Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Drama Bahasa Jawa dan Madura di Keluarga Besar Saya

Furhatul Khoiroh Amin oleh Furhatul Khoiroh Amin
13 Agustus 2019
A A
madura

madura

Share on FacebookShare on Twitter

Psstt… Ini beneran kisah nyata lo.
Namaku Khoir, tinggal di Kota Probolinggo. Eitss, jangan salah sangka dengan nama tempat tinggal saya yang berawalan kata ‘Kota’. Sumpah deh, tahun lalu, sinyal Indosat aja ngadat. Sampai saya yang penggemar unlimited-nya Indosat harus rela mati-matian nyari sinyal—goyangin hp, berjalan sana-sini, cuma buat ngirim pesan WhatsApp yang isinya ‘Y’.

Padahal udah make handphone Android canggih men. Yah, persis seperti tinggal di pedalaman gitu. Itulah kotaku terzeyenk. Oke, itu tahun lalu, sekarang? Saya sudah ganti kartu yang lebih mendukung untuk membalas pesan WhatsApp ‘Y’ sambil duduk selonjoran.

Jadi, kalau perkenalan waktu dulu masa aliyah mondok di Kabupaten Probolinggo—fyi, Probolinggo ada kota dan kabupaten ya. Saat ditanya ustaz, “Kamu asalnya dari mana?” lalu saya jawab, “dari Probolinggo, ustaz”—malu nambahin kata kota. “Probolinggonya mana?”, ”Kedopok, ustaz”, “Kota ya?”, “Iya, ustaz”—Kedopok adalah nama kecamatan tempat saya tinggal.

Setelah itu, pasti temen-temen nge-ciye-in. “Ciyeee, yang orang kota”. Maklum, mereka kan dari desa di kabupaten semua. Saya cuma tersenyum meringis, hingga suatu saat mereka tahu ‘Kota Probolinggo’ saya itu seperti apa. Hihi

Tapi, jangan cap keseluruhan Kota Probolinggo seperti yang saya ceritakan ya. Sinyal enak kok kalau kamu pergi ke alun-alun kota. Ada WiFi gratis juga lo, meskipun nggak bisa nyambung. Yah, anggap saja yang kurang beruntung. Mari kita stop pembahasan tentang kota—kita simpulkan saja, saya tinggal di pinggiran kota.

Kota Probolinggo terdiri dari masyarakat billingual. Bukan bahasa Inggris dan Indonesia ya. Tapi, Bahasa Jawa dan Madura. Kalau kalian ke Kota Probolinggo—ngomong aja dua bahasa itu, mayoritas pasti bisa diajak berbicara. Bahkan saya sampai sekarang masih bingung, kami orang Jawa atau Madura ya?

Kalau desa (secara sosial bukan administratif) tempat saya tinggal, bahasa utama yang dipakai adalah bahasa Madura. Tapi mereka bisa ngomong Jawa juga lo. Sedangkan di keluarga besar saya, bahasa utama yang dipakai adalah bahasa Jawa. Jadi, saya berbahasa Jawa di tengah masyarakat berbahasa Madura. Tapi, keluarga saya juga bisa ngomong Madura kok—bahkan sangat lancar. Yah, nggak mungkin lingkungan nggak berpengaruh kan?

Eh, sebetulnya kalau dipikir-pikir lagi, bahasa utama keluarga besar saya bukan Jawa sih. Lebih tepatnya Jawa dan Madura. Aturan tidak tertulis dalam hal berbahasa keluarga besar saya adalah pertama, jika kamu berbicara dengan yang seumuran dan sudah akrab atau yang lebih muda dari kamu, kamu bisa ngomong Madura. Tapi, kalau kamu bicara dengan orang yang lebih tua, gunakanlah bahasa Jawa.
Btw, Bahasa Madura dan Jawa yang kami gunakan adalah Bahasa Jawa dan Madura versi kasar. Jadi, kalau keluarga kalian yang orang Jawa ada tingkatan bahasa Jawa yaitu Ngoko, Krama Madya, Krama Inggil. Begitupun keluarga kalian yang orang Madura. Maka, di keluarga saya tingkatannya ada dua yaitu Madura dan Jawa—saya bukan bermaksud merendahkan atau mengunggulkan salah satunya yhaaa. Tapi ini realita di keluarga saya, zeyenk.

Baca Juga:

Nasib Orang Surabaya di Gresik: Bertahan Hidup di Tengah Matinya PDAM dan Ganasnya Sistem Inden SD

Lontong Kupang Makanan Jawa Timur Paling Red, tapi Anehnya Banyak yang Suka

Dan interaksi yang paling lucu, jika orang yang lebih tua berbicara menggunakan bahasa Madura, maka yang lebih muda membalas dengan bahasa Jawa. Meskipun bahasa yang digunakan tingkatan bawah semua.

