Yang Tidak Dimasak Ketika Memasak di MasterChef Indonesia – Terminal Mojok

Yang Tidak Dimasak Ketika Memasak di MasterChef Indonesia

Artikel

Sejak menikah 3 tahun yang lalu, saya jadi tahu kalau istri saya sebenarnya suka sekali dengan banyak acara pencarian bakat di televisi. Untung saja salah satu di antaranya tidak ada acara dangdut yang ditayangkan hampir setiap hari. Acara yang ditayangkan hingga tengah malam dan justru lebih banyak penampilan juri, host, dan bintang tamu settingan, ketimbang talenta cengkok dangdut sungguhan.

Ajang pencarian bakat yang selalu ditunggu istri saya setiap weekend adalah MasterChef Indonesia. Dan baru saja saya mulai lelah, eh maksudnya selesai menemani istri saya menonton MasterChef Indonesia 2020. Di akhir pekan bulan Oktober yang mulai basah karena hujan ini. Luar biasa sendu suasananya, sejenak bisa lupa dengan tragedi penanganan pandemi dan bakar-bakaran setelah demo RUU pemakan segala.

Judul tulisannya, kaya kenal? Saya memang salah satu penikmat film dark comedy, makanya film-film yang ada Mouly Surya-nya tentu pernah juga saya lahap habis. Mulai Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak hingga Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta. Sebagai dosen dan papa muda, saya mesti banyak mempelajari tayangan parenting untuk memastikan cara yang tepat dalam menghadapi anak perempuan saya, bukan?

Akan tetapi, sebagai akademisi yang empat tahun lebih di jenjang sarjana ditambah dua tahun lebih di masa S-2 bergulat dalam dunia teknologi pangan, saya boleh dong menulis komentar saya tentang acara masak-masak yang paling awet selama 9 tahun belakangan ini? Ya, meskipun semua orang tahu kalau jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan bukan kuliah yang isinya masak-masak doang. 

MasterChef Indonesia sudah ada sejak 2011, sampai sekarang sudah ada tujuh season, dan kalau saya tidak salah riset, total ada 172 peserta dari berbagai kalangan dan latar belakang pekerjaan. Program televisi ini telah melalui banyak suka duka, mulai dari rambut chef Juna pendek hingga kini gondes gondrong. Hingga chef Marinka yang memang harus diganti karena menikah, menjadi Renata yang tatonya sungguh luar biasa.

MasterChef juga bisa digolongkan acara TV berprestasi karena pernah memenangkan tiga kali Panasonic Gobel Award dengan kategori Program Pencarian Bakat, dan satu kali Indonesian Television Award dengan kategori Program Akhir Pekan Terpopuler. Ya, meskipun saya tidak setuju kalau memasak dimasukkan dalam jenis bakat. Menurut saya mestinya kategori penghargaan yang lebih tepat adalah Program Pencarian Keterampilan dan Keahlian.

Di luar semua itu saya yakin kalian para otaku cukup senang karena akhirnya RCTI memberikan ruang kepada salah satu otaku berprestasi: Arnold Poernomo. Ya, dia golongan kalian, chef yang kerap kali menonton Shokugeki no Sōma dan dengan brilian menjadikannya konten YouTube bertajuk Shokugeki no Arnold. Terdengar wagu sih, tapi ya so-so lah. Jadi, apa sih yang tidak dimasak ketika memasak di MasterChef Indonesia?

Sebagai dosen pangan, saya merasa bahwa MasterChef mestinya lebih banyak lagi mengeksplorasi sisi ilmu dan teknologi pangan dalam konsep, bahan makanan, dan jenis hidangan yang disajikan. Lantaran itulah saya telah membulatkan tekad kalau beberapa masakan di bawah ini pasti akan saya coba masak jika saya bisa masuk menjadi salah satu finalis MasterChef Indonesia. Istri saya yang berumur 26 tahun dan anak saya yang berumur 10 bulan saksinya.

