Doraemon Itu Nggak Lucu Blas. Seram Begitu kok Banyak Fans

Artikel

Gusti Aditya

Kucing adalah hewan paling lucu di muka Bumi ini. Tanpa terkecuali. Se-grumpy-grumpy-nya grumpy cat, di mata saya itu masih masuk dalam kategori lucu. Dan sekampung-kampungnya kucing kampung, masih lucu di mata saya. Apalagi kalau udah mencuri ikan tongkol tetangga saya. Lucunya berlipat-lipat. Tapi ada satu pengecualian, yakni Doraemon.

Sudah suaranya serak-serak basah macam Oli Sykes Bring Me the Horizon, jalan pakai dua kaki, dan yang paling nggateli itu nggak ada bulunya. Kucing jenis sphinx masih lucu di mata saya. Mata belonya apalagi. Tapi, ini lho robot kucing.

Coba bayangin ada kucing seperti ini lewat depan kompleks rumahmu. Misalkan lagi jogging, terus ada kucing modelan kayak jambu air warna biru lewat dan menyapa, “Jogging, Pak Haji?” Kaget nggak tuh Haji Sodiq? Ini Doraemon meong aja nakutin, apalagi kalau ngomong. Sealim-alimnya Haji Sodiq juga bakal ketakutan. Ya, siapa yang nggak bakal jringat, serem.

Lalu hobinya makan dorayaki. Oke, kucing liar itu memang doyan makan apa saja. Bahkan keripik singkong saja dijabanin karena saking laparnya. Tapi, Doraemon ini masuk kategori creepy karena doyannya makan makanan manusia. Kalau versi Indonesia, ada kucing yang hobi makan martabak dan selalu minta sama majikannya begini, “Nob, beliin martabak deket Pasar Giwangan, dong!” Ya ngeri.

Yang paling nggak habis pikir, Doraemon punya alat-alat canggih dari abad ke-22 dari kantongnya. Bukan, bukan dari perutnya, tapi dari kantong yang menempel di perut. Dia ditugaskan ke masa lalu oleh cucunya Nobita agar hidup Nobita lempeng-lempeng aja. Andai Nobita akan terjebak ke dunia narkotika, nah kehadiran Doraemon ini bakal meluruskannya. Ya, sebelas dua belas lah ya sama penasihat spiritual.

Hadirnya Doraemon memang membantu Nobita, tapi kepikiran nggak kalau harusnya dia membantu kehidupan Nobita agar tidak manja dengan membuka agen jasa? Ya, misalnya jasa perjalanan. Nobita ditugaskan jadi staf administrasi, Doraemon cukup siapkan pintu ke mana saja.

“Langsung masuk saja ya, Mas. Belok kanan habis itu putar balik ada pintu warna pink gambar kuda. Nah, Sumbawa Barat ada di sana.”

Kalau nggak Nobita disuruh pura-pura jadi anak indigo aja. Dia pakai pakaian serbahitam, berkeliling kompleks dan berteriak-teriak, “Besok hujan! Besok hujan! Siapkan mantel. Mau diramal peruntungan Anda esok hari? Hubungi Twitter alter milik saya!” Dari mana Nobita bisa meramal? Tentu dari mesin waktu Doraemon yang ada di laci meja belajar Nobita.

Opsi lainnya Nobita bisa buka objek wisata buat anak-anak sekitar atau teman-temannya. Pakai baling-baling bambu dan diajak muterin kompleks. Terbang itu barang mewah lho untuk era sekarang ini. Hanya bisa pakai transportasi yang relatif besar seperti pesawat. Kapan lagi kan bisa terbang hanya pakai alat yang ditempel di kepala?