‘Ir, deri dimmah?’ (Md: Ir, dari mana?)
‘Teko pasar, Bu.’ (Jw: Dari pasar, Bu.)
‘Bedeh jukok beddus ning dissah?’ (Md: ada ‘ikan’ kambing di sana?)
“Onok bu, tapi larang.’ (Jw: ada tapi mahal.)

Jadi, kalau kalian melihat interaksi di keluarga saya yang menggunakan Bahasa Jawa Ngoko meskipun berbicara ke yang lebih tua, janganlah salah paham itu kasar. Itu adalah rasa Krama Inggil dalam keluarga saya. Itu semua tentang rasa zeyenk. Bahkan ke orang tua, saya menggunakan kata ‘sampeyan’ untuk mengganti kata kamu, yang menurut Jawa (kebanyakan) itu kasar—dan saya baru tahu hal ini sejak kuliah di Semarang. Tapi, sudah saya tingkatkan kok dalam perkataan njeh, mboten, dalem sejak saya mondok. hehe
Kadang kalau saya mikir, kok bagus kayaknya dijadikan judul skripsi ya. Sayangnya saya bukan jurusan ilmu kebahasaan. Huh  (*)

 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) yang dibikin untuk mewadahi sobat julid dan (((insan kreatif))) untuk menulis tentang apa pun. Jadi, kalau kamu punya ide yang mengendap di kepala, cerita unik yang ingin disampaikan kepada publik, nyinyiran yang menuntut untuk dighibahkan bersama khalayak, segera kirim naskah tulisanmu pakai cara ini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2022 oleh

Tags: Bahasa Jawabahasa maduraBudaya Indonesiajawa timurKearifan Lokalprobolinggo
Furhatul Khoiroh Amin

Furhatul Khoiroh Amin

ArtikelTerkait

Ironi Mahasiswa Rantau di Surabaya: Musim Kemarau Kepanasan, Musim Hujan Kebanjiran

Ironi Mahasiswa Rantau di Surabaya: Musim Kemarau Kepanasan, Musim Hujan Kebanjiran

8 Desember 2023
7 Bebek Goreng Paling Enak dan Populer di Surabaya Terminal Mojok

7 Bebek Goreng Paling Enak dan Populer di Surabaya

15 September 2022
Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Minuman Keras (Unsplash)

Surat Terbuka untuk Bupati Banyuwangi Terkait Izin Penjualan Miras di Tempat Wisata

12 Juni 2023
5 Daerah Penghasil Rujak Cingur Terenak di Jawa Timur terminal mojok.co

5 Daerah Penghasil Rujak Cingur Terenak di Jawa Timur

7 Desember 2021
Alasan Orang Surabaya seperti Saya Ogah Liburan ke Malang

Alasan Orang Surabaya seperti Saya Ogah Liburan ke Malang

25 Oktober 2024
Kawah Ijen via Banyuwangi: Jalur Red Flag yang Mengancam Pengendara

Kawah Ijen via Banyuwangi: Jalur Red Flag yang Mengancam Pengendara

8 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Normalisasi Utang Koperasi Kantor demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah seperti Keluarga

18 Maret 2026
Honda Spacy: “Produk Gagal” Honda yang Kini Justru Diburu Anak Muda

13 Tahun Bersama Honda Spacy: Motor yang Tak Pernah Rewel, sekaligus Pengingat Momen Bersama Almarhum Bapak

18 Maret 2026
Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial Mojok.co

Toyota Avanza Sering Dihina, padahal Mobil Paling Ideal untuk Keluarga Kelas Menengah yang Ingin Sehat Finansial

16 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Lotek Khas Solo Bikin Pencinta Lotek Asal Jogja Culture Shock

Lotek Adalah Kuliner Favorit Warga Jogja yang Lebih Janggal dan Lebih Ganjil daripada Gudeg

20 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan
  • Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia
  • Ujian Pemudik Lajang: Jadi Sasaran Pinjam Uang karena Belum Nikah dan Dianggap Tak Ada Tanggungan, Giliran Nolak Dicap Pelit
  • Rasa Sanga (8): Lontong dan Kangkung dalam Khazanah Suluk Sunan Bonang, Jalan “Merasakan” Kehadiran Tuhan
  • Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya
  • Makna Pulang yang Saya Temukan Setelah Mudik Motoran dengan NMAX Tangerang–Magelang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.