#1 Bratwurst beef dengan sauerkraut merah putih

Sebagai anak bumiputera Indonesia, saya tentu akan menonjolkan bahan dan konsep khas Nusantara sebagai identitas masakan saya. Sosis sapi jumbo berbahan daging sapi bali dengan edible coating kitosan yang berasal dari kulit udang akan saya buat. Dilengkapi kol merah putih fermentasi berhari-hari dalam kulkas dua pintu. Hasil pemikiran keilmuan teknologi pengemasan dan teknologi fermentasi yang saya pelajari ketika kuliah teknologi pangan.

#2 Nasi goreng ungu dengan aroma cokelat dan kopi

Saya yakin para pengabdi nasi di Indonesia telah terbiasa dengan beras organik dan beras merah hitam. Tapi siapa kira ada beras ungu? Kalau beras kuning dalam bentuk beras analog berbahan jagung saja ada, maka tidak ada yang mustahil dari beras ungu berbahan dasar ubi ungu. RCTI hanya perlu menyiapkan ekstruder berteknologi tinggi agar beras ungu yang dihasilkan optimal dan maksimal dari segi bentuk, tekstur, dan rasanya.

Lalu bagaimana menambahkan aroma flavor kopi dan cokelat? Jalan panjang penelitian para dosen flavor tidak akan sia-sia dan akhirnya bisa juga ditayangkan di televisi ternama. Solid phase microextraction (SPME) jadi metode jitu untuk menangkap aroma kopi dan kakao. Tentu saja dalam skala yang lebih besar dibutuhkan alat steam distillation dan perlu di-freeze dried atau spray dried untuk memastikan kualitas ekstrak aroma kopi dan kakao tetap terjaga. Mata kuliah satop, teknologi karbo, dan flavor berguna di sini.

#3 Puding porang dan blue yogurt

Kalau kalian tahu mie shirataki tapi tidak sadar bahwa tepung glukomanan konjac sebagai bahan dasarnya dihasilkan dari umbi iles-iles yang lagi naik daun itu, tidak apa-apa. Wajar saja kalau “yang penting enak” adalah kredo hidup kalian. Porang atau iles-iles memang awalnya hanya tanaman liar, tapi kini telah dibudidayakan di mana-mana. Untuk apa? Kemaslahatan rakyat Indonesia? Tidak dong, ekspor-lah, cuan tetap tuhan nomor satu.

Karakteristik glukomanan yang bisa dijadikan pengental, kaya serat, dan berindeks glikemik rendah dihasilkan dari serangkaian proses berteknologi khusus. Tentunya, ini telah dipatenkan oleh beberapa profesor pangan di beberapa universitas negeri terkemuka yang ada jurusan teknologi pangannya. Jadi, ya rakyat harus bayar agar bisa menggunakan prosedur dan metode pembuatan tepung serupa. Untunglah bos MNC yang akan membayar paten tersebut supaya bisa digunakan di acara MasterChef.

Lalu yogurt biru, bisa dibuat dengan fermentasi susu sapi, kambing, kerbau, atau bahkan kuda liar, dengan penambahan ekstrak bunga telang yang terkenal itu. Tidak tahu? Ya sekali ini saja Googling lah, sudah hampir 1000 kata dan belum selesai juga nih tulisannya. Singkat cerita, sajian dessert ini selain nikmat, cocok sekali sebagai asupan diet: puding tinggi serat dan prebiotik kaya manfaat.

Oke, sampai di sini dulu pembahasan tentang teknologi pangannya, masih banyak aspek yang sebenarnya ingin saya ungkap tapi tidak tega pada kalian. Misalnya, resistant starch, sprague dawley dan streptozotocin, bioavailabilitas, glikogenolisis, hingga lactose intolerant. Belum lagi soal HACCP, ISO, sampai titik kritis pangan halal. Ah, sudahlah.

Nah, setelah ini karena RCTI sudah terlanjur membeli banyak alat berteknologi tinggi dalam bidang teknologi pangan, barangkali saya akan direkrut sebagai ketua program studi baru Teknologi dan Bisnis Makanan di MNC Business College atau STIE MNC. Saya tunggu chat WA-nya pak HT.

BACA JUGA Formasi Juri MasterChef Indonesia Musim 5 Sampai 7 Itu Sangat Berantakan.

Baca Juga:  Jangan-Jangan Jurusan Pendidikan Cuma Dijadiin Hiasan Doang di Kampus

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.