Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Bingungnya Penutur Bahasa Jawa Memilih Panggilan

Dicky Setyawan oleh Dicky Setyawan
27 Desember 2020
A A
Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Dalam masa-masa mempersatukan pemuda Indonesia jelang kongres “Sumpah Pemuda”, sempat ramai usulan menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa persatuan. Usulan yang ditolak banyak tokoh, termasuk Bung Karno yang notabene juga  orang Jawa. Pasalnya, bahasa Jawa itu terlalu kompleks, sukar dimengerti kalau dijadikan bahasa nasional, sama seperti kebingungan yang saya rasakan sebagai orang Jawa saat jagong di hajatan pernikahan yang biasanya menggunakan bahasa Jawa krama inggil. Bahasa nasional akhirnya ditetapkan, dengan menggunakan bahasa Melayu-Riau. 

Pada perkembangannya, dalam pergaulan lintas daerah, orang Jawa sendiri justru sering menjadi korban kekakuan dari bahasa yang sebenarnya mudah dimengerti ini. Orang Jawa tidak sebiasa sebagian orang Sumatra dengan Melayunya, atau Jakarta dengan bahasa Indonesia gaya Betawinya. Pun orang Jawa Barat yang memiliki kedekatan dengan Jakarta atau orang Indonesia timur yang dipaksa survive dari banyaknya bahasa lokal mereka sehingga menciptakan gaya bahasa Indonesianya sendiri sebagai bahasa pemersatu, bahkan untuk lingkup satu daerah. 

ADVERTISEMENT

Orang Jawa terjebak pada zona nyaman, menggunakan bahasa Jawa dalam keseharian, toh mayoritas penduduk negara ini juga orang Jawa, keluar daerah pun mudah menemukan orang Jawa. Ketidakdekatan secara langsung dengan bahasa Indonesia, membuat orang Jawa sering kebingungan dalam berkomunikasi dengan kawan lintas daerah. Masalah muncul saat orang Jawa kedapatan menggunakan bahasa Indonesia, cap sok-sokan hingga kemayu dari sesama orang Jawa pun menjadi anggapan yang lumrah. Padahal bahasa nasional, loh. Tapi, begitulah realitasnya.

Penggunaan bahasa Indonesia yang minim dalam keseharian terutama dianugerahi dengan suara medok, menambah kebingungan itu. Masalah yang paling lumrah dialami orang Jawa adalah pemilihan antara: aku, gue, saya atau kamu, kau, Anda, dan lo.

Pertama adalah keputusan orang Jawa memilih “gue” dan “lo”. Keputusan ini sering diambil terutama ketika bertemu dengan teman Jakartanan, pemilihan yang dimaksudkan agar merasa tak berjarak ini, justru menimbulkan berbagai anggapan dari orang lain, terutama dari sesama orang Jawa. Bahkan “gue” dan “lo” sering dicap sebagai level kemayu tertinggi terhadap orang Jawa. Pun orang luar Jawa dan orang Jawa sendiri kadang merasa risih dengan bahasa yang umum dipakai orang Jawa bagian barat ini bercampur dengan nada medok. Sekalipun lancar dengan melunturkan sedikit kemedokan itu, barangkali cap kemayu juga masih ada.

Kemudian pemilihan “aku” dan “kamu”. Sebuah kata yang terdengar netral, tapi kadang malah dianggap terlalu manis atau terlalu intim. Orang luar Jawa sering menyinggung keputusan orang Jawa memilih kata “aku” dan “kamu” dalam keseharian dengan celoteh, “Kayak orang pacaran saja.” Saya pun mengakui, pemilihan “aku, kamu” dengan suara orang Jawa yang khas memang kadang tidak relevan digunakan dalam pergaulan, kadang malah terdengar kelewat adem. Padahal pemilihan ini dimaksudkan menghindari anggapan sok-sokan dan kemayu tersebut.

Kemudian masih ada “saya” dan “Anda”. Kembali lagi, kata ini dianggap terlalu sopan, terutama dengan suara memelas orang Jawa. Saya sendiri kadang iri dengan orang Indonesia timur yang fasih menggunakan kata ini (saya/sa). Pun demikian dengan “Anda” yang kadang terlalu berlebihan jika digunakan dalam pergaulan.

