saya menduga bahwa sejak awal waktu memasak bubur memang hanya 45 menit, dan yang tahu mengenai hal tersebut hanyalah para juri, Adi, dan para kru. Peserta lain nggak tau, biar kekagetan dan kekesalan mereka tampak natural di kamera.

Tetapi nyatanya, saya—pun kalian tentunya—menikmati drama itu, bukan? Makanya, saya berharap drama kayak gini bakal ada lagi di episode-episode mendatang, dan kalau bisa lebih ekstrim. Semisal ada tantangan bikin sop buntut brontosaurus dengan waktu masak enam puluh menit, terus ada yang nyeletuk “too long” lagi, maka Chef Juna bakal langsung hitung mundur, “Waktu kalian tinggal, lima, empat, tiga, dua, satu.”

Auto preassure test semua nggak, tuh.

#2 Makin banyak piring terbang

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Masterchef Indonesia, Chef Juna melempar piring sampai pecah berserakan. Ini adalah hal baru yang sangat positif untuk menaikkan rating. Kalau ada yang bilang galaknya Chef Juna mulai luntur, aksi lempar piring bisa membuktikan bahwa Chef Juna belumlah habis. Dia masih garang dan para peserta tetap harus berhati-hati jika berhubungan dengannya.

Baca Juga:  Sejarah Drama Korea: dari Pentas di Media Terbatas hingga Meraih Popularitas 

Kelakuan Chef Juna ini saya harap akan menular ke chef lain juga. Chef Arnold sudah beberapa kali mengingatkan peserta agar mengelap piring sampai bersih. Pasalnya, kalau nggak, dia yang akan melakukan aksi lempar piring berikutnya. Nah, ini yang saya tunggu. Saya berharap agar para peserta nggak mengelap bersih piring agar terjadi aksi lempar piring berkali-kali. Nanti karena nggak mau kalah dengan para lelaki, Chef Renatta juga bakal meneruskan legacy melempar piring tersebut. Ya nggak pas aja kalau dua juri sudah lempar piring, kok ada satu yang nggak.

#3 Romansa antar peserta

Sudah ada tanda-tanda romansa di Masterchef Indonesia Musim Delapan. Itu adalah antara Bryan dan Nadya. Benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua, dan saya harap hubungan mereka akan semakin serius. Kalau bisa sampai level bucin maksimal, deh. Semisal kalau piringnya Nadya dilempar sama Chef Renatta, karena merasa harus sehati dan sependeritaan, Bryan yang nggak dipanggil ke depan auto melempar piringnya sendiri.

Atau semisal lihat Nadya yang kesusahan masak dan berpotensi masuk preassure test, Bryan sengaja menurunkan skill memasaknya agar bisa masuk preassure test bareng. Duh, romantis sekali.

Yang akan menjadi dilema adalah jika ternyata mereka berdua masuk grand final. Pas mau ada pengumuman pemenang, mereka akan rebutan dan saling tunjuk siapa pemenangnya.

Baca Juga:  Penelitian: Diksi Berita Kerap Menormalisasi Kekerasan Seksual pada Perempuan

Bryan: Kamu saja yang menang.

Nadya: Nggak, kamu saja.

Bryan: Kalau kamu yang menang, aku ikutan seneng.

Nadya: Pokoknya kamu saja yang menang.

Bryan: Kamu.

Nadya: Kamu.

Bryan: Kamuuu.

Sumber Gambar: YouTube Mikasa

BACA JUGA Yang Tidak Dimasak Ketika Memasak di MasterChef Indonesia dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.