Iya, paham kok, alat-alat yang ada di kantongnya Doraemon itu nggak murah. Dan denger-denger sih semua alat yang digunakan robot kucing itu dipantau “pemerintah”. Tapi kan daripada keluarin alat dengan sia-sia karena kecerobohan Nobita, mending alat-alatnya dijadikan sumber cuan. Menengok nilai akademik Nobita yang di bawah rata-rata, bisa lah Doraemon melihat celah bahwa majikannya ini masih ada peluang di bidang usaha.

Asalkan Nobita jangan menyalahgunakan keuntungan. Ntar dicap Doraemon abusive, kan bisa diserang sama SJW pembela Doraemon (semoga nasib saya nggak begitu, ya).

Yang bikin tambah kesel, ya, kucing yang satu ini selalu marah kalau disebut musang. Astaga, Doraemon, bahkan yang seharusnya layak marah itu si musang karena malu disama-samain sama kamu! Musang yang berbulu dan punya tubuh relatif lebih besar dari kucing ini juga termasuk hewan lucu menurut saya. Jika Doraemon disamakan dengan platipus, masih lucuan platipus.

Salah satu kenalan saya bilang, kucing paling barbar adalah kucing oren. Saya sampai diperlihatkan foto kebarbaran si oren. Saya pun hanya diam, menahan tawa sekaligus prihatin kepada teman saya. Nih ya, kalau mencakar kucing lain disebut barbar, terus masuk kategori apa kucing yang ngajak majikannya ke dunia dinosaurus?

Terus, kucing macam apa yang warnanya biru nyeter begitu? Adiknya, Dorami, masih mending berwarna kuning. Mungkin masih kerabatan dengan kucing oren. Tapi, ini biru lho, demi bibir Suneo, kucing apa nih? Sudah jalan dua kaki di tengah kompleks, pacarnya kucing normal yang jalan pakai empat kaki dan mengeong, warnanya biru pula.

Tapi, ada trivia yang sebetulnya nggak penting-penting banget untuk meluruskan asal-usul kenapa kucing robot ini berwarna biru. Doraemon itu mulanya berwarna kuning seperti Dorami. Lantas, ada seekor tikus— ini juga penyebab Doraemon takut tikus—yang memakan telinga Doraemon. Ia buru-buru mencari cairan penumbuh telinga. Ketika ia mengguyur badannya, cairan tersebut bukannya menumbuhkan telinga malah melunturkan catnya. Jadilah Doraemon kucing tanpa telinga dan berwarna biru.

Nggak, nggak ada yang aneh kok perihal Doraemon takut sama tikus. Banyak kucing di dunia ini yang takut sama tikus. Menganggap kucing selalu berani sama tikus itu adalah stereotipe mengerikan. Tapi, maaf-maaf saja, itu di kantongnya kan banyak alat, ya? Keluarin aja senter pengecil kan kelar tanpa harus teriak-teriak seperti rocker.

Tapi, yang membuat saya respek sama Doraemon adalah semangatnya. Ia ini adalah robot gagal yang dibuang ke lelang, kemudian diadopsi oleh Keluarga Sewashi. Keluarga ini adalah keturunan Nobita di abad ke-22. Dari segi cerita, penokohan dan lainnya, tidak mungkin saya meragukan Fujiko F. Fujio. 

Memang, membahas lucu atau tidaknya sebuah objek itu relatif. Saya pernah kaget ketika teman saya bilang bahwa boneka Chucky itu lucu. Makin nggak habis pikir ketika ada yang bilang bahwa Doraemon itu gemesin. Di zaman serbacanggih saat seekor kucing aja bisa punya akun Instagram, saya merasa aneh jika masih ada yang menganggap Doraemon yang bentuknya kayak bapak-bapak itu dibilang lucu alih-alih seram.

Tahu nggak, lucuan Mas Adam suaminya Mbak Inul, lho!

BACA JUGA 9 Lagu Band Pop Punk Indonesia yang Bisa Bikin Kamu Nangis Sambil Headbang dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Naik Bus Trans Kota Mengajarkan Kita tentang Kesabaran

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
31


Komentar

Comments are closed.