Tapi, sejujurnya anggapan itu perlahan mulai luntur, untuk ini saya harus berterima kasih untuk beberapa figur publik, misalnya Coki-Muslim yang sering menggunakan kata “saya” dan “Anda” sebagai bahasa yang asyik dalam pergaulan. Malah kata yang harusnya terdengar sangat formal ini, kini dalam pergaulan identik dengan kata yang mengantarkan pada suatu joke. Ya, tapi kalau untuk obrolan biasa kadang tetap masih kurang worth it, sih.

Baca Juga:

Derita orang Bojonegoro yang selalu jadi bahan bullying ketika nongkrong gara-gara bahasa yang dianggap aneh

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

Kemudian ada “kau” yang lumrah saya dengar terucap dari orang pulau Sumatra dan Indonesia Timur. Lagi-lagi, nampaknya suara orang Jawa yang medok saat melafalkan ini malah terdengar terlalu adem, alias kurang lantang. Lebih lagi ada orang Jawa yang beranggapan “kau” kadang dinilai terlalu kasar. 

Yah, sebuah masalah kompleks yang sebenarnya hanya permasalahan sederhana. Pemilihan kata untuk mengantarkan pada suatu kalimat pun, dan sampai saat ini masih belum ditemukan rumus terbaiknya. Sebagai salah satu orang yang kebingungan tersebut, saya sering mengkombinasikannya, atau ngalah menyesuaikan dengan lawan bicara. Dipenakne mawon, lah, Lur.

BACA JUGA 3 Buku yang Harusnya Disita karena Berbahaya dan tulisan Dicky Setyawan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 25 Desember 2020 oleh

Tags: Bahasa Jawaorang jawa
Dicky Setyawan

Dicky Setyawan

Pemuda asal Boyolali. Suka menulis dan suka teh kampul.

ArtikelTerkait

Hargai Orang yang Belajar Bahasa Jawa, dong. Jangan Sedikit-sedikit Dibilang Nggak Pantas terminal mojok.co

Panduan Dasar Bahasa Jawa yang Solo Banget

11 Desember 2020
Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

Serba Salah Orang Jawa yang Lahir dan Besar di Sumatra: Mengaku Jawa Ribet, Mengaku Sumatra Nggak Dipercaya

25 Juli 2025
Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

Kesulitan Bocah Jawa Suroboyoan Belajar Bahasa Jawa di Sekolah

10 Januari 2023
menebak kepribadian orang jogja berhati nyaman romantisasi jogja mojok.co

Menebak Kepribadian Orang Jogja karena Mereka Suka Menganggukkan Kepala

26 Agustus 2020
Suka Duka Punya Pacar yang Nggak Hafal Arah Mata Angin Ngalor, Ngidul, Ngetan, lan Ngulon Terminal Mojok

Suka Duka Punya Pacar yang Nggak Hafal Arah Mata Angin Ngalor, Ngidul, Ngetan, lan Ngulon

21 Januari 2021
8 Istilah Bahasa Jawa yang Orang Jawa Sendiri Salah Paham (Unsplash)

8 Istilah Bahasa Jawa yang Masih Bikin Sesama Orang Jawa Salah Paham

18 Januari 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

19 Agustus 2026
Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku Mojok.co

Presiden benar, pendapatan ojol naik hingga 3 kali lipat, tapi syarat dan ketentuan berlaku

18 Agustus 2026
Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima Mojok.co

Jelajah kuliner Pasar Gedhe Klaten: pengalaman menikmati segarnya dawet uyup, nikmatnya soto bening, hingga western food kaki lima

18 Agustus 2026
Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

Cengkareng, tempat kumpul banjir, macet, lawan arah, dan kekacauan

22 Agustus 2026
KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar Mojok.co

KUA jangan cuma mengejar Gen Z untuk menikah, tolong kasih paham juga tetangga dan ortu yang hobi menghitung mahar

20 Agustus 2026
Kaza Mal Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi Mojok.co

Kaza Mall Surabaya memang nggak keren, tapi bukan berarti layak dilupakan dan nggak dikunjungi

19 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=vCYB_q60eug